Dentuman senjata di Lapangan Tembak Brimob Polda Maluku Utara, Ternate, Rabu, 7 Oktober 2026, bukan sekadar bagian dari perayaan ulang tahun. Sekitar 100 peserta berkumpul, sementara Gubernur Sherly Tjoanda menjajal Steyr AUG. Di balik seremoni itu terdapat agenda yang lebih serius: apakah lomba menembak akan melahirkan pembinaan atlet berkelanjutan atau berhenti setelah perayaan usai?
Lomba tersebut digelar bersamaan dengan peringatan HUT ke-27 Provinsi Maluku Utara, HUT ke-81 TNI, dan HUT ke-81 Korps Brimob Polri. Pesertanya berasal dari beragam kalangan, termasuk unsur TNI, Polri, sipil, media, protokol, dan perangkat pemerintah daerah. Komposisi itu menunjukkan bahwa olahraga menembak mulai dicoba ditempatkan sebagai ruang pertemuan lintas institusi.
Namun makna kegiatan tidak semestinya berhenti pada banyaknya peserta atau meriahnya pembukaan. Sherly justru menyampaikan gagasan yang lebih penting: kompetisi perlu digelar secara berkelanjutan agar talenta-talenta potensial dapat ditemukan dan dibina. Perbakin Maluku Utara juga didorong bekerja sama dengan TNI dan Polri untuk memperkuat pembinaan hingga tingkat nasional dan internasional.
Di titik itu, persoalan sebenarnya dimulai. Kompetisi satu hari mudah diselenggarakan. Pembinaan bertahun-tahun jauh lebih sulit. Atlet membutuhkan pelatih, jadwal latihan, fasilitas, peralatan, kompetisi rutin, biaya perjalanan, serta sistem seleksi yang transparan. Tanpa itu, lomba berisiko menjadi agenda seremonial yang menghasilkan dokumentasi, tetapi belum tentu menghasilkan regenerasi atlet.
Maluku Utara sebenarnya telah memiliki modal awal. Atlet Perbakin daerah ini mencatat prestasi pada lomba berburu nasional September 2026. Yusak Babullah dari Halmahera Utara meraih Juara 1 Zona Timur, sedangkan Alfred Hermanto Taka meraih Juara 2 Umum Nasional. Prestasi tersebut menunjukkan adanya talenta yang dapat dijadikan fondasi untuk membangun pembinaan lebih sistematis.
Tetapi dua prestasi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa ekosistem olahraga telah kuat. Pertanyaan berikutnya justru lebih penting: berapa banyak atlet aktif yang sedang dibina, berapa klub yang berjalan, seberapa rutin kompetisi digelar, siapa pelatihnya, dan bagaimana pemerintah memastikan regenerasi? Tanpa jawaban atas pertanyaan itu, ambisi melahirkan atlet nasional dan internasional masih berada pada tahap harapan.
Ada pula gagasan lain yang patut diuji, yakni pemanfaatan fasilitas olahraga menembak agar lebih luas bagi masyarakat dan memberi manfaat ekonomi bagi daerah. Gagasan tersebut menarik, tetapi membutuhkan desain yang jelas. Siapa pengelolanya? Bagaimana akses masyarakat diatur? Bagaimana keselamatan dan pengawasan diterapkan? Dan jika fasilitas itu disebut dapat memberi manfaat ekonomi, bagaimana mekanisme pendapatannya?
Di sinilah kerja sama pemerintah, Perbakin, TNI, dan Polri harus diterjemahkan menjadi pembagian peran yang konkret. Pemerintah dapat menyiapkan kebijakan dan dukungan program, Perbakin menangani pembinaan olahraga, sementara institusi yang memiliki fasilitas dan keahlian teknis dapat mendukung sesuai kewenangan. Sinergi tidak cukup menjadi kata dalam sambutan; keberhasilannya harus dapat diukur melalui program, jadwal, anggaran, dan prestasi.
Penggunaan Steyr AUG oleh gubernur memang menghasilkan gambar yang kuat secara jurnalistik. Namun senjata itu seharusnya hanya menjadi pintu masuk untuk membaca persoalan yang lebih besar. Inti ceritanya bukan seorang kepala daerah mampu membidik sasaran, melainkan apakah pemerintah mampu membidik sasaran kebijakan dengan presisi yang sama.
Tema HUT Maluku Utara, “Tumbuhnya Harus Terasa”, pada akhirnya menemukan ujian konkret di lapangan tembak. Pertumbuhan olahraga tidak cukup diukur dari satu lomba dan seratus peserta. Ia baru terasa jika setahun kemudian muncul lebih banyak atlet, kompetisi tetap berjalan, pelatih bertambah, prestasi meningkat, dan fasilitas benar-benar digunakan untuk pembinaan.
Karena itu, lomba 7 Oktober sebaiknya dipandang sebagai titik awal, bukan garis akhir. Setelah senjata disimpan dan panggung seremoni dibongkar, pertanyaan publik justru baru dimulai: kapan kompetisi berikutnya, siapa yang dibina, bagaimana proses seleksinya, dan prestasi apa yang ditargetkan? Sebab keberhasilan sebuah kebijakan olahraga tidak ditentukan oleh kerasnya dentuman pembukaan, tetapi oleh konsistensi latihan setelah suara itu menghilang.













