Menghargai Nikmat Dan Rezeki

banner 120x600

Sering kali manusia merasa hidupnya kurang, padahal Allah telah melimpahkan begitu banyak nikmat yang bahkan tidak mampu dihitung dengan angka. Ada orang yang diberi kesehatan namun merasa miskin, ada yang diberi pekerjaan tetapi terus merasa sempit, dan ada pula yang memiliki harta namun jiwanya tetap gelisah. Perasaan kurang itu bukan selalu karena sedikitnya rezeki, melainkan karena hati belum belajar bersyukur dan pikiran belum dilatih untuk menghargai nikmat yang telah ada.

Perasaan selalu kekurangan adalah penyakit hati yang pelan-pelan dapat menghilangkan ketenangan hidup. Ketika seseorang terus memandang hidup dari sisi yang belum dimiliki, maka ia akan lupa melihat karunia yang sudah Allah letakkan di sekelilingnya. Padahal Islam mengajarkan bahwa kekayaan sejati bukan terletak pada banyaknya harta, tetapi pada hati yang merasa cukup dan jiwa yang dipenuhi qana’ah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Nasihat untuk membuang pakaian lusuh, mengganti dompet yang usang, lalu membiasakan menyimpan sejumlah uang di dompet sesungguhnya dapat dipahami sebagai bentuk latihan mental agar seseorang tidak terus hidup dalam rasa sempit. Islam mengajarkan kebersihan, kerapian, dan kemuliaan diri. Bukan untuk pamer, tetapi agar manusia menjaga martabatnya sebagai hamba Allah.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ

“Wahai anak Adam, pakailah pakaian terbaik kalian setiap memasuki masjid.”
(QS. Al-A’raf: 31)

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam tidak menyukai penampilan yang sengaja dibuat kumuh dan tidak terurus. Menjaga penampilan yang baik termasuk bentuk syukur atas nikmat Allah. Ketika seseorang menghargai dirinya, ia juga sedang belajar menghargai rezeki yang Allah titipkan kepadanya.

BERITA TERKAIT  Keselamatan Dalam Menjaga Diri

Namun perlu dipahami, kekuatan utama bukan terletak pada dompet mahal atau uang yang disimpan, melainkan pada perubahan cara berpikir. Sebab sebanyak apa pun harta yang dimiliki, jika hati dipenuhi rasa takut miskin, maka hidup tetap terasa sempit. Sebaliknya, orang yang sederhana tetapi hatinya penuh syukur akan merasakan keluasan hidup.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

“Dan ketika Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian.”
(QS. Ibrahim: 7)

Bersyukur bukan hanya ucapan “alhamdulillah”, tetapi juga cara memperlakukan nikmat dengan baik. Orang yang menghargai uang tidak akan mudah boros. Orang yang menghargai makanan tidak akan membuang-buang rezeki. Orang yang menghargai waktu tidak akan menghabiskan hidupnya dalam kemalasan. Semua itu adalah bagian dari adab seorang mukmin.

Sering kali seseorang hidup impulsif karena hatinya kosong. Ia membeli banyak hal bukan karena kebutuhan, tetapi karena ingin menenangkan kegelisahan dirinya. Akibatnya uang selalu habis, lalu muncul lagi rasa takut dan kekurangan. Siklus itu terus berulang hingga hidup kehilangan keberkahan.

Padahal Rasulullah ﷺ mengajarkan sikap sederhana dan penuh kendali diri. Beliau bersabda:

ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ

“Bersikap zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu. Dan jangan berharap pada apa yang dimiliki manusia, niscaya manusia mencintaimu.”
(HR. Ibnu Majah)

BERITA TERKAIT  WARISAN KETELADANAN DARI SEORANG TEKNOKRAT

Zuhud bukan berarti membenci harta. Zuhud adalah ketika harta berada di tangan, bukan di hati. Islam tidak melarang seorang muslim menjadi kaya. Bahkan banyak sahabat Nabi yang kaya raya, tetapi kekayaan mereka dipakai untuk ibadah, sedekah, membantu sesama, dan memperjuangkan agama Allah.

Yang berbahaya bukan uangnya, melainkan jika hati diperbudak oleh rasa tidak pernah cukup. Sebab orang yang terus merasa kurang akan sulit tenang. Ia iri melihat kehidupan orang lain, gelisah mengejar pengakuan, dan akhirnya kehilangan rasa syukur.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ﴿١﴾ حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian masuk ke dalam kubur.”
(QS. At-Takatsur: 1-2)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa hidup bukan perlombaan siapa paling banyak memiliki, melainkan siapa yang paling baik dalam memanfaatkan nikmat. Sebab harta hanyalah titipan. Hari ini ada di tangan kita, esok bisa berpindah kepada orang lain.

Maka jika ingin hidup tidak selalu merasa kekurangan, mulailah dengan memperbaiki hati. Biasakan melihat nikmat sebelum melihat kekurangan. Belajarlah disiplin dalam mengelola uang. Hindari pemborosan yang tidak perlu. Rawat barang yang dimiliki dengan baik. Sisihkan sebagian rezeki untuk sedekah, karena sedekah tidak akan mengurangi harta.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

“Sedekah tidak akan mengurangi harta.”
(HR. Muslim)

Aneh memang menurut logika manusia, tetapi begitulah janji Allah. Orang yang gemar berbagi justru sering diberi jalan rezeki yang tidak disangka-sangka. Karena ketika hati tidak terlalu melekat pada dunia, Allah menghadirkan ketenangan yang nilainya jauh lebih mahal daripada harta.

BERITA TERKAIT  Takutlah Pada Matinya Hati

Hidup sederhana namun terhormat lebih indah daripada terlihat kaya tetapi penuh utang dan kegelisahan. Jangan ukur nilai diri dari isi rekening, sebab kemuliaan manusia di sisi Allah bukan karena hartanya, melainkan ketakwaannya.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)

Karena itu, rawatlah pikiran agar tidak selalu merasa miskin. Rawat hati agar tidak dipenuhi iri dan tamak. Dan rawat hubungan dengan Allah, sebab ketenangan sejati bukan datang dari banyaknya uang, tetapi dari keyakinan bahwa Allah selalu cukup bagi hamba-Nya yang bersandar kepada-Nya.

Ketika seseorang belajar menghargai rezeki sekecil apa pun, maka ia sedang membuka pintu keberkahan besar dalam hidupnya. Sebaliknya, ketika seseorang terus mengeluh dan meremehkan nikmat, maka sebanyak apa pun yang dimiliki akan terasa kurang. Maka mulailah hidup dengan syukur, kesederhanaan, disiplin, dan hati yang selalu yakin bahwa rezeki terbaik datang dari Allah سبحانه وتعالى.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *