BuserNasional.my.id – Foto ini menangkap senyum Soekarno dan Soeharto ketika Indonesia sedang berada di titik balik sejarah. Di ruang yang tampak hangat, pusat kekuasaan justru sedang bergeser. Soekarno masih Presiden, sedangkan Soeharto makin menentukan arah politik dan keamanan. Enam puluh tahun kemudian, senyum itu mengajak kita membaca kembali bagaimana kekuasaan berpindah tanpa selalu tampak seperti sebuah perebutan kekuasaan secara terbuka dan kasatmata.
Ada sesuatu yang menarik dari foto itu. Soekarno tampak tertawa lepas. Di hadapannya, Soeharto tersenyum dengan seragam militernya. Keduanya tidak memperlihatkan ketegangan. Tidak ada gestur konfrontatif. Tidak ada tanda bahwa Indonesia sedang berada di tengah perubahan politik yang kelak mengakhiri sebuah era dan melahirkan rezim yang bertahan lebih dari tiga dasawarsa.
Namun sejarah tidak selalu memperlihatkan perubahan melalui wajah yang tegang. Ada kalanya perubahan terbesar justru berlangsung di balik percakapan yang tampak biasa, jamuan resmi, jabat tangan, atau bahkan sebuah senyum.
Arsip Kompas yang diterbitkan pada 2 Maret 2020 memberi keterangan bahwa foto tersebut memperlihatkan Soekarno diapit dua jenderal Angkatan Darat, A.H. Nasution dan Soeharto, ketika bertemu di Istana Merdeka, Jakarta, pada 1966. Keterangan itu penting karena menempatkan foto bukan sekadar sebagai ilustrasi Supersemar, melainkan sebagai dokumen visual dari sebuah tahun yang sangat menentukan dalam sejarah Indonesia.
Karena itu, foto ini sebaiknya tidak buru-buru disebut sebagai foto sesudah Supersemar. Tidak terdapat dasar yang cukup untuk memastikan bahwa momen pemotretan persis terjadi setelah Surat Perintah 11 Maret 1966. Yang lebih aman dan justru lebih menarik adalah menempatkannya dalam lanskap politik 1966, ketika hubungan Soekarno dan Soeharto sedang berada dalam pusaran perubahan kekuasaan.
Pada saat itu Soekarno masih Presiden Republik Indonesia. Ia masih memiliki simbol, legitimasi historis, dan pengaruh yang besar. Namanya adalah bagian tak terpisahkan dari kelahiran republik. Ia adalah tokoh yang memproklamasikan kemerdekaan, pemimpin revolusi, dan figur yang selama bertahun-tahun menjadi pusat politik Indonesia.
Soeharto berada pada posisi yang berbeda. Ia bukan presiden. Tetapi kekuatan institusional yang berada di belakangnya membuat posisinya semakin menentukan. Arsip Pusat Studi Arsip Statis Kepresidenan ANRI mencatat bahwa setelah G30S, Soeharto mengambil alih pimpinan Angkatan Darat, kemudian dikukuhkan sebagai Pangad sekaligus ditunjuk sebagai Pangkopkamtib oleh Presiden Soekarno. Pada Maret 1966, ia menerima Supersemar dari Soekarno.
Di sinilah foto tersebut menjadi lebih dari sekadar kenangan visual. Ia memperlihatkan dua bentuk kekuasaan yang masih berdiri berdampingan: kekuasaan presidensial yang memiliki legitimasi simbolik dan kekuasaan militer yang sedang memperoleh pengaruh politik semakin besar.
Indonesia pada 1966 bukan negeri yang sedang baik-baik saja. Setelah G30S 1965, hubungan politik antara berbagai kelompok berubah drastis. PKI menjadi sasaran utama penindakan. Gerakan mahasiswa dan pemuda menguat. Ekonomi mengalami tekanan berat. Pemerintahan Soekarno menghadapi tuntutan yang semakin keras.
Kompas.com dalam tulisan 2 Maret 2020 mencatat bahwa memasuki 1966 inflasi mencapai lebih dari 600 persen. Pada 12 Januari 1966, Front Pancasila mengajukan Tritura: pembubaran PKI, pembersihan kabinet dari unsur yang dianggap terlibat G30S, serta penurunan harga. Jalan-jalan Jakarta menjadi ruang pertarungan politik yang semakin terbuka.
Krisis ekonomi dan politik kemudian saling memperkuat. Ketika negara menghadapi tekanan ekonomi, legitimasi politik pemerintah ikut terkikis. Ketika demonstrasi membesar, aparat keamanan semakin menentukan. Dalam keadaan seperti itu, siapa yang mampu mengendalikan aparatur negara memiliki pengaruh yang jauh melampaui sekadar jabatan formal.
Supersemar menjadi salah satu simpul terpenting dari proses tersebut.
Pada 11 Maret 1966, demonstrasi berlangsung ketika Soekarno memimpin sidang kabinet di Istana Negara. Soeharto, yang saat itu sedang sakit, tidak hadir. Tiga jenderal Angkatan Darat kemudian menemui Soekarno di Istana Bogor. Kompas.com mencatat ketiganya adalah Brigjen Amir Machmud, Brigjen M. Jusuf, dan Mayjen Basuki Rachmat.
Dari peristiwa itu lahirlah Surat Perintah 11 Maret atau Supersemar.
Namun di sinilah sejarah menuntut kehati-hatian. Supersemar tidak boleh diperlakukan sebagai cerita sederhana tentang seorang presiden yang menyerahkan seluruh kekuasaannya kepada seorang jenderal. Bahkan keberadaan dan bentuk naskah asli Supersemar masih menjadi persoalan sejarah karena dokumen asli belum ditemukan dan terdapat beberapa versi naskah.
Kompas.com pada 11 Maret 2024 menempatkan persoalan tersebut sebagai salah satu kontroversi utama Supersemar. Karena itu, istilah yang paling aman adalah bahwa Supersemar memberi Soeharto mandat untuk mengambil tindakan yang dianggap perlu guna memulihkan keamanan dan ketertiban, sementara konsekuensi politik dari mandat tersebut kemudian berkembang jauh lebih luas.
Perubahan itu terlihat segera setelahnya.
Kompas.com mencatat bahwa pada 12 Maret 1966 Soeharto menggunakan mandat tersebut untuk membubarkan PKI dan menyatakan organisasi itu sebagai partai terlarang. Sejumlah menteri juga ditangkap. Dengan tindakan tersebut, kekuasaan yang semula diberikan dalam konteks keamanan mulai menghasilkan konsekuensi politik yang jauh lebih besar.
Di sinilah pergeseran kekuasaan menjadi terlihat.
Bukan melalui satu adegan dramatis ketika seorang presiden diturunkan dari kursinya. Bukan pula melalui satu deklarasi yang langsung mengumumkan pergantian rezim. Pergeseran itu berlangsung melalui serangkaian keputusan yang mengubah keseimbangan kekuasaan sedikit demi sedikit.
Laporan TIME berjudul Indonesia: A General at the Palace, terbit 8 April 1966, memberikan gambaran yang sangat menarik. Majalah itu melaporkan suasana makan malam di Istana Merdeka yang mempertemukan Soekarno dan Soeharto. Pada saat itu Soeharto disebut sebagai tokoh kuat baru yang sedang muncul. Jamuan tersebut bahkan digambarkan sebagai upaya meredakan ketegangan dan membuka jalan menuju kesepakatan antara presiden dan sang jenderal.
Ada ironi besar di sana.
Di depan kamera, keduanya bisa tersenyum. Di dalam struktur politik, keduanya sedang berada dalam hubungan yang semakin tidak seimbang.
TIME pada Juli 1966 bahkan menggambarkan strategi Soeharto yang tidak secara terbuka menyerang Soekarno. Soeharto tetap menyebut Soekarno sebagai Presiden dan berusaha bertindak atas nama Presiden. Cara itu secara politik jauh lebih efektif daripada konfrontasi terbuka, karena Soekarno masih mempunyai basis dukungan dan kharisma yang kuat.
Inilah salah satu pelajaran paling penting dari periode tersebut: kekuasaan tidak selalu harus direbut dengan cara menggulingkan seseorang secara terbuka. Kekuasaan dapat bergeser ketika kewenangan formal masih berada di tangan seseorang, tetapi kemampuan nyata untuk menentukan keputusan mulai berpindah kepada orang lain.
Soekarno masih berada di Istana. Tetapi ruang geraknya semakin menyempit.
Soeharto belum menjadi presiden. Tetapi pengaruhnya semakin luas.
Dua kenyataan itu dapat berlangsung bersamaan.
Dan justru karena itulah foto tersebut menjadi sangat kuat. Kita melihat Soekarno dan Soeharto berdiri dalam satu ruang seolah-olah hubungan keduanya berlangsung biasa saja. Padahal di luar bingkai foto, Indonesia sedang bergerak menuju tatanan politik yang sama sekali berbeda.
Pada Maret 1967, Sidang Istimewa MPRS menunjuk Soeharto sebagai Pejabat Presiden. Setahun kemudian, Maret 1968, Soeharto dikukuhkan sebagai Presiden Republik Indonesia. Data ANRI mencatat kronologi tersebut sebagai bagian dari perjalanan Soeharto menuju kekuasaan presiden setelah krisis politik 1965–1966.
Maka, kalau foto itu dilihat dari masa kini, kita memiliki pengetahuan yang tidak dimiliki orang-orang yang berada di dalamnya. Kita tahu apa yang terjadi setelah kamera berhenti memotret.
Kita tahu bahwa Soekarno akhirnya kehilangan kekuasaan politiknya.
Kita tahu bahwa Soeharto kemudian memimpin Indonesia lebih dari tiga puluh tahun.
Tetapi orang-orang dalam foto itu belum tentu mengetahui seluruh jalan sejarah yang akan terbuka di depan mereka.
Di sinilah kita perlu berhati-hati terhadap godaan membaca sejarah secara retrospektif. Karena mengetahui akhir cerita, kita sering merasa bahwa segala sesuatu sebelumnya pasti menuju akhir tersebut. Padahal sejarah tidak bekerja seperti novel yang sudah memiliki alur tetap.
Pada 1966, banyak kemungkinan masih terbuka.
Soekarno belum sepenuhnya kehilangan pengaruh. Soeharto belum menjadi presiden. Hubungan keduanya masih dinegosiasikan. Bahkan laporan TIME pada April 1966 menunjukkan bahwa suasana politik ketika itu masih berupa tarik-menarik antara mempertahankan posisi Soekarno dan memperbesar peranan kelompok yang berada di belakang Soeharto.
Karena itu, senyum dalam foto tersebut tidak seharusnya dibaca sebagai bukti bahwa hubungan keduanya harmonis. Tetapi juga tidak tepat jika senyum itu dianggap sebagai kepura-puraan yang sejak awal sudah dirancang untuk menutupi perebutan kekuasaan.
Kita tidak tahu isi hati orang yang sedang tersenyum.
Yang dapat dibaca adalah konteksnya.
Dan konteks itu memperlihatkan sebuah negara yang sedang mengalami pergeseran pusat kekuasaan.
Di satu sisi ada Soekarno dengan simbol kepresidenan, sejarah revolusi, dan kharisma politiknya. Di sisi lain ada Soeharto dengan kekuatan militer, kemampuan mengendalikan aparatur keamanan, dan jaringan politik yang semakin berkembang.
Keduanya berada dalam satu bingkai.
Tetapi sejarah menunjukkan bahwa keseimbangan di antara keduanya tidak berlangsung lama.
Ada pula sisi sejarah yang tidak boleh dilupakan ketika membicarakan periode ini. Pergeseran kekuasaan 1965–1966 bukan hanya cerita tentang pergantian elite di Jakarta. Ia berlangsung bersamaan dengan kekerasan politik, pembunuhan massal, penahanan, stigma, dan penderitaan masyarakat dalam skala luas.
Karena itu, feature tentang foto ini tidak seharusnya berhenti pada romantisme dua tokoh yang tertawa bersama. Di balik perubahan politik tersebut terdapat pengalaman manusia yang jauh lebih pahit. Berbagai penelitian sejarah mencatat korban dalam jumlah sangat besar, meskipun angka pastinya masih menjadi perdebatan akademik.
Inilah alasan mengapa membaca kembali foto sejarah membutuhkan jarak kritis.
Foto mengabadikan wajah.
Sejarah harus membaca struktur.
Foto menangkap senyum.
Sejarah harus mencari apa yang terjadi sebelum dan sesudah senyum itu.
Foto menunjukkan siapa yang berdiri berdampingan.
Sejarah bertanya bagaimana hubungan kekuasaan di antara mereka berubah.
Pada akhirnya, nilai sebuah foto sejarah bukan hanya terletak pada siapa yang ada di dalamnya. Nilainya terletak pada kemampuan foto tersebut membuka pertanyaan yang lebih besar tentang perjalanan sebuah bangsa.
Soekarno dan Soeharto dalam foto itu tampak akrab. Tetapi beberapa tahun kemudian, salah satunya telah kehilangan kekuasaan, sementara yang lain berdiri sebagai presiden dengan kekuasaan yang sangat besar.
Tidak ada satu senyum yang dapat menjelaskan seluruh perjalanan itu.
Tidak ada pula satu surat yang dapat menjelaskan seluruh perubahan tersebut.
Supersemar memang menjadi salah satu titik balik penting. Tetapi perubahan kekuasaan terjadi melalui rangkaian peristiwa, keputusan, tekanan politik, perubahan institusi, dan pertarungan legitimasi yang berlangsung berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Karena itu, foto tersebut lebih tepat dibaca sebagai potongan kecil dari sebuah perubahan besar.
Kita tidak sedang melihat seorang presiden dan calon presiden yang sudah mengetahui masa depan mereka.
Kita sedang melihat dua tokoh yang pada suatu hari berada dalam satu ruangan, tersenyum di depan kamera, sementara di luar ruangan sejarah sedang bergerak cepat.
Dan mungkin di situlah pelajaran terbesarnya.
Kekuasaan tidak selalu berubah ketika sebuah kursi berpindah tangan.
Kadang-kadang kekuasaan berubah ketika seseorang masih duduk di kursinya, tetapi semakin sedikit keputusan yang benar-benar dapat ia tentukan.
Sejarah Indonesia 1966 memperlihatkan paradoks itu dengan sangat jelas.
Di dalam foto, Soekarno dan Soeharto tersenyum.
Di luar foto, sebuah zaman sedang berakhir.














