Cahaya Lisan Dari Al Quran

banner 120x600

Dalam kehidupan yang penuh hiruk pikuk, manusia sering mencari keindahan dalam kata, ketenangan dalam makna, dan kekuatan dalam ungkapan. Namun tidak semua lisan mampu memancarkan cahaya. Ada lisan yang kering, ada yang tajam melukai, dan ada pula yang lembut menyejukkan. Rahasia di balik keindahan itu bukan sekadar bakat, melainkan kedekatan dengan firman Allah.

Ada sebuah ungkapan yang penuh hikmah, bahwa jarang sekali engkau mendapati seseorang yang fasih dan lancar lisannya, melainkan ia terbiasa membaca Al Quran hampir setiap hari. Kalimat ini bukan sekadar pujian terhadap kefasihan, tetapi petunjuk jalan bagi siapa saja yang ingin memperindah ucapannya. Sebab Al Quran bukan hanya kitab petunjuk, tetapi juga sumber kejernihan bahasa, kedalaman makna, dan keindahan susunan kata.

Allah berfirman dalam Al Quran:

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus.” (QS. Al Isra: 9)

Petunjuk yang dimaksud bukan hanya dalam urusan ibadah dan akidah, tetapi juga dalam cara manusia berbicara, menyampaikan, dan menimbang kata. Orang yang akrab dengan Al Quran akan terbimbing bukan hanya hatinya, tetapi juga lisannya. Kata-katanya menjadi lebih terjaga, lebih terarah, dan lebih bernilai.

BERITA TERKAIT  Ronde Hangat Di Tengah Hujan

Ketika seseorang membaca Al Quran setiap hari, ia sebenarnya sedang melatih dirinya untuk menyerap ritme bahasa ilahi. Ia mendengar ayat demi ayat, mengulang lafaz demi lafaz, hingga tanpa disadari susunan kalimatnya pun mulai mencerminkan keindahan itu. Inilah yang menjadikan lisannya fasih, bukan karena latihan retorika semata, tetapi karena terbiasa dengan kalam yang paling sempurna.

Allah juga berfirman:

الرَّحْمَٰنُ ۝ عَلَّمَ الْقُرْآنَ ۝ خَلَقَ الْإِنسَانَ ۝ عَلَّمَهُ الْبَيَانَ

“Yang Maha Pengasih, yang telah mengajarkan Al Quran, Dia menciptakan manusia, mengajarnya pandai berbicara.” (QS. Ar Rahman: 1-4)

Perhatikan bagaimana Allah menyebut pengajaran Al Quran sebelum kemampuan berbicara. Seakan memberi isyarat bahwa keindahan البيان, yaitu kemampuan bertutur kata, berakar dari kedekatan dengan Al Quran. Maka tidak heran jika orang yang sering membaca Al Quran memiliki lisan yang lebih hidup dan bermakna.

Bahkan para penyair, orator, dan ahli bahasa sejak dahulu pun banyak terinspirasi oleh Al Quran. Mereka menyerap keindahan dari susunan katanya, kekuatan maknanya, dan kejernihan penjelasannya. Namun tetap saja, tidak ada yang mampu menandingi keagungan Al Quran, karena ia adalah kalam Allah, bukan karya manusia.

BERITA TERKAIT  Cara Menjadi Good Looking Menurut Islam

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Hadis ini menunjukkan bahwa kemuliaan seseorang tidak hanya terletak pada seberapa indah ia berbicara, tetapi pada seberapa dekat ia dengan Al Quran. Namun keindahan lisan sering menjadi buah yang tampak dari kedekatan itu. Ia berbicara dengan hikmah, memilih kata dengan hati-hati, dan menyampaikan kebenaran dengan cara yang lembut.

Ada perbedaan besar antara orang yang berbicara dari hafalan dunia dan orang yang berbicara dari cahaya wahyu. Yang pertama mungkin memukau sesaat, tetapi yang kedua menyentuh hati dan menetap lama. Karena kata-kata yang lahir dari Al Quran membawa ruh, bukan sekadar bunyi.

Maka, jika engkau ingin memperindah lisanmu, jangan hanya berlatih berbicara. Dekatkan dirimu dengan mushaf. Bacalah setiap hari, walau sedikit. Ulangi ayat-ayatnya dengan perlahan. Renungkan maknanya. Biarkan hatimu dipenuhi oleh firman Allah, hingga lisannya pun memantulkan keindahan itu.

BERITA TERKAIT  Cermin Hati Dalam Sikap Sehari Hari

Lisan yang fasih bukan sekadar cepat berbicara, tetapi tepat dalam berkata. Ia tidak menyakiti, tidak berlebihan, dan tidak kosong dari makna. Dan semua itu tumbuh dari hati yang hidup bersama Al Quran.

Pada akhirnya, keindahan bahasa bukan tujuan utama, melainkan jalan menuju kebaikan yang lebih besar. Lisan yang terjaga akan membawa kebaikan dalam hubungan manusia, mempererat ukhuwah, dan menyebarkan kebenaran. Dan semua itu bermula dari satu kebiasaan sederhana, membuka mushaf dan membaca firman-Nya setiap hari.

Maka, bacalah mushafmu. Di sanalah sumber kejernihan, di sanalah mata air kefasihan, dan di sanalah cahaya yang akan menerangi lisanmu hingga ia menjadi saksi kebaikan, bukan penyesalan di hari kemudian.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *