Di zaman ketika penampilan sering lebih dihargai daripada isi hati, banyak manusia terjebak dalam perlombaan yang melelahkan. Mereka ingin terlihat berhasil, terlihat kaya, terlihat hebat di mata manusia, walau diam diam hidupnya rapuh. Padahal Islam mengajarkan kemuliaan bukan dari kemewahan yang dipamerkan, melainkan dari hati yang bersih, hidup yang cukup, dan langkah yang jujur dalam mencari ridha Allah.
Fenomena hidup demi pengakuan manusia semakin terasa di zaman sekarang. Ada orang yang rela berutang hanya demi membeli telepon genggam terbaru. Ada yang memaksakan nongkrong setiap malam agar dianggap gaul dan sukses. Ada pula yang selalu ingin terlihat memakai pakaian mahal, walaupun kebutuhan pokoknya sendiri belum aman. Dari luar tampak bercahaya, tetapi di dalam dada penuh kegelisahan. Rekening menipis, masa depan tidak jelas, keterampilan tidak berkembang, bahkan hubungan dengan Allah mulai renggang karena hidup habis dipakai mengejar pujian manusia.
Padahal kemuliaan seorang hamba tidak pernah diukur dari mahalnya barang yang dipakai. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa ukuran utama kemuliaan adalah ketakwaan.
﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ﴾
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa bangsa dan bersuku suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.”
(QS. Al Hujurat: 13)
Ayat ini mengingatkan bahwa kemuliaan bukan tentang merek pakaian, kendaraan, atau gaya hidup. Sebab semua itu hanyalah kulit dunia yang suatu saat akan hilang. Yang tinggal hanyalah amal, kejujuran, dan kualitas iman seorang hamba.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengingatkan bahaya hidup demi pencitraan. Beliau bersabda:
« مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ »
“Barang siapa beramal untuk didengar manusia, maka Allah akan memperdengarkan aibnya. Dan barang siapa beramal karena riya, maka Allah akan menampakkan hakikat dirinya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Betapa banyak orang yang tampak bahagia di media sosial, tetapi sebenarnya menangis dalam kesepian. Foto terlihat mewah, senyum terlihat lepas, namun hatinya penuh tekanan karena terus berusaha mempertahankan citra. Hidup akhirnya berubah menjadi panggung sandiwara yang melelahkan.
Islam tidak melarang seseorang memiliki harta. Islam juga tidak mengharamkan menikmati nikmat dunia. Namun Islam mengajarkan keseimbangan dan kejujuran. Jangan sampai demi terlihat kaya, seseorang justru menghancurkan masa depannya sendiri. Jangan sampai demi pujian sesaat, seseorang kehilangan keberkahan hidupnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
﴿ وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ﴾
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.”
(QS. Al Qashash: 77)
Ayat ini menunjukkan bahwa dunia boleh dimiliki, tetapi jangan sampai dunia menguasai hati. Sebab orang yang terlalu sibuk mengejar gengsi akan kehilangan banyak hal penting. Ia kehilangan ketenangan. Kehilangan rasa syukur. Kehilangan kesempatan memperbaiki diri. Bahkan sering kali kehilangan hubungan yang tulus dengan sesama manusia.
Ada orang sederhana yang tidur nyenyak karena hidupnya jujur. Sebaliknya ada orang yang tampak kaya tetapi setiap malam dipenuhi kecemasan karena hutang dan tuntutan gaya hidup. Maka ukuran bahagia ternyata bukan banyaknya barang, melainkan tenangnya hati.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
« لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ »
“Kekayaan itu bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini sangat dalam maknanya. Banyak orang punya harta melimpah tetapi hidupnya selalu merasa kurang. Sebaliknya ada orang yang penghasilannya biasa saja, tetapi hidupnya damai karena pandai bersyukur dan tidak memaksakan diri mengikuti gengsi dunia.
Membangun masa depan memang tidak selalu terlihat keren. Belajar menambah keterampilan mungkin tidak secepat mendapatkan pujian di media sosial. Menabung sedikit demi sedikit mungkin tidak membuat orang kagum. Namun semua itu jauh lebih mulia daripada hidup penuh kepalsuan.
Orang yang dewasa akan memilih bertumbuh daripada sekadar terlihat hebat. Ia sadar bahwa hidup bukan perlombaan pamer. Hidup adalah perjalanan amanah menuju akhirat. Karena itu ia lebih fokus memperbaiki kualitas diri daripada sibuk mencari validasi manusia.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
﴿ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ ﴾
“Dan kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan yang menipu.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)
Betapa banyak manusia tertipu oleh kilau dunia. Mereka mengira kehormatan ada pada penampilan, padahal belum tentu. Dunia bisa membuat manusia lupa bahwa umur terus berjalan. Waktu habis untuk menjaga citra, tetapi lupa memperbaiki akhlak dan ibadah.
Maka mulailah belajar hidup sewajarnya. Tidak perlu memaksakan diri agar dianggap sukses oleh semua orang. Tidak semua hal harus dipamerkan. Tidak semua kebahagiaan harus diumumkan. Ada ketenangan besar dalam hidup yang sederhana namun penuh keberkahan.
Belajarlah mencukupkan hati. Jika memiliki rezeki lebih, gunakan dengan bijak. Jika belum mampu membeli sesuatu, tidak perlu memaksakan diri demi gengsi. Sebab kehormatan manusia tidak ditentukan oleh mahalnya barang yang dipakai, melainkan oleh kebersihan hati dan kemuliaan akhlaknya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
« ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ »
“Bersikap zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu. Dan janganlah berharap pada apa yang dimiliki manusia, niscaya manusia akan mencintaimu.”
(HR. Ibnu Majah)
Semoga Allah menjaga hati kita dari penyakit riya, gengsi, dan haus pujian manusia. Semoga Allah mengajarkan kita arti cukup, arti syukur, dan arti membangun hidup dengan perlahan namun penuh keberkahan. Sebab lebih baik berjalan sederhana menuju masa depan yang baik, daripada tampak mewah tetapi diam diam sedang menghancurkan diri sendiri.














