Musyawarah Sebelum Keputusan Besar

banner 120x600

Dalam perjalanan menuju Badar, Rasulullah saw. menunjukkan bahwa keputusan besar tidak cukup hanya dengan keberanian pemimpin. Orang yang akan memikul risiko perlu didengar, diyakinkan, dan dilibatkan. Dari lembah Dzafiran, kita belajar bahwa musyawarah bukan sekadar formalitas, melainkan jalan menjaga kepercayaan, menyatukan hati, memperjelas tanggung jawab, dan memastikan bahwa keputusan bersama benar-benar lahir dari kesadaran yang tulus.

Peristiwa menuju Perang Badar memberikan pelajaran yang sangat dalam tentang kepemimpinan. Ketika Rasulullah saw. memperoleh kabar bahwa pasukan Quraisy telah bergerak dari Makkah dalam jumlah besar, beliau tidak serta-merta memaksakan keputusan. Di lembah Dzafiran, beliau mengumpulkan para sahabat dan meminta pendapat mereka.

Abu Bakar ash-Shiddiq berbicara, Umar bin Khattab berbicara, demikian pula Miqdad bin Amr yang menyatakan kesiapan untuk mengikuti Rasulullah saw. Namun, Rasulullah saw. masih meminta pendapat. Dalam riwayat sirah yang dinisbatkan kepada Ibnu Ishaq, hal itu berkaitan dengan keinginan beliau mendengar sikap kaum Anshar. Mereka telah berbaiat di Aqabah, tetapi terdapat konteks tanggung jawab yang perlu diperjelas ketika menghadapi pasukan Quraisy di luar Madinah.

Sa’d bin Mu’adz kemudian menyampaikan sikap Anshar dengan tegas. Ia menunjukkan bahwa mereka telah membenarkan Rasulullah saw. dan siap mengikutinya. Bahkan, jika perjalanan itu harus menyeberangi lautan, mereka tetap bersedia.

Peristiwa tersebut selaras dengan prinsip Al-Qur’an tentang musyawarah. Allah berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 159:

BERITA TERKAIT  Dosa Kecil Yang Menjadi Kebiasaan

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka berkat rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”

Ayat tersebut memperlihatkan urutan yang sangat indah. Ada kelembutan, ada pemaafan, ada musyawarah, kemudian ada ketegasan dalam mengambil keputusan. Musyawarah bukan berarti seorang pemimpin kehilangan kewenangan. Musyawarah justru membuat keputusan memiliki landasan moral yang lebih kuat.

Allah juga berfirman dalam Surah Asy-Syura ayat 38:

وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ

“Dan bagi orang-orang yang menerima seruan Tuhan mereka, melaksanakan salat, sedang urusan mereka diputuskan dengan musyawarah antara mereka, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”

Musyawarah, dengan demikian, bukan sekadar teknik organisasi. Ia merupakan bagian dari akhlak kehidupan orang beriman. Orang yang terbiasa bermusyawarah belajar menahan ego, memberi ruang kepada pandangan orang lain, dan menyadari bahwa dirinya tidak selalu memiliki seluruh jawaban.

BERITA TERKAIT  Uang Berhamburan, Warga Menagih UHC Pamekasan

Rasulullah saw. sendiri merupakan manusia yang menerima wahyu, tetapi tetap bermusyawarah dalam perkara yang memang terbuka untuk pertimbangan manusia. Inilah keteladanan yang sangat penting. Semakin besar amanah seorang pemimpin, semakin besar pula kebutuhan untuk mendengar orang-orang yang akan ikut menjalani akibat dari keputusan tersebut.

Dalam kehidupan keluarga, organisasi, masyarakat, bahkan dalam urusan publik, prinsip ini tetap relevan. Keputusan yang dampaknya ditanggung banyak orang semestinya tidak hanya berhenti pada kalimat, “Keputusan sudah dibuat.” Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah mereka yang akan menjalankan keputusan itu telah didengar? Apakah keberatan mereka telah dipertimbangkan? Apakah mereka memahami alasan keputusan tersebut? Dan apakah mereka siap memikul tanggung jawab bersama?

Namun, musyawarah juga bukan ruang untuk memperpanjang perdebatan tanpa ujung. Al-Qur’an memberikan keseimbangan: فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ, “Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.” Setelah proses musyawarah selesai, seorang pemimpin harus berani mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas keputusan itu.

Di sinilah perbedaan antara musyawarah dan sekadar mencari pembenaran. Mencari pembenaran berarti hanya mengumpulkan suara yang sudah sejalan dengan kehendak sendiri. Musyawarah justru memberi kesempatan kepada orang lain untuk menyampaikan pandangan, termasuk kekhawatiran, keberatan, dan konsekuensi yang mungkin belum terlihat oleh pemimpin.

BERITA TERKAIT  Saat Gengsi Kalah oleh Kebutuhan Ekonomi

Kisah menuju Badar mengajarkan bahwa kepemimpinan Rasulullah saw. bukan kepemimpinan yang dibangun dengan jarak. Beliau dekat dengan para sahabat, mendengar mereka, memahami kondisi mereka, kemudian mengambil keputusan dengan keteguhan hati.

Karena itu, dalam setiap amanah, jangan hanya bertanya, “Apakah keputusan ini benar menurut saya?” Tanyakan pula, “Siapa yang akan menjalankannya? Siapa yang akan menanggung risikonya? Sudahkah mereka didengar dengan jujur?”

Mendengar bukan berarti selalu mengikuti. Menghargai pendapat bukan berarti menyerahkan seluruh keputusan kepada orang lain. Musyawarah adalah proses memuliakan manusia sebelum menetapkan arah bersama.

Rasulullah saw. telah menunjukkan bahwa pemimpin yang baik bukanlah orang yang paling cepat berbicara, melainkan orang yang mampu mendengar dengan hati terbuka, mempertimbangkan dengan jernih, lalu mengambil keputusan dengan penuh tanggung jawab dan tawakal kepada Allah.

Sebuah keputusan mungkin tetap berat. Risiko mungkin tetap ada. Perbedaan pendapat mungkin tidak seluruhnya hilang. Tetapi ketika orang telah didengar secara layak dan keputusan diambil melalui proses yang jujur, tumbuh sesuatu yang sangat penting: kepercayaan.

Dan kepercayaan itulah salah satu kekuatan terbesar dalam perjalanan sebuah keluarga, organisasi, masyarakat, maupun bangsa.

Penulis: Dwi Taufan HidayatEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *