Setiap musim haji, ribuan koper bergerak perlahan di atas ban berjalan menuju perut pesawat yang akan membawa para jamaah pulang ke Indonesia. Di antara koper koper itu tersimpan harapan, kerinduan, dan berbagai oleh oleh yang akan dibagikan kepada keluarga. Sebagian koper berisi kurma, sajadah, tasbih, dan pakaian. Sebagian lainnya menyimpan cerita yang jauh lebih berat daripada barang barang yang dibawa pemiliknya.
Pagi itu gudang pemeriksaan bagasi di kawasan Jumum, Makkah, telah dipenuhi aktivitas sejak matahari terbit. Petugas berdiri di depan layar pemindai sambil mengawasi ratusan koper yang datang dari berbagai hotel tempat jamaah Indonesia menginap. Mesin pemindai berdengung tanpa henti, sementara suara roda koper beradu dengan lantai menciptakan irama yang monoton. Di tempat itulah Farid menjalani tugasnya sebagai petugas pemeriksa bagasi.
Farid sudah enam musim haji bekerja di bagian pemeriksaan koper. Ia hafal berbagai cara yang digunakan jamaah untuk menyembunyikan barang yang tidak diperbolehkan masuk ke pesawat. Pengalamannya membuat ia mampu mengenali bentuk botol air hanya dari bayangan samar di layar monitor. Meski demikian, ia tidak pernah memandang pekerjaannya sekadar rutinitas karena setiap koper selalu menyimpan kisah yang berbeda.
Menjelang siang, sebuah koper biru tua menarik perhatiannya. Pada layar pemindai terlihat beberapa bentuk silinder yang tersusun di antara tumpukan pakaian. Bentuk itu sangat familiar baginya. Ia segera meminta koper tersebut dipisahkan untuk diperiksa lebih lanjut sebelum dimasukkan ke dalam antrean bagasi pesawat.
Tak lama kemudian datang pemilik koper bernama Haji Rahman. Usianya sekitar tujuh puluh tahun dengan wajah yang teduh dan sorot mata yang tenang. Ia berjalan perlahan sambil membawa tas kecil yang tampak sudah usang. Ketika melihat kopernya berada di atas meja pemeriksaan, ia tidak menunjukkan tanda tanda keberatan dan justru mempersilakan petugas melakukan tugas mereka.
Farid membuka koper itu dengan hati hati. Di antara lipatan kain ihram, beberapa bungkus kurma, dan pakaian ganti, ia menemukan empat botol besar berisi air zamzam. Botol botol itu dibungkus kain dan diselipkan di berbagai sudut koper agar tidak mudah terlihat. Temuan tersebut membuat Farid menghela napas pelan karena kejadian seperti itu hampir selalu terjadi setiap musim haji.
“Dengan hormat, Pak Haji, air zamzam ini tidak bisa dibawa dalam bagasi pesawat,” kata Farid sambil menunjukkan aturan yang berlaku. Ia menjelaskan bahwa setiap jamaah sudah mendapatkan jatah air zamzam resmi yang akan dibagikan saat tiba di Indonesia. Karena itu, botol botol yang ditemukan di dalam koper harus dikeluarkan. Penjelasan tersebut disampaikan dengan nada yang sopan dan penuh penghormatan.
Rahman mendengarkan tanpa menyela sedikit pun. Ia hanya memandangi botol botol yang satu per satu dipindahkan ke keranjang barang sitaan. Tidak ada protes ataupun permintaan khusus. Sikap tenangnya justru membuat Farid merasa penasaran.
“Bapak tampaknya tidak kecewa,” ujar Farid setelah beberapa saat.
Rahman tersenyum tipis. Senyum itu bukan senyum bahagia, melainkan senyum seseorang yang sudah lama berdamai dengan kehilangan. Ia lalu berkata bahwa air zamzam itu sebenarnya ingin ia berikan kepada dua orang yang sangat dicintainya.
Kalimat itu membuat Farid menghentikan pekerjaannya sejenak. Selama bertugas, ia sudah mendengar berbagai alasan dari para jamaah. Ada yang ingin membawa zamzam untuk anak, cucu, tetangga, atau sahabat dekat. Namun cara Rahman mengucapkan kalimat tersebut membuatnya merasa ada cerita yang lebih dalam di balik empat botol itu.
Dari dalam koper, Rahman mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang sudah kusam. Di dalamnya terdapat beberapa foto lama yang warnanya mulai memudar dimakan usia. Pada foto pertama terlihat seorang perempuan muda yang tersenyum di depan rumah sederhana. Pada foto berikutnya tampak seorang anak laki laki yang sedang memegang sepeda kecil sambil tertawa ke arah kamera.
“Itu istri saya,” kata Rahman sambil menunjuk foto pertama. “Dan itu anak saya.”
Farid memperhatikan foto foto tersebut dengan saksama. Ada bekas lipatan dan noda yang menunjukkan bahwa foto itu sering dibuka dan disimpan kembali selama bertahun tahun. Rahman mengusap salah satu foto dengan ujung jarinya sebelum melanjutkan cerita.
Ia bercerita bahwa istrinya meninggal dua belas tahun lalu akibat penyakit yang datang secara tiba tiba. Putra tunggalnya meninggal beberapa tahun kemudian dalam kecelakaan lalu lintas. Sejak saat itu rumah yang dulu penuh tawa berubah menjadi tempat yang sunyi. Tidak ada lagi suara yang menyambutnya ketika pulang bekerja atau menemaninya saat makan malam.
Farid tidak segera menjawab. Ia hanya mendengarkan sambil sesekali menatap wajah pria tua itu. Di balik ketenangannya, ia bisa merasakan kesedihan yang masih tersimpan dalam hati Rahman. Kesedihan yang mungkin tidak pernah benar benar sembuh meskipun waktu telah berlalu begitu lama.
“Saya sudah bertahun tahun hidup sendiri,” lanjut Rahman. “Kalau malam tiba, yang menemani saya hanya kenangan.”
Suasana di sekitar meja pemeriksaan menjadi lebih hening. Beberapa petugas yang berada di dekat mereka tanpa sadar ikut mendengarkan. Tak seorang pun ingin memotong cerita yang keluar perlahan dari bibir pria tua itu.
Rahman kemudian menjelaskan alasan mengapa ia tetap membawa empat botol air zamzam meski mengetahui larangan tersebut. Ia mengatakan bahwa setiap hari Jumat ia selalu mengunjungi makam istrinya dan putranya. Di sana ia membersihkan rumput liar, membacakan doa, dan berbicara seolah mereka masih bisa mendengarnya.
“Saya berniat membawa air zamzam ini ke makam mereka,” katanya pelan. “Bukan karena saya menganggap air itu bisa mengubah apa pun, tetapi karena saya ingin membawa pulang sesuatu dari perjalanan yang selama ini hanya bisa mereka impikan bersama saya.”
Kalimat itu membuat dada Farid terasa sesak. Ia teringat ayahnya yang meninggal beberapa tahun lalu dan makam yang kini jarang ia kunjungi karena kesibukan pekerjaan. Tiba tiba ia merasa bahwa pria tua di hadapannya tidak sedang berbicara tentang air zamzam. Ia sedang berbicara tentang cinta yang tidak selesai oleh kematian.
Meski tersentuh oleh cerita tersebut, Farid tetap harus menjalankan aturan. Empat botol air zamzam itu tidak bisa ikut diterbangkan. Namun sebelum koper ditutup kembali, ia mempunyai sebuah gagasan sederhana. Ia meminta Rahman menyimpan satu botol kecil kosong yang biasa digunakan untuk sampel pemeriksaan.
Botol itu memang tidak berisi air zamzam. Namun Farid menyerahkan secarik kertas kecil dan sebuah pena. Ia meminta Rahman menuliskan pesan yang ingin disampaikan kepada istri dan putranya. Awalnya Rahman tampak bingung, tetapi kemudian ia tersenyum dan mulai menulis dengan tangan yang sedikit bergetar.
Beberapa menit kemudian kertas itu selesai ditulis dan dimasukkan ke dalam botol kecil tersebut. Rahman memegangnya lama sekali sebelum menyimpannya di dalam tas. Matanya berkaca kaca, tetapi kali ini ada kelegaan yang tampak jelas di wajahnya.
Ketika proses pemeriksaan selesai, Farid mengembalikan koper biru itu. Rahman menggenggam tangannya erat dan mengucapkan terima kasih. Bukan karena botol botol zamzamnya diizinkan lolos, melainkan karena seseorang telah memberinya ruang untuk menyimpan kerinduan dengan cara yang berbeda.
Beberapa minggu kemudian, setelah musim haji berakhir, Farid menerima sebuah surat yang dikirim dari Indonesia. Pengirimnya adalah Haji Rahman. Dalam surat itu terdapat sebuah foto yang memperlihatkan dua makam berdampingan di bawah pohon kamboja yang rindang. Di antara kedua makam itu berdiri Rahman sambil memegang botol kecil yang pernah diberikan Farid.
Di balik foto tersebut tertulis satu kalimat pendek.
“Air zamzam memang tidak sampai ke sini, tetapi doa dan cinta saya akhirnya sampai.”
Farid membaca kalimat itu berulang kali. Untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa tidak semua perjalanan pulang harus membawa oleh oleh dalam koper. Ada kalanya yang paling berharga justru sesuatu yang tidak terlihat, tidak bisa ditimbang, dan tidak bisa disita oleh aturan apa pun.
Sejak hari itu, setiap kali memeriksa koper jamaah, Farid selalu mengingat wajah Haji Rahman. Ia memahami bahwa di balik setiap barang bawaan terdapat cerita yang tidak tercatat dalam manifes penerbangan. Dan di antara ribuan koper yang pernah melewati tangannya, koper biru milik Rahman tetap menjadi pengingat bahwa cinta yang tulus selalu menemukan jalan untuk pulang.














