Pintu ballroom menutup di belakang Panji dan membuat tepuk tangan terdengar seperti hujan yang jatuh di atap jauh. Ia berdiri di lorong belakang hotel dengan piala di tangan kanan dan sebuah amplop cokelat kusam di tangan kiri. Namanya masih disebut dari dalam ruangan, tetapi ia tidak segera kembali. Sebelas tahun lalu, amplop serupa pernah mengajarinya bahwa hidup bukan perlombaan, dan malam ini sebuah surat lain menunggu untuk membuktikan bahwa pelajaran itu belum selesai.
Udara dari pendingin ruangan terasa terlalu dingin ketika Panji meraba permukaan amplop yang mulai lembek di sudutnya. Beberapa menit sebelumnya, ratusan orang berdiri memberikan tepuk tangan setelah namanya diumumkan sebagai pengusaha inspiratif tahun itu. Di barisan depan, Bima adalah orang yang bertepuk tangan paling lama. Panji sempat melihat sahabatnya tersenyum, tetapi senyum itu justru membawanya kembali kepada sebuah malam yang selama bertahun tahun ingin dilupakannya.
Sebelas tahun sebelumnya, Panji duduk di kamar sempit rumah ibunya sambil menatap foto sebuah mobil hitam pada layar telepon genggam. Bima berdiri di samping mobil itu dengan kemeja putih, tersenyum sambil mengangkat kunci, sedangkan puluhan komentar berisi ucapan selamat memenuhi layar. Panji memperbesar foto tersebut sampai wajah Bima memenuhi layar, lalu memperkecilnya lagi untuk melihat rumah bertingkat di belakang mobil. Ia menutup aplikasi tanpa memberikan tanda suka.
Mereka pernah duduk sebangku selama tiga tahun di SMA, tetapi kehidupan setelah sekolah membawa keduanya ke arah berbeda. Panji dikenal pintar dan beberapa kali menjadi juara kelas, sedangkan Bima lebih sering meminjam catatan karena kesulitan memahami pelajaran. Guru matematika bahkan pernah bercanda bahwa kelak Bima mungkin akan bekerja kepada Panji. Kenangan itu membuat Panji semakin sulit memahami mengapa orang yang dahulu dibantunya justru tampak berjalan jauh di depannya.
Pada usia tiga puluh tahun, keberhasilan orang lain perlahan berubah menjadi angka pada papan skor yang hanya dapat dilihat Panji. Seseorang membeli rumah, seseorang memperoleh jabatan, seseorang membuka usaha, lalu seseorang mengunggah foto perjalanan keluarga dari luar negeri. Setiap kabar baik orang lain seperti menambahkan angka di sisi lawan, sedangkan hidup Panji sendiri terasa tidak bergerak. Ia tetap mengucapkan selamat jika terpaksa, tetapi selalu ada rasa pahit yang tertinggal sesudahnya.
Ibunya beberapa kali melihat Panji makan malam sambil terus menatap layar telepon genggam. Perempuan itu tidak pernah bertanya siapa yang sedang membuat anaknya gelisah, tetapi suatu malam ia mengambil telepon tersebut dan meletakkannya di atas lemari. Panji sempat kesal, sementara ibunya kembali duduk dan meneruskan makan seolah tidak terjadi apa apa. Sebelum membawa piring ke dapur, perempuan itu hanya berkata bahwa nasi di piring sendiri akan keburu dingin jika seseorang terlalu lama memperhatikan piring tetangganya.
Panji tidak menjawab, bahkan menganggap ucapan itu sebagai nasihat orang tua yang tidak memahami kehidupan zaman sekarang. Namun beberapa bulan kemudian, perusahaan tempatnya bekerja mengalami kesulitan dan namanya termasuk dalam daftar pegawai yang diberhentikan. Ia pulang membawa sebuah kardus berisi kalender meja, dua map, gelas kopi, dan tanaman kecil yang daunnya sudah menguning. Ketika membuka telepon genggam di kamar, pesan pertama yang muncul justru undangan dari Bima untuk menghadiri peresmian kantor barunya.
Panji tidak datang.
Ia mengatakan kepada Bima bahwa ibunya sedang sakit, padahal malam itu perempuan tersebut sedang menyiram tanaman di halaman. Panji mematikan telepon genggam lalu tidur lebih awal, tetapi tidak benar benar terlelap karena suara kendaraan yang lewat di depan rumah berkali kali membangunkannya. Menjelang tengah malam, ia membuka media sosial dan melihat foto Bima berdiri bersama teman teman mereka di depan kantor baru. Untuk pertama kalinya, rasa iri membuatnya berbohong kepada seorang sahabat.
Tiga hari kemudian Bima datang membawa sekotak makanan dari acara peresmian. Ia tidak mempertanyakan alasan Panji absen dan tidak pula membicarakan kantor barunya, melainkan duduk di teras bersama ibu Panji sambil menikmati kopi. Panji merasa semakin tidak nyaman ketika Bima justru bertanya apakah perusahaan tempatnya bekerja benar benar sedang melakukan pengurangan pegawai. Ia menjawab singkat bahwa dirinya baik baik saja meskipun kardus bekas dari kantor masih tergeletak di sudut ruang tamu.
Bima melihat kardus itu, tetapi tidak mengatakan apa pun. Sebelum pulang, ia menyerahkan sebuah kartu nama dan mengatakan bahwa kantornya membutuhkan orang yang dapat membantu membuat materi promosi. Panji memandangi kartu tersebut lama setelah sepeda motor Bima menghilang di ujung gang. Bukannya merasa tertolong, ia justru merasa sedang dikasihani oleh orang yang dahulu sering meminta bantuannya mengerjakan matematika.
Kartu itu masuk ke tempat sampah malam itu.
Beberapa minggu kemudian Panji mengetahui dari teman lain bahwa kantor baru Bima sebenarnya dibangun dengan pinjaman bank. Mobil hitam yang membuatnya iri juga belum lunas, sedangkan Bima telah menjual sebidang tanah warisan ayahnya untuk mempertahankan usaha. Dua bulan setelah peresmian, salah satu pelanggan terbesar Bima bahkan membatalkan kontrak dan membuat puluhan pegawainya terancam kehilangan pekerjaan. Tidak satu pun dari hal tersebut terlihat pada foto yang pernah membuat Panji tidak dapat tidur.
Suatu sore Bima datang lagi, kali ini tanpa mobil hitam yang dahulu dipamerkannya. Ia mengendarai sepeda motor tua dan membawa setumpuk contoh kemasan yang perlu dicetak dalam jumlah kecil. Bima mengaku tidak mampu membayar percetakan besar dan bertanya apakah Panji bersedia membantu mencarikan tempat yang lebih murah. Pertanyaan sederhana itu membuat Panji teringat mesin cetak bekas milik pamannya yang tersimpan di gudang belakang rumah.
Mereka membersihkan mesin itu selama dua hari. Tangan Panji berbau oli, sementara Bima berkali kali bersin karena debu yang menempel pada penutup mesin. Pesanan pertama hanya menghasilkan keuntungan yang cukup untuk membeli makan malam, tetapi Panji menyimpan lembar pertama yang keluar dari mesin seperti seseorang menyimpan foto kelahiran anaknya. Ibunya menempelkan lembar tersebut di dinding dekat meja makan tanpa mengatakan apa apa.
Usaha kecil itu tumbuh tanpa pernah benar benar terlihat mengagumkan. Ada malam ketika Panji tidur di lantai karena harus menunggu mesin selesai mencetak, ada pagi ketika listrik hampir diputus karena tagihan belum terbayar, dan ada bulan ketika ia hanya mampu membayar pegawainya setelah meminjam uang dari Bima. Pada salah satu malam terburuk, Panji membuka media sosial dan melihat seorang teman kuliah baru saja membeli rumah. Jarinya sempat berhenti di atas layar sebelum akhirnya mengetik ucapan selamat dan kembali menghitung tagihan.
Lima tahun berlalu sebelum percetakan itu memiliki bangunan sendiri. Panji tidak pernah dapat menentukan hari tepat ketika rasa iri berhenti menguasainya, sebab perubahan itu tidak datang seperti pintu yang tiba tiba terbuka. Perasaan tersebut sesekali masih muncul ketika seseorang memperoleh sesuatu yang diinginkannya. Bedanya, kini Panji tahu bahwa perasaan itu tidak harus menentukan apa yang dilakukan setelahnya.
Ibunya meninggal pada tahun keenam usaha tersebut berjalan. Seusai pemakaman, Panji membereskan lemari pakaian dan menemukan sebuah amplop cokelat dengan namanya tertulis menggunakan tinta biru. Di dalamnya terdapat potongan kertas kecil yang selama bertahun tahun disimpan ibunya, mulai dari fotokopi rapor, kuitansi gaji pertama, hingga salinan nota pesanan pertama percetakannya. Di bagian paling bawah terdapat selembar kertas dengan tulisan yang sangat pendek.
“Ibu cuma takut kamu terlalu sibuk menghitung milik orang lain sampai lupa menghitung yang sudah kamu punya.”
Panji duduk di lantai kamar sampai azan Magrib terdengar. Untuk pertama kalinya ia memahami mengapa ibunya menempelkan hasil cetakan pertama di dekat meja makan, sementara dirinya bahkan sudah lupa bahwa kertas itu pernah ada. Ia memasukkan kembali seluruh isi amplop dan menyimpannya di laci meja kerja. Sejak saat itu amplop tersebut selalu dibawanya ketika harus mengambil keputusan penting.
Tahun tahun berikutnya berjalan tanpa keajaiban besar. Percetakannya tumbuh menjadi perusahaan kemasan dengan lebih dari seratus pegawai, sedangkan usaha Bima sempat bangkrut sebelum perlahan bangkit kembali dalam bidang berbeda. Anehnya, justru setelah kehilangan kantor dan mobilnya, Bima tampak lebih sering tertawa dibandingkan dahulu. Mereka tidak pernah lagi membicarakan siapa yang lebih berhasil.
Sampai undangan penghargaan itu datang.
Panji hampir tidak menghadiri acara tersebut karena harus menyelesaikan persoalan produksi di pabrik. Bima yang memaksanya datang dan bahkan menjemputnya menggunakan mobil lama yang cat pintunya mulai kusam. Ketika nama Panji diumumkan sebagai penerima penghargaan utama, Bima berdiri paling dahulu sambil bertepuk tangan. Dalam cahaya ballroom yang terang, Panji melihat sahabatnya persis seperti foto sebelas tahun lalu, hanya saja kali ini tidak ada rasa pahit di dadanya.
Di atas panggung, pembawa acara bertanya siapa yang paling berjasa dalam perjalanan usahanya. Panji menyebut ibunya, para pegawai, dan seorang sahabat yang pernah datang membawa pesanan ketika dirinya tidak mempunyai pekerjaan. Kamera menyorot Bima yang tertawa sambil menundukkan kepala. Tidak seorang pun di ruangan itu mengetahui bahwa dahulu Panji pernah membuang kartu nama sahabat tersebut ke tempat sampah hanya karena tidak sanggup menerima kenyataan bahwa orang lain lebih dahulu berhasil.
Setelah acara utama selesai, Bima menarik Panji menuju lorong belakang hotel. Dari saku jasnya ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat lain yang bentuknya hampir sama dengan amplop peninggalan ibu Panji. Panji langsung mengenali tulisan tangan di bagian depan dan untuk beberapa detik tidak berani menerimanya. Bima mengatakan bahwa ibu Panji menitipkan surat tersebut beberapa bulan sebelum meninggal.
“Mengapa baru sekarang?” tanya Panji.
Bima mengusap sudut amplop sebelum menjawab bahwa tidak ada tanggal ataupun syarat khusus dari ibu Panji. Perempuan itu hanya berpesan agar surat diberikan ketika Bima merasa Panji sudah menganggap dirinya berhasil. Selama bertahun tahun Bima menyimpannya karena tidak pernah yakin kapan saat itu akan datang. Malam ini, ketika melihat Panji berdiri menerima piala di hadapan ratusan orang, ia merasa tidak memiliki alasan untuk menundanya lagi.
Panji membuka amplop itu perlahan. Di dalamnya hanya terdapat selembar kertas, jauh lebih sedikit daripada amplop pertama yang dipenuhi catatan tentang perjalanan hidupnya. Tulisan ibunya tampak lebih goyah, seolah dibuat ketika tangan perempuan itu sudah mulai kehilangan kekuatan. Panji membaca kalimat pertama sambil masih mendengar tepuk tangan dari ballroom di balik pintu.
Ibunya menulis bahwa ia bahagia melihat Panji akhirnya belajar ikut senang ketika orang lain memperoleh sesuatu yang belum dimilikinya. Namun perempuan itu mengingatkan bahwa manusia dapat tersesat dengan dua cara yang berlawanan, yakni merasa dirinya terlalu rendah ketika melihat orang lain berada di atas atau merasa dirinya terlalu tinggi ketika suatu hari berada di atas orang lain. Di bagian paling bawah terdapat satu kalimat yang ditulis lebih besar daripada kalimat lainnya. Panji membacanya dua kali.
“Nak, jangan merasa rendah ketika orang lain berhasil, dan jangan merasa tinggi ketika giliranmu berhasil.”
Panji tidak mengatakan apa apa. Ia memandang piala berkilau di tangan kanannya, kemudian memandang Bima yang sebelas tahun lalu pernah membuatnya tidak dapat tidur hanya karena memiliki mobil lebih dahulu. Dari ballroom terdengar seseorang memanggil namanya untuk sesi foto para penerima penghargaan. Bima memberi isyarat agar Panji segera kembali sebelum orang orang mencarinya.
Panji menyerahkan piala itu kepada Bima dan meminta sahabatnya memegangnya sebentar. Ia melipat surat ibunya, memasukkannya ke saku jas paling dekat dengan dada, kemudian membuka pintu menuju ballroom. Cahaya lampu dan tepuk tangan kembali menyambutnya, tetapi sebelum melangkah masuk Panji menoleh kepada Bima yang masih memegang piala tersebut. Untuk pertama kalinya pada malam ketika semua orang menyebutnya pemenang, Panji tidak merasa sedang mengalahkan siapa pun.













