Cerpen  

Cerpen: IKEA dan Surat di Bawahnya

banner 120x600

Di rumah kontrakan yang lebih terang, aku masih memakai meja IKEA murah yang dulu kubeli dengan uang lomba blog. Meja itu sudah lecet, sekrupnya mulai longgar, namun tetap berdiri seperti aku yang pernah jatuh dan bangkit berkali kali. Suatu sore, saat membersihkan laci yang macet, jemariku menyentuh sesuatu di bawah papan meja. Sebuah surat tua.

Aku duduk di depan meja IKEA itu sambil menatap permukaannya yang penuh goresan halus. Kayunya tidak lagi mulus, sudut sudutnya memutih karena sering tersenggol, dan salah satu kakinya pernah retak lalu kutambal dengan lem. Di rumah kontrakan yang lebih lapang, meja itu tampak kecil, namun tetap terasa seperti pusat hidupku. Setiap kali aku mengetik di atasnya, seolah aku sedang mengetuk pintu masa lalu.

Sore itu hujan turun pelan, menabuh genteng dengan irama yang membuat dada terasa sesak. Aku berniat merapikan laci meja karena belakangan sering macet, seperti menyimpan dendam yang tak bisa dijelaskan. Saat kutarik kuat kuat, laci itu tersentak, lalu beberapa kertas dan klip berjatuhan ke lantai. Aku menghela napas panjang, lalu berjongkok, mulai mengumpulkan serpihan benda yang selama ini kupikir tidak penting.

Ketika tanganku menyusuri bagian bawah meja, ujung jariku menyentuh sesuatu yang terselip di celah papan. Bukan kertas biasa, melainkan amplop kecokelatan yang pinggirnya sudah rapuh. Aku terdiam, menatapnya seperti menatap benda asing yang tiba tiba muncul dari dunia lain. Amplop itu tidak berstempel, tidak beralamat, hanya ada tulisan tangan kecil yang mulai pudar: Untukmu, jika suatu hari kau sudah kuat.

Aku menggigit bibir, lalu duduk kembali di kursi, menahan napas sebelum membuka amplop itu. Ada rasa takut yang aneh, seperti ketakutan yang dulu kurasakan saat pertama kali masuk kamar kos sempit bertahun tahun lalu. Di kepala, aku mendengar lagi suara lorong kos, suara pintu besi dibanting, dan suara langkah orang orang yang tak pernah peduli. Tanganku gemetar saat menarik kertas di dalamnya.

Tulisan itu miring, rapi, dan sangat kukenal meski sudah lama tak kulihat. Seketika dadaku panas, seolah ada bara yang selama ini kusembunyikan kini menyala kembali. Aku memejamkan mata, tetapi kalimat pertama membuatku tak bisa menghindar. Surat itu membuka pintu yang selama ini kupaku rapat rapat dengan keberanian palsu.

Aku ingat jelas hari pertama aku datang ke kos itu dalam keadaan hamil muda. Aku sendirian, membawa beberapa potong baju, beberapa buku, sebuah PC pinjaman, dan uang tujuh ribu lima ratus rupiah yang kupeluk seperti jimat terakhir. Kamarnya sempit, dindingnya lembap, dan lantainya dingin seperti kuburan yang belum digali. Aku berdiri lama, mencoba menahan air mata, karena aku tahu menangis tidak akan membuat hidupku berubah.

Malam pertama aku tidur di atas tikar tipis dengan sleeping bag pinjaman yang baunya seperti gudang tua. Setiap kali aku bergerak, lantai semen menyentuh punggungku dengan dingin yang kejam. Aku menatap langit langit, memegangi perut yang masih kecil, lalu berbisik lirih kepada janin itu, meminta maaf karena aku tidak bisa memberinya tempat yang layak. Dalam gelap, aku merasa seperti perempuan paling gagal di dunia.

PC pinjaman itu kutaruh di sudut kamar, menyala dengan suara kipas yang meraung seperti orang batuk. Aku menyalakannya dengan hati hati, takut listrik kosan mendadak mati karena meteran tua. Dari layar itulah aku mulai belajar layout buku, memandangi margin, mengatur spasi, menata huruf, seolah menata hidupku sendiri yang porak poranda. Aku mengetik dengan mual, dengan pusing, dengan perut kosong, namun aku tetap memaksa diri menatap layar.

Aku masih ingat bagaimana rasanya menahan lapar sambil meneguk air galon yang terasa hambar. Kadang aku hanya makan mi instan yang kubagi dua, separuh untuk malam, separuh untuk pagi. Aku sering memilih membeli kuota daripada membeli lauk, karena aku percaya kesempatan lebih mahal daripada rasa kenyang. Dalam kepala, aku berkata berulang ulang bahwa aku harus bertahan, sebab tidak ada orang lain yang akan menyelamatkanku.

BERITA TERKAIT  Menemukan Makna Dalam Proses

Pada bulan kedua, ibu kos mulai mengetuk pintu lebih sering. Ketukannya tidak keras, tetapi cukup untuk membuat jantungku menabrak dada. Suatu sore, ia berdiri di depan pintu sambil melipat tangan, matanya menatap perutku yang mulai membesar. Suaranya datar, namun kata katanya tajam seperti pisau yang sudah lama diasah.

“Mbak, bayarannya kapan,” katanya. “Saya ngerti kondisi, tapi kosan ini juga butuh makan.”
Aku menunduk, menelan ludah, lalu menjawab dengan suara yang nyaris tak terdengar. “Besok saya usahakan, Bu. Saya sedang nunggu transfer.”
Ibu kos menghela napas panjang. “Kalau besok belum ada, saya terpaksa minta Mbak pindah. Saya nggak bisa terus nunggu.”

Malam itu aku menangis, tetapi tangisku tidak meledak, hanya mengalir diam diam seperti air dari atap bocor. Aku menutup mulut dengan bantal agar tidak terdengar tetangga. Di sela tangis, aku memandang PC pinjaman itu, seolah ia satu satunya teman yang masih bisa kuajak bicara. Aku menyalakannya, membuka file layout, lalu bekerja sampai subuh dengan mata yang panas.

Beberapa hari kemudian, pekerjaan layout kecil yang kutunggu akhirnya dibayar. Jumlahnya tidak besar, namun cukup untuk membayar kos dan membeli kasur tipis. Saat kasur itu datang, aku memeluknya sebentar, rasanya seperti memeluk harapan yang bisa disentuh. Malam pertama tidur di atas kasur, aku terbangun beberapa kali hanya untuk memastikan tubuhku tidak lagi menempel langsung pada lantai. Aku tertawa kecil dalam gelap, lalu menangis lagi, kali ini karena lega.

Aku mulai menulis blog dengan lebih serius. Awalnya hanya catatan sunyi, tetapi lama kelamaan tulisanku diikuti orang orang yang tidak kukenal. Aku menulis tentang perempuan yang berjuang sendirian, tentang kemiskinan yang tidak romantis, tentang ketakutan yang menempel di tenggorokan. Aku tidak berharap apa pun, aku hanya ingin memastikan bahwa aku masih hidup, bahwa aku masih punya suara.

Suatu malam, saat hujan mengguyur atap seng kos, aku menemukan pengumuman lomba blog. Hadiahnya cukup besar, dan aku merasa seperti orang bodoh yang bermimpi terlalu tinggi. Namun aku tetap ikut, menulis dengan jujur, menulis dengan luka yang tak sempat kusembuhkan. Ketika hasilnya keluar dan namaku tercantum sebagai pemenang, aku menatap layar lama sekali, memastikan aku tidak salah baca.

Aku berlari ke luar kamar, menutup mulut dengan tangan agar tidak berteriak. Di lorong kos yang gelap, aku menahan tangis, lalu kembali masuk kamar dan menatap perutku. “Kita menang,” bisikku kepada bayi itu. Untuk pertama kalinya sejak datang ke kos itu, aku merasa langit tidak sepenuhnya menutup.

Dari kemenangan demi kemenangan kecil, aku mulai membeli perlengkapan kerja yang lebih layak. Aku membeli lampu meja agar bisa menulis tanpa merusak mata. Aku membeli kursi sederhana, meski busanya cepat kempes. Lalu pada suatu siang, aku membeli meja IKEA seharga tujuh ratus ribu rupiah, uang yang bagiku terasa seperti gunung emas.

Aku merakit meja itu sendirian. Aku duduk di lantai, membaca petunjuk dengan dahi berkerut, lalu memasang sekrup satu per satu. Tanganku sempat terluka oleh ujung besi, darah menetes di lantai, dan aku hanya mengusapnya dengan tisu sambil tertawa getir. Meja itu akhirnya berdiri, dan saat aku menyentuh permukaannya, aku merasa sedang menyentuh masa depan.

Meja itu menjadi saksi hari hari paling suram dan paling riang. Ia melihat aku muntah karena mual lalu kembali mengetik karena deadline. Ia melihat aku menahan sakit pinggang sambil menulis artikel panjang. Ia melihat aku menatap layar kosong karena takut kalah lagi, lalu memaksa diri mengetik kalimat pertama. Setiap goresan di permukaannya seperti catatan kecil bahwa aku tidak pernah menang tanpa luka.

BERITA TERKAIT  Menemukan Makna Dalam Proses

Namun di balik semua itu, ada satu hal yang tidak pernah kutulis di blog. Ada satu nama yang selalu kupendam, satu peristiwa yang selalu kuhindari, seolah jika tidak kusebut maka ia akan hilang sendiri. Aku menutupinya dengan kemenangan, dengan kerja keras, dengan kalimat motivasi yang tampak tegar. Padahal di dalam, ada bagian diriku yang selalu berdarah diam diam.

Waktu berjalan, aku pindah dari kos itu, mengontrak di tempat lain yang lebih layak. Banyak barang berganti, banyak hal berubah, tetapi meja IKEA itu selalu ikut pindah bersamaku. Ketika orang orang bertanya kenapa aku masih menyimpannya, aku hanya tersenyum. Bagiku, meja itu bukan sekadar perabot, melainkan bukti bahwa aku pernah jatuh ke dasar dan berhasil naik.

Dan sore ini, ketika surat itu terbuka di tanganku, aku kembali ke dasar itu dalam sekejap. Aku membaca pelan pelan, menahan napas, seolah setiap kata adalah paku yang mengetuk dadaku. Suara hujan di luar seperti ikut menjadi musik pengiring pengakuan yang terlambat. Surat itu singkat, tetapi isinya seperti palu.

Isi surat itu berbunyi:
“Aku tahu kau membenciku. Aku tahu kau menganggap aku pengecut karena aku pergi saat kau paling butuh. Aku tidak akan membela diri panjang panjang. Aku hanya ingin kau tahu, PC yang kau pinjam itu bukan pinjaman biasa. Itu aku yang menitipkan lewat temanku, karena aku takut jika aku datang sendiri kau akan menolakku. Aku juga yang diam diam membayar tiga bulan pertama kosmu melalui ibu kos, memakai nama orang lain.”

Aku menelan ludah, dan dadaku serasa runtuh. Mataku panas, tetapi aku tetap memaksa diri membaca sampai akhir. Tanganku menggenggam kertas itu begitu keras sampai ujungnya kusut. Aku merasa seperti sedang mendengar suara seseorang dari kuburan.

Surat itu berlanjut:
“Aku tidak minta dimaafkan. Aku hanya ingin kau hidup. Anak itu juga harus hidup. Kalau suatu hari kau sudah cukup kuat untuk membenci atau memaafkan, lakukanlah. Tapi jangan menyerah. Aku tahu kau akan menang. Meja yang kau beli itu, aku ikut menambah uangnya lewat rekening lomba yang kau kira hadiah tambahan. Aku sengaja membuatmu percaya itu hasil keringatmu, karena hanya dengan cara itu kau bisa berdiri tanpa menggantungkan diri pada siapa pun.”

Aku berhenti membaca, menutup surat itu perlahan, lalu memandang meja IKEA di depanku. Tanganku gemetar menyentuh permukaannya, dan tiba tiba meja itu terasa bukan lagi sekadar simbol perjuangan. Ia berubah menjadi saksi sebuah rahasia yang selama ini kusebut takdir. Aku menarik napas panjang, tetapi udara terasa berat seperti menelan pasir.

Di bagian bawah surat, ada kalimat terakhir yang membuatku terpaku.
“Aku tidak akan pernah bertemu kalian. Saat kau membaca ini, aku sudah lama pergi. Aku menitipkan surat ini pada tukang IKEA yang merakit ulang mejamu dulu, dan ia baru boleh menyelipkannya saat kau pindah rumah. Aku melakukan semua ini karena aku tidak berani menjadi ayah, tapi aku masih punya sedikit keberanian untuk tidak membiarkan kalian mati.”

Aku memejamkan mata, dan tubuhku seolah kehilangan tenaga. Selama ini aku mengira aku bertahan sendirian, mengira aku melawan dunia tanpa bantuan siapa pun. Aku mengira PC itu sekadar pinjaman nasib, mengira uang yang datang tepat waktu adalah keberuntungan. Ternyata ada tangan pengecut yang diam diam menolong dari kejauhan, tangan yang tidak berani muncul tetapi cukup berani menyelamatkan.

BERITA TERKAIT  Menemukan Makna Dalam Proses

Aku menatap meja itu lagi, dan untuk pertama kalinya aku tidak tahu apakah harus marah atau bersyukur. Air mataku jatuh ke permukaan kayu, meresap perlahan ke goresan goresan lama. Aku merasa seperti perempuan yang menang perang, tetapi baru sadar bahwa musuh dan penyelamatnya adalah orang yang sama. Di luar, hujan semakin deras, seolah langit pun ikut menangis tanpa suara.

Saat itu pintu rumah kontrakan terbuka pelan. Anak remajaku masuk dengan seragam sekolah yang basah, rambutnya meneteskan air, dan wajahnya lelah. Ia menatapku, lalu menatap surat yang kugenggam, seolah ia tahu sesuatu sedang pecah di dalam diriku. Ia meletakkan tasnya, berjalan mendekat, lalu bertanya dengan suara yang tenang namun menusuk.

“Ibu akhirnya nemu surat itu ya,” katanya pelan. “Aku yang nemu duluan waktu bantu bersihin meja, tapi aku takut kasih ke Ibu.”
Aku membeku, menatapnya seperti menatap cermin yang tiba tiba bisa bicara. Nafasku tercekat, dan surat itu terasa berat di tanganku. Aku ingin bertanya dari mana ia tahu, tetapi kata kata itu tak sempat keluar.

Anakku menarik kursi, duduk di depanku, lalu menatap meja IKEA itu dengan mata yang dalam. Ia mengusap permukaan meja, persis seperti kebiasaanku, seolah ia sudah lama mempelajarinya. Lalu ia mengangkat wajah, menatapku tanpa ragu, dan mengucapkan kalimat yang membuat seluruh dunia berhenti bergerak.

“Yang nulis surat itu bukan ayahku, Bu,” katanya. “Itu tulisan tangan Ibu sendiri. Aku lihat di buku harian Ibu yang lama. Semua hurufnya sama.”

Aku terdiam, dan dadaku seperti ditusuk pelan. Tanganku gemetar, surat itu hampir jatuh, namun aku menahannya. Aku menatap tulisan di kertas itu sekali lagi, dan tiba tiba ingatanku seperti disambar kilat. Ingatan tentang malam malam yang kabur, tentang rasa sakit yang tidak bisa kujelaskan, tentang masa ketika aku menulis untuk bertahan dari kegilaan.

Aku mencoba menyangkal, tetapi mataku sendiri melihat kenyataan yang selama ini kututup. Tulisan itu memang tulisanku. Kata kata itu memang lahir dari tanganku, dari pikiranku, dari diriku yang dulu hancur dan menciptakan penyelamat imajiner agar tetap hidup. Aku menciptakan sosok penolong agar aku percaya bahwa dunia belum sepenuhnya kejam.

Aku menatap anakku, lalu menatap meja itu, dan tiba tiba aku memahami segalanya dengan cara yang menyakitkan. Aku tidak pernah ditolong oleh siapa pun. Tidak ada ayah yang diam diam mengirim uang. Tidak ada tangan asing yang membayar kos. Yang ada hanya aku, seorang perempuan lapar, sendirian, yang menipu dirinya sendiri agar bisa bertahan satu hari lagi.

Anakku meraih tanganku, menggenggamnya erat. Suaranya lembut, tetapi penuh kepastian. “Ibu nggak perlu bikin cerita penolong itu lagi,” katanya. “Karena buktinya Ibu sudah selamat. Ibu selamat karena Ibu sendiri.”

Aku menunduk, air mataku jatuh lebih deras, bukan karena sedih semata, melainkan karena akhirnya aku tahu siapa pahlawan sebenarnya dalam hidupku. Meja IKEA itu tetap berdiri di depan kami, diam, kokoh, dan sederhana. Dan di permukaannya, di antara goresan goresan lama, aku melihat satu kenyataan yang lebih mengejutkan dari surat mana pun.

Ternyata selama ini aku tidak melawan dunia demi bertahan hidup.
Aku melawan dunia demi membuktikan bahwa aku tidak pernah membutuhkan siapa pun untuk menyelamatkanku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *