Cerpen: Dompetku Hilang di Kota Nabi

banner 120x600

Siang itu saya baru keluar dari Masjid Nabawi ketika melihat beberapa jamaah haji Indonesia duduk bahkan rebahan di lantai marmer luar pelataran. Wajah mereka letih, mata mereka kosong, dan tangan mereka menggenggam tas kecil seperti memegang nyawa. Saya menghampiri, bertanya pelan, lalu sadar mereka rombongan baru dari Solo yang tersesat, dan waktu terus berjalan.

Saya masih ingat betul panas yang memantul dari lantai putih di pelataran Nabawi siang itu. Arus jamaah bergerak seperti sungai besar, tak putus, tak memberi jeda untuk orang yang kehilangan arah. Suara pengeras masjid menggema lembut, bercampur dengan langkah kaki dan percakapan dari berbagai bahasa. Saat itulah mata saya menangkap pemandangan yang membuat dada saya tercekat.

Di dekat jalur pejalan kaki, beberapa orang Indonesia terlihat duduk dan baring di lantai. Mereka bukan sekadar istirahat biasa, sebab wajah mereka menyimpan kebingungan yang tak bisa disembunyikan. Ada ibu yang memegangi dadanya seperti menahan cemas, ada yang menatap kosong ke arah gerbang. Tas kecil mereka dipeluk erat, seolah takut dunia merampasnya.

Saya mendekat perlahan, menahan diri agar tidak tampak sok menolong. “Bu, maaf… hotelnya di mana?” tanya saya pelan. Seorang ibu berkerudung cokelat menoleh, wajahnya pucat, lalu menjawab dengan suara lirih, “Saya cuma ingat nomor gerbang, Mas.” Ia menunjuk ke arah pintu Nabawi, namun matanya sendiri tampak ragu.

Saya menelan ludah, lalu bertanya lagi untuk memastikan. “Embarkasi dari mana, Bu?” Mereka saling pandang, seolah menunggu siapa yang berani menjawab lebih dulu. Lalu salah satu ibu yang paling tua berkata pelan, “Solo, Mas.” Mendengar itu saya langsung paham, rombongan Solo memang banyak yang baru tiba pagi tadi.

Saya mencoba tersenyum agar suasana tidak makin tegang. “Tersesat ya, Bu?” kata saya sambil tertawa kecil. Mereka ikut tersenyum, tetapi senyum itu seperti kain tipis yang menutup rasa panik. Salah satu ibu mengangguk cepat, “Iya Mas, tadi ikut orang, terus orangnya hilang. Saya bingung ini pintu yang mana.”

Angin Madinah berembus hangat, tapi tubuh mereka terlihat menggigil seperti orang yang baru kehilangan pegangan. Saya memperhatikan tangan mereka, ada yang gemetar saat memegang botol air, ada yang memegangi kertas kecil yang sudah kusut. Di situ saya sadar, tersesat di kota sendiri mungkin hanya memalukan, tetapi tersesat di Tanah Suci bisa terasa seperti kehilangan dunia. Saya tidak tega membiarkan mereka tetap duduk di situ.

BERITA TERKAIT  MBG DAN DILEMA ANGGARAN PEMBANGUNAN MANUSIA

“Bu, saya antar ya. Daripada makin jauh nanti,” kata saya. Mereka saling pandang, lalu mengangguk dengan wajah lega, seolah baru saja mendapat kabar bahwa pertolongan benar benar ada. Seorang ibu yang tadi memegang kertas kusut langsung membuka lipatannya, lalu menunjukkannya pada saya. Di situ tertulis nama hotel mereka dengan huruf yang agak pudar.

Saya membaca pelan, memastikan tidak salah. “Oh ini… hotelnya yang dekat arah sana, Bu,” kata saya sambil menunjuk jalur yang lurus, bukan jalur memutar. Mereka mendadak terdiam, lalu salah satu ibu bertanya dengan mata membesar, “Loh kok Mas tahu?” Saya tertawa kecil agar tidak menambah curiga, lalu menjawab, “Saya punya teman petugas haji Bu, jadi sedikit hafal hotel hotel rombongan Indonesia.”

Ibu yang paling tua menghela napas panjang, lalu berkata lirih, “Mas, tadi saya takut sekali. Saya pikir kami sudah jauh dan tidak bisa kembali.” Kalimatnya membuat saya ikut sesak, sebab saya membayangkan orang tua sendirian di tengah lautan manusia. Saya hanya bisa menenangkan, “Tenang Bu, insyaAllah Allah kasih jalan. Yang penting jangan panik dan tetap bersama.”

Saat kami baru berdiri dan bersiap berjalan, tiba tiba seorang bapak datang berlari kecil. Wajahnya kusut, keringatnya mengalir, dan napasnya tersengal seolah baru menyelesaikan putaran panjang. Begitu melihat rombongan ibu ibu itu, ia langsung berseru, “Aduh capek… jauh banget!” Salah satu ibu menatapnya kesal, lalu berkata, “Lha sampeyan dari mana saja, Pak?”

Bapak itu mengusap keningnya, lalu menunjuk ke arah masjid. “Saya muterin Nabawi, saya kira hotelnya di seberang. Ternyata saya salah jalur,” katanya sambil tertawa pahit. Saya menahan senyum, sebab kejadian seperti itu sering menimpa jamaah yang baru datang. Saya berkata pelan, “Pak, sebenarnya hotelnya lebih dekat kalau lurus saja, tidak perlu muter.”

Bapak itu terdiam sebentar, lalu menepuk dahinya sendiri seperti baru sadar. “Ya Allah… pantesan kaki saya rasanya copot,” katanya. Ibu ibu itu tertawa kecil, namun saya tahu tawa itu bukan hanya lucu, melainkan juga tanda syukur karena mereka akhirnya menemukan arah. Di tengah kota yang asing, tawa kecil bisa menjadi obat yang sederhana.

BERITA TERKAIT  Membentengi MBG dari Konflik Kepentingan

Kami mulai berjalan bersama, rombongan kecil yang menyusuri jalanan sekitar Nabawi. Di kanan kiri, jamaah dari berbagai negara berlalu lalang, ada yang membawa payung, ada yang mendorong kursi roda, ada yang berpegangan tangan seperti takut terpisah. Saya melihat wajah ibu ibu itu mulai berubah, dari tegang menjadi lebih tenang. Mereka mulai bercerita bagaimana tadi pagi mereka baru turun dari bus, lalu terpencar karena keramaian.

Salah satu ibu yang lebih muda berkata, “Mas, saya tadi sudah mau nangis. Saya takut paspor saya hilang.” Ia memeluk tasnya lebih erat, seperti takut tas itu tiba tiba lenyap. Saya mengangguk, lalu berkata, “Di sini memang ramai Bu. Tapi insyaAllah kalau kita niat baik, Allah jaga.” Saya sendiri tanpa sadar meraba dompet saya di saku, memastikan masih ada.

Entah kenapa, sejak tadi saya selalu merasa kantong saya agak longgar. Saya sempat berpikir mungkin karena celana yang saya pakai sedikit longgar, atau karena saya terlalu sering mengeluarkan handphone. Namun perasaan itu hanya lewat sebentar, tertutup oleh fokus saya mengantar rombongan ini. Lagi pula, di tempat seperti ini, pikiran orang mudah terpecah.

Kami terus berjalan lurus, melewati jalur yang tidak terlalu padat. Bapak yang tadi berlari kini berjalan paling belakang sambil sesekali mengeluh capek, tetapi nadanya sudah jauh lebih ringan. Salah satu ibu menoleh pada saya, lalu berkata, “Mas, panjenengan ini seperti diturunkan Allah untuk kami.” Saya tersenyum, lalu menjawab, “Aduh Bu, saya ini cuma lewat. Kita sama sama tamu Allah.”

Beberapa menit kemudian, saya melihat bangunan hotel yang namanya sesuai dengan kertas kusut itu. Saya menunjuk ke depan sambil berkata, “Nah Bu, itu hotelnya.” Mata mereka mendadak berbinar, seperti orang yang baru melihat rumah setelah tersesat di padang luas. Langkah mereka menjadi lebih cepat, dan wajah mereka yang tadi kusam berubah menjadi lega.

Begitu sampai di depan pintu, mereka berhenti sejenak seolah memastikan ini bukan mimpi. Seorang ibu memegang tangan saya, genggamannya hangat dan lama, lalu berkata, “Mas, matur nuwun sanget. Kalau tidak ada Mas, kami mungkin masih muter muter.” Bapak tadi juga mengangguk, lalu berkata, “Mas, sampeyan ini seperti malaikat, sumpah.” Saya tertawa kecil, tetapi hati saya tersentuh karena ketulusan mereka.

BERITA TERKAIT  NEGARA, PAJAK, DAN PELAJARAN DARI KEPUTUSAN OEI TIONG HAM

Saya menunduk sebentar, lalu menjawab, “Sami sami Bu. Istirahat ya, jangan terlalu dipikir. Nanti kalau mau ke masjid lagi, tanya petugas atau jalan bareng rombongan.” Mereka mengangguk, lalu masuk satu per satu ke dalam hotel sambil masih menoleh ke belakang. Saya melambaikan tangan, kemudian berbalik arah, melanjutkan langkah saya kembali ke jalanan.

Namun baru beberapa langkah, saya merasakan dada saya tiba tiba kosong. Ada sesuatu yang hilang, seperti ada bagian kecil dari diri saya yang biasanya selalu saya rasakan. Saya refleks meraba saku celana saya, lalu merogoh lebih dalam. Tidak ada dompet, tidak ada kartu identitas, tidak ada kartu hotel, bahkan uang kecil yang tadi saya simpan pun lenyap.

Saya berhenti di tengah jalan, membeku di antara keramaian. Jantung saya berdetak keras, dan suara orang orang seakan menghilang, tergantikan oleh dengung yang menyesakkan. Saya menoleh cepat ke arah pintu hotel yang barusan mereka masuki, tetapi pintunya sudah tertutup rapat. Dalam sekejap saya teringat genggaman tangan ibu tadi, genggaman yang hangat, lama, dan terasa seperti menahan saya agar tidak pergi.

Saya menelan ludah, lalu tertawa kecil yang pahit. Ternyata hari ini bukan hanya mereka yang diuji dengan tersesat, tetapi saya juga diuji dengan cara yang lebih sunyi. Di kota Nabi, saya baru saja mengantar orang pulang, namun saya sendiri kehilangan jalan pulang. Dan di saat itu saya sadar, pertolongan yang saya berikan mungkin benar, tetapi kelengahan saya telah dibayar mahal.

Saya berdiri mematung beberapa detik, lalu menarik napas panjang. Di tengah lautan manusia, saya merasa seperti anak kecil yang kehilangan nama. Saya memandang langit Madinah yang terang, lalu berbisik dalam hati, mungkin beginilah cara Allah mengajarkan satu pelajaran paling sederhana. Di Tanah Suci, kebaikan memang harus besar, tetapi kewaspadaan juga harus tetap hidup.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *