Akal Sehat, Hati Terjaga

banner 120x600

Allah menciptakan akal sebagai cahaya yang menuntun manusia agar mampu menimbang benar dan salah, maslahat dan mudarat, cinta dan luka. Islam tidak mengajarkan kita untuk bertahan pada hal yang merusak jiwa, apalagi demi menyenangkan manusia. Ketika hati lelah, iman mengingatkan: utamakan ridha Allah, jaga martabat diri, dan jangan biarkan hidup habis untuk menjadi people pleaser.

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menciptakan manusia dalam keadaan kosong tanpa arah. Kita diberi akal, diberi hati, diberi rasa, dan diberi petunjuk agar hidup tidak sekadar berjalan, tetapi memiliki makna dan tujuan. Akal bukan sekadar alat berpikir, melainkan amanah besar yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Banyak manusia yang hidupnya rusak bukan karena kurangnya kesempatan, melainkan karena mereka menutup akalnya sendiri. Padahal Allah menciptakan akal agar manusia mampu melihat tanda-tanda, membedakan kebaikan dan keburukan, serta mampu menjaga diri dari sesuatu yang merusak jiwa.

 

Allah berfirman:

أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Apakah kamu tidak berakal?”

(QS. Al-Baqarah: 44)

Kalimat pendek ini adalah teguran yang dalam. Seolah Allah sedang berkata, “Mengapa kamu tetap berjalan di jalan yang salah, padahal akalmu bisa menimbang akibatnya?” Sebab orang yang memakai akal dengan benar, tidak akan membiarkan dirinya terus-menerus terluka, dihina, dimanfaatkan, lalu ia tetap bertahan dengan alasan cinta atau takut kehilangan.

 

Allah juga menegaskan bahwa akal harus dipakai untuk menimbang kebenaran dan menolak kebatilan:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.”

(QS. Al-Isra’: 36)

Ayat ini menjadi dasar bahwa hati dan pikiran bukan milik kita sepenuhnya untuk disia-siakan. Bila seseorang berkali-kali disakiti, lalu ia tetap bertahan tanpa alasan yang dibenarkan, maka ia sedang menjerumuskan dirinya ke dalam kezaliman yang tidak disukai Allah. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menjadi korban. Islam mengajarkan kehormatan, izzah, dan penjagaan diri.

BERITA TERKAIT  Cahaya Lisan Dari Al Quran

 

Kadang seseorang berkata, “Aku bertahan demi menyenangkan orang lain.” Namun Islam mengingatkan bahwa manusia tidak akan pernah bisa dipuaskan. Bila hidup hanya untuk membuat orang lain bahagia, maka kita akan kehilangan diri sendiri. Allah mengingatkan bahwa ukuran kebahagiaan bukan penilaian manusia, tetapi ridha Allah. Firman-Nya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Tujuan hidup bukan menjadi budak perasaan manusia, bukan menjadi pelayan ego orang lain, bukan pula menjadi “people pleaser” yang mengorbankan harga diri. Tujuan hidup adalah beribadah, menjaga iman, dan menempuh jalan yang membawa kita lebih dekat kepada Allah.

 

People pleaser sering terlihat baik di mata manusia, namun diam-diam hatinya remuk. Ia tersenyum saat dipuji, tapi menangis saat sendirian. Ia selalu mengalah, selalu menuruti, selalu takut mengecewakan. Namun dalam Islam, sikap mengalah yang benar adalah mengalah demi kebaikan dan pahala, bukan mengalah karena takut ditinggalkan. Mengalah demi Allah adalah ibadah, sedangkan mengalah demi manusia sampai melukai diri sendiri adalah bentuk ketidakadilan terhadap diri.

1 spasi

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.”

(HR. Ibnu Majah)

Hadis ini adalah prinsip besar. Bila hubungan, pekerjaan, pergaulan, atau situasi tertentu sudah jelas-jelas membahayakan mental dan ruhani kita, maka itu bukan ladang pahala, melainkan pintu mudarat. Islam tidak memerintahkan kita untuk bertahan dalam luka yang terus berulang. Islam memerintahkan kita untuk menjaga keselamatan jiwa dan kehormatan.

 

Allah bahkan melarang kita menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan:

BERITA TERKAIT  TA’LIM SANTAI PERKUAT PEMAHAMAN MANASIK HAJI

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.”

(QS. Al-Baqarah: 195)

Jika seseorang berkali-kali disakiti, dikhianati, direndahkan, lalu ia terus memaksa bertahan, itu sering kali bukan kesabaran, tetapi keterikatan yang membutakan. Kesabaran bukan berarti diam dalam kehinaan. Kesabaran adalah tetap taat kepada Allah, menahan diri dari dosa, dan tetap berjalan pada jalan yang benar meski berat.

 

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan:

لَا يَلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ

“Seorang mukmin tidak akan disengat dari satu lubang yang sama dua kali.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini sangat tegas. Mukmin bukan orang yang mudah ditipu berkali-kali. Mukmin bukan orang yang membiarkan dirinya diinjak berulang kali. Mukmin adalah orang yang belajar, sadar, dan mengambil keputusan dengan akal sehat. Jika seseorang terus mengulang luka yang sama, berarti ia belum benar-benar mengambil pelajaran.

 

Kita harus memahami bahwa Allah menciptakan akal bukan tanpa alasan. Akal adalah alat untuk menimbang: apakah hubungan ini membawa kita makin dekat kepada Allah atau justru menjauh? Apakah kebersamaan ini menambah iman atau menambah air mata? Apakah bertahan ini mendatangkan pahala atau mendatangkan kehancuran batin?

 

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

(QS. At-Tahrim: 6)

Menjaga diri bukan hanya dari dosa, tetapi juga dari lingkungan yang menjerumuskan. Jika suatu hubungan membuat kita jauh dari shalat, jauh dari ketenangan, jauh dari kehormatan, maka itu tanda bahwa kita perlu mundur. Mundur bukan berarti kalah, tetapi sering kali itulah kemenangan iman.

 

Hati yang lelah karena selalu menyenangkan manusia akan kehilangan kekuatannya untuk menyenangkan Allah. Padahal kebahagiaan sejati bukan pada pujian orang, tetapi pada ketenangan iman. Allah berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

BERITA TERKAIT  KHGT Dibahas Dalam Halaqah Muhammadiyah Nasional

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

(QS. Ar-Ra’d: 28)

 

Maka jika kamu sudah berulang kali disakiti, itu bukan sekadar ujian. Bisa jadi itu peringatan dari Allah agar kamu berhenti menzalimi dirimu sendiri. Jangan habiskan hidup untuk mengejar penerimaan manusia. Jadikan ridha Allah sebagai tujuan, sebab bila Allah sudah ridha, dunia akan terasa ringan. Tetapi bila Allah murka, maka seluruh tepuk tangan manusia tidak akan mampu menyelamatkanmu.

 

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَرْضَى اللَّهَ بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَرْضَى عَنْهُ النَّاسَ، وَمَنْ أَرْضَى النَّاسَ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ

“Barangsiapa mencari ridha Allah dengan membuat manusia marah, Allah akan ridha kepadanya dan menjadikan manusia pun ridha kepadanya. Dan barangsiapa mencari ridha manusia dengan membuat Allah murka, Allah akan murka kepadanya dan menjadikan manusia pun murka kepadanya.”

(HR. Tirmidzi)

 

Inilah kunci kehidupan. Jangan menjadi people pleaser sampai kehilangan jati diri. Berbuat baiklah, namun jangan membiarkan dirimu dirusak. Bersabarlah, namun jangan membiarkan dirimu dihancurkan. Memaafkanlah, namun jangan membuka pintu untuk disakiti lagi. Islam adalah agama yang menjaga kehormatan. Akal adalah cahaya. Hati adalah amanah. Dan hidup adalah perjalanan menuju Allah. Jika sesuatu membuatmu hancur berkepanjangan, maka mungkin Allah sedang menunjukkan jalan keluar: mundur dengan tenang, lalu kembali kepada-Nya dengan lebih kuat.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *