Keselamatan Dalam Menjaga Diri

banner 120x600

Di tengah derasnya arus kehidupan modern yang penuh hiruk pikuk informasi dan godaan sosial Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengingatkan bahwa akan datang masa ketika keselamatan lebih banyak ditemukan dalam menjauh dari keramaian dan menjaga lisan serta hati agar tetap tenang sebab diam menjadi benteng bagi jiwa dan kesadaran spiritual seorang mukmin yang ingin selamat dunia akhirat dan akhirat selamanya

Pesan ini bukan ajakan untuk memutus hubungan sosial secara total, melainkan tuntunan untuk menata batas, memilah pergaulan, dan menjaga diri dari fitnah yang tidak perlu. Dalam kehidupan yang serba terbuka hari ini, manusia mudah sekali terseret dalam percakapan yang tidak bermanfaat, opini yang tidak terkontrol, serta informasi yang melelahkan hati. Di sinilah kebijaksanaan para ulama dan sahabat Nabi menjadi cahaya penuntun agar seorang mukmin tidak kehilangan arah.

Allah ﷻ telah mengingatkan dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

BERITA TERKAIT  Mengalahkan Bodoh Dengan Hikmah

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Ayat ini menegaskan bahwa keselamatan hati sangat berkaitan dengan kemampuan seseorang menahan diri dari lisan yang tidak terjaga dan pikiran yang tidak terkendali. Menjauh dari hal-hal yang tidak perlu bukan berarti lemah, tetapi justru bentuk kekuatan dalam mengendalikan diri.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjadi fondasi utama dalam etika komunikasi seorang mukmin. Di era ketika setiap orang dapat berbicara tanpa batas melalui lisan maupun media, maka diam yang terarah menjadi bentuk ibadah yang menjaga keselamatan diri dari dosa yang tidak disadari.

BERITA TERKAIT  Jangan Ribet Oleh Hal Remeh

Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah menasihati: “Akan datang suatu masa di mana sembilan persepuluh dari keselamatan (kesejahteraan) ada pada menjauhkan diri dari orang-orang, dan satu bagian sisanya ada pada diam.” Pesan ini mengandung hikmah mendalam bahwa tidak semua interaksi membawa kebaikan, dan tidak semua kehadiran manusia memberikan ketenangan bagi jiwa.

Dalam konteks kehidupan modern, makna “menjauh” bukan berarti mengasingkan diri secara fisik, tetapi mengurangi keterlibatan dalam hal yang tidak membawa manfaat spiritual. Seorang mukmin tetap hidup bermasyarakat, namun ia memiliki ruang sunyi dalam dirinya untuk berdialog dengan Allah, merenung, dan memperbaiki hati.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa banyak penyakit hati berasal dari terlalu banyak bergaul tanpa kendali, terlalu banyak berbicara tanpa kebutuhan, dan terlalu sering mengikuti urusan orang lain yang tidak berkaitan dengan kewajiban dirinya. Karena itu, menjaga diri adalah bagian dari tazkiyatun nafs, yaitu penyucian jiwa agar kembali kepada fitrah yang tenang.

Ketika seseorang mampu menjaga lisannya, ia sedang menjaga pintu keselamatan dirinya. Ketika ia mampu memilih diam daripada berdebat tanpa manfaat, ia sedang menyelamatkan hatinya dari kerasnya perpecahan. Dan ketika ia mampu menahan diri dari keramaian yang melalaikan, ia sedang membuka jalan menuju ketenangan yang lebih dalam.

BERITA TERKAIT  Habiburrahman Dirikan Pesantren Internasional di Salatiga

Hidup ini pada akhirnya bukan tentang seberapa banyak kita berbicara atau terlihat, tetapi seberapa bersih hati kita ketika kembali kepada Allah. Karena itu, pesan Sayyidina Ali menjadi relevan di setiap zaman: keselamatan sering kali tidak terletak pada banyaknya interaksi, tetapi pada kemampuan menjaga diri, diam yang bijak, dan hati yang selalu terhubung kepada Allah.

Maka barang siapa ingin selamat di tengah zaman yang bising ini, hendaklah ia belajar menahan diri, memperbanyak diam yang bermakna, serta memilih lingkungan yang menumbuhkan ketenangan. Sebab di dalam diam yang benar, terdapat ruang bagi doa yang paling jernih, dan di dalam kesendirian yang terjaga, terdapat jalan menuju kedekatan dengan Allah yang tidak tergantikan oleh keramaian apa pun.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *