Agama  

Tajwid Menenangkan Hati Dan Pikiran

banner 120x600

Tilawah Al-Qur’an bukan sekadar aktivitas membaca rangkaian huruf, tetapi ibadah yang menghubungkan lisan, hati, pikiran, dan seluruh diri kepada Allah. Ketika ayat dibaca dengan tartil dan tajwid yang benar, seseorang diarahkan untuk memperlambat bacaan, mengatur napas, memperhatikan makhraj, serta merenungkan makna. Dari sinilah ketenangan dapat tumbuh, sementara sains membantu menjelaskan sebagian proses psikologis dan fisiologis yang menyertainya.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Ar-Ra’d ayat 28:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya: “Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

Ayat ini memberikan landasan yang sangat jelas bahwa ketenteraman hati memiliki hubungan erat dengan dzikrullah. Tilawah merupakan salah satu bentuk dzikir yang paling mulia karena di dalamnya seorang Muslim membaca kalam Allah, mengagungkan-Nya, dan membuka dirinya untuk menerima petunjuk.

Allah juga berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 23:

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

Artinya: “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik, yaitu Al-Qur’an yang serupa lagi berulang-ulang. Gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberi petunjuk.”

BERITA TERKAIT  Belajar Kekuatan Dari Al-Qur'an

Al-Qur’an bahkan menyebut dirinya sebagai syifa. Allah berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 82:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

Artinya: “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, sedangkan bagi orang-orang zalim Al-Qur’an itu hanya akan menambah kerugian.”

Kata syifa tidak semestinya dipersempit hanya menjadi pengobatan medis. Al-Qur’an adalah penawar bagi berbagai penyakit batin, seperti keraguan, kesesatan, kegelisahan, kesombongan, dan kegersangan hati. Adapun ketenangan fisik dan psikologis yang mungkin menyertai tilawah merupakan bagian dari hikmah yang dapat dirasakan manusia, bukan alasan untuk membatasi makna syifa hanya pada mekanisme biologis.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Artinya: “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah, membaca Kitab Allah dan mempelajarinya bersama-sama, melainkan ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, para malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.”

BERITA TERKAIT  Dengan Sholawat Kinerja Jurnalis Makin Bermartabat.

Inilah yang disebut sakinah. Ketenteraman dalam Islam bukan sekadar kondisi otak yang lebih rileks, melainkan keadaan yang jauh lebih dalam: hati merasa dekat dengan Allah, jiwa memperoleh arah, dan seseorang mendapatkan kekuatan untuk menghadapi kehidupan.

Dari sisi ilmiah, membaca dengan tartil menuntut perhatian terhadap irama, panjang-pendek bacaan, artikulasi, pernapasan, serta kesinambungan suara. Aktivitas yang dilakukan secara perlahan dan penuh perhatian dapat membantu seseorang memasuki keadaan mental yang lebih tenang dan terfokus. Sejumlah penelitian mengenai mendengarkan atau membaca Al-Qur’an juga melaporkan perubahan pada parameter fisiologis dan aktivitas otak yang berkaitan dengan relaksasi. Namun, temuan tersebut perlu dibaca secara proporsional. Tidak tepat mengatakan bahwa setiap bacaan Al-Qur’an pasti menaikkan gelombang alpha dengan pola yang sama pada semua orang, atau menjadikan hasil penelitian saraf sebagai bukti ilmiah langsung bagi seluruh kandungan wahyu.

Justru di sinilah keindahan iman dan ilmu dapat ditempatkan secara benar. Sains meneliti mekanisme yang dapat diamati, sedangkan wahyu memberikan petunjuk tentang makna, tujuan, dan hubungan manusia dengan Penciptanya. Jika tilawah membuat seseorang lebih tenang, maka ketenangan itu hendaknya tidak berhenti pada rasa nyaman. Ia harus membawa perubahan akhlak.

BERITA TERKAIT  Dengan Sholawat Kinerja Jurnalis Makin Bermartabat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

Artinya: “Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.” (HR. Muslim)

Karena itu, jangan menjadikan Al-Qur’an hanya sebagai suara penenang ketika pikiran sedang kacau. Bacalah ketika bahagia dan sedih, ketika lapang dan sempit. Pelajari tajwidnya, pahami maknanya, renungkan pesannya, kemudian amalkan tuntunannya. Ketika lisan membaca ayat, telinga mendengarnya, pikiran memahaminya, hati menghayatinya, dan anggota badan menjalankannya, saat itulah tilawah benar-benar menjadi jalan perubahan.

Tajwid memperindah bacaan, tartil menata ritmenya, ilmu membantu memahami sebagian proses yang terjadi dalam diri, tetapi sumber ketenangan hakiki tetaplah Allah. Maka jangan hanya mencari ketenangan dari suara Al-Qur’an; carilah pula petunjuk dari maknanya. Sebab hati yang dekat dengan Al-Qur’an bukan hanya hati yang lebih tenang, tetapi hati yang semakin tunduk, bersih, sabar, dan terarah kepada Allah.

Penulis: Dwi Taufan HidayatEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *