Jangan Ribet Oleh Hal Remeh

banner 120x600

Dalam perjalanan hidup, manusia sering kali kehilangan banyak hal berharga hanya karena terlalu membesarkan perkara kecil. Perselisihan sepele mampu memutus silaturahmi, kata-kata ringan dapat melukai hati, dan urusan dunia yang sesaat kadang membuat amal saleh menjadi rusak tanpa disadari. Padahal hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dalam pertengkaran, kebencian, dan kegelisahan yang tidak membawa manfaat bagi akhirat maupun ketenangan jiwa.

Ada saatnya manusia harus belajar mengalah demi menjaga hati. Ada waktunya seseorang harus diam agar suasana tetap teduh. Tidak semua perkara layak diperdebatkan. Tidak semua ucapan harus dibalas. Sebab semakin dewasa iman seseorang, semakin ia memahami bahwa ketenangan hati jauh lebih mahal daripada kemenangan dalam perdebatan. Banyak orang menang bicara namun kalah akhlak. Banyak pula yang berhasil mempertahankan ego tetapi kehilangan keberkahan hidupnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan manusia agar tidak mudah terpecah karena urusan yang sebenarnya kecil. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu, dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46)

Ayat ini mengajarkan bahwa pertengkaran yang tidak perlu hanya akan melemahkan hati, merusak persaudaraan, dan menghilangkan keberkahan. Betapa banyak keluarga yang retak karena persoalan kecil. Betapa banyak persahabatan hancur karena ucapan sesaat. Bahkan tidak sedikit amal ibadah menjadi sia-sia karena hati dipenuhi dendam dan kebencian.

BERITA TERKAIT  Doa-Doa Yang Menenangkan Hati

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengingatkan pentingnya meninggalkan perdebatan yang tidak bermanfaat. Beliau bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا

“Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun dia benar.” (HR. Abu Dawud)

Hadis ini begitu dalam maknanya. Kadang seseorang sebenarnya benar, namun mempertahankan kebenaran dengan cara yang keras justru membuka pintu permusuhan. Maka orang beriman diajarkan untuk mengutamakan hikmah, kelembutan, dan ketenangan. Sebab tujuan hidup bukan sekadar menang argumen, melainkan meraih ridha Allah dan menjaga kebersihan hati.

Sering kali suasana hati menjadi rusak hanya karena memikirkan hal-hal kecil yang tidak memberi manfaat. Padahal Allah telah memberikan begitu banyak nikmat yang seharusnya disyukuri. Ketika hati sibuk memperbesar masalah remeh, manusia lupa melihat luasnya rahmat Allah. Ia mudah marah, mudah kecewa, mudah tersinggung, lalu perlahan kehilangan rasa damai dalam hidupnya.

Allah Ta’ala berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Tidak ada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid: 22)

Ayat ini mengajarkan agar manusia tidak terlalu larut dalam kegelisahan. Apa yang terjadi sudah dalam ketetapan Allah. Maka tidak pantas seorang mukmin menghabiskan hidupnya dengan amarah berkepanjangan hanya karena perkara dunia yang kecil dan sementara.

BERITA TERKAIT  NGAJI EDISI BAHAS SHAHIH BUKHARI DIGELAR

Orang yang hatinya dekat dengan Allah biasanya lebih tenang menghadapi persoalan. Ia tidak mudah terpancing emosi. Ia sadar bahwa menjaga hati lebih penting daripada memuaskan ego. Ia memilih memaafkan daripada memperpanjang luka. Sebab ia tahu bahwa setiap kata buruk yang keluar dapat menjadi sebab terhapusnya pahala.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Orang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menahan marah memang tidak mudah. Namun di situlah letak kemuliaan seorang mukmin. Kadang diam adalah ibadah. Kadang mengalah adalah kekuatan. Kadang memaafkan adalah bentuk kemenangan terbesar di hadapan Allah.

Jangan biarkan perkara kecil menghapus amal saleh yang telah susah payah dibangun. Bertahun-tahun seseorang menjaga shalat, sedekah, dan ibadahnya, namun semua itu dapat rusak karena lisannya tidak dijaga. Hatinya dipenuhi iri, dengki, dan permusuhan. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan satu kalimat yang tidak dipikirkannya, lalu karena kalimat itu ia terjerumus ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu jagalah ucapan. Jagalah suasana hati. Jangan terlalu sibuk mencari kesalahan orang lain. Jangan mudah memperbesar masalah kecil. Hidup ini terlalu singkat untuk diisi kebencian. Dunia hanyalah tempat singgah sementara, sedangkan akhirat adalah tujuan utama.

BERITA TERKAIT  Habiburrahman Dirikan Pesantren Internasional di Salatiga

Belajarlah memandang hidup dengan hati yang lapang. Jika ada perkataan yang menyakitkan, balaslah dengan doa. Jika ada perlakuan yang mengecewakan, serahkan kepada Allah. Tidak semua hal harus dibawa ke dalam hati. Sebab hati yang terlalu penuh oleh urusan remeh akan sulit menerima cahaya ketenangan dari Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134)

Betapa indah ajaran Islam. Agama ini tidak hanya mengajarkan ibadah ritual, tetapi juga membimbing manusia agar memiliki hati yang tenang, akhlak yang lembut, dan jiwa yang penuh kasih sayang. Maka jangan habiskan umur hanya untuk memperbesar perkara kecil. Jangan rusak kebahagiaan dengan ego yang tidak penting. Jangan hapus pahala karena emosi sesaat.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mampu menjaga lisan, menenangkan hati, memaafkan kesalahan, serta memelihara amal saleh hingga akhir hayat. Semoga hidup kita dipenuhi keberkahan, keteduhan, dan cinta kepada sesama karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *