Cerpen  

PENELEH DAN LAHIRNYA TIGA JALAN BESAR INDONESIA

banner 120x600

Sejarah : Di sebuah rumah kos sederhana di Gang Peneleh, Surabaya, berlangsung salah satu proses kaderisasi politik paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Dari ruang yang sama lahir tokoh nasionalis, komunis, dan Islamis yang kelak menentukan arah bangsa. Mereka berbeda dalam tujuan politik, bahkan saling berhadapan dalam sejarah, tetapi pernah belajar di bawah bimbingan seorang guru yang sama: H.O.S. Tjokroaminoto.

Rumah Kecil dengan Jejak Sejarah Besar

Di Jalan Peneleh Gang VII Nomor 29 sampai 31, Surabaya, berdiri sebuah rumah yang secara fisik tidak berbeda jauh dengan rumah penduduk pada umumnya. Bangunannya sederhana, ruangannya terbatas, dan berada di lingkungan padat penduduk. Namun rumah itulah yang kemudian dikenal sebagai salah satu pusat lahirnya pemikiran politik modern Indonesia. Di tempat tersebut, para pemuda dari berbagai latar belakang berkumpul, berdiskusi, berdebat, dan membangun gagasan tentang masa depan bangsa yang masih berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda. Informasi mengenai fungsi rumah Peneleh sebagai tempat tinggal sekaligus ruang pembelajaran politik dapat ditemukan dalam laporan Kompas.com, “Menengok Rumah HOS Tjokroaminoto di Peneleh Surabaya”, 10 November 2020.

Rumah itu menjadi terkenal bukan karena kemegahan bangunannya, melainkan karena sosok yang tinggal di dalamnya. Pemilik rumah tersebut adalah Haji Oemar Said Tjokroaminoto, tokoh Sarekat Islam yang pada awal abad ke 20 dikenal sebagai salah satu pemimpin pergerakan paling berpengaruh di Hindia Belanda. Dari rumah itulah lahir jaringan kader yang kelak menempati posisi penting dalam perjalanan sejarah Indonesia. Keterangan mengenai peran sentral Tjokroaminoto dalam Sarekat Islam dapat ditemukan dalam artikel Historia.id, “HOS Tjokroaminoto Raja Jawa Tanpa Mahkota”, 16 Agustus 2020.

Bangsawan yang Memilih Jalan Perjuangan

H.O.S. Tjokroaminoto lahir di Ponorogo, Jawa Timur, pada 16 Agustus 1882. Ia berasal dari keluarga priyayi yang memiliki kedudukan terhormat dalam birokrasi pemerintahan kolonial. Ayahnya, R.M. Tjokroamiseno, merupakan seorang wedana, sementara garis keluarganya memiliki hubungan dengan kalangan aristokrasi Jawa. Latar belakang tersebut sebenarnya membuka jalan baginya untuk menikmati kehidupan yang relatif nyaman dalam struktur pemerintahan kolonial. Data biografis ini tercatat dalam Ensiklopedia Tokoh Kemendikbud dan berbagai kajian sejarah pergerakan nasional.

Setelah menempuh pendidikan di OSVIA Magelang, sekolah calon pegawai pemerintahan pribumi, Tjokroaminoto sempat bekerja dalam birokrasi kolonial. Namun karier tersebut tidak berlangsung lama. Ia memilih meninggalkan posisi yang menjanjikan dan beralih ke dunia usaha serta aktivitas sosial politik. Keputusan itu menjadi titik penting yang mengubah arah hidupnya. Alih alih menjadi bagian dari mesin kolonial, ia memilih berdiri bersama rakyat yang mengalami ketidakadilan akibat sistem penjajahan. Fakta ini dijelaskan dalam artikel Muhammadiyah.or.id, “HOS Tjokroaminoto Guru Para Pendiri Bangsa”, 16 Agustus 2022.

BERITA TERKAIT  Cerpen: Catatan Angka Cinta di Meja Sunyi

Ketika menetap di Surabaya, Tjokroaminoto menemukan ruang perjuangan yang lebih luas. Melalui Sarekat Islam, organisasi yang semula bergerak di bidang ekonomi dan perdagangan, ia membangun gerakan massa yang menjangkau berbagai lapisan masyarakat pribumi. Di bawah kepemimpinannya, Sarekat Islam berkembang menjadi organisasi modern dengan jumlah anggota yang mencapai ratusan ribu orang dan memiliki pengaruh politik yang sangat besar pada masanya. Uraian mengenai perkembangan Sarekat Islam dapat ditemukan dalam buku Takashi Shiraishi, An Age in Motion: Popular Radicalism in Java, 1912 sampai 1926.

Raja Jawa Tanpa Mahkota

Kemampuan pidato Tjokroaminoto menjadi salah satu faktor utama yang membuat pengaruhnya meluas. Ia dikenal mampu menjelaskan persoalan kolonialisme dengan bahasa yang mudah dipahami rakyat. Pidatonya tidak hanya membangkitkan kesadaran politik, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri di kalangan pribumi yang selama berabad abad ditempatkan sebagai warga kelas dua oleh pemerintah kolonial.

Pengaruh besar tersebut membuat pemerintah Belanda menjulukinya De Ongekroonde Koning van Java atau Raja Jawa Tanpa Mahkota. Julukan itu menunjukkan bahwa kekuatan moral dan politik Tjokroaminoto mampu menjangkau masyarakat luas tanpa harus memiliki jabatan resmi dalam pemerintahan. Informasi mengenai julukan tersebut dapat ditemukan dalam artikel Historia.id, “HOS Tjokroaminoto Raja Jawa Tanpa Mahkota”, 16 Agustus 2020.

Prinsip hidup yang sering dikaitkan dengan dirinya adalah “Setinggi tinggi ilmu, semurni murni tauhid, sepintar pintar siasat.” Kalimat ini menggambarkan perpaduan antara pengetahuan, moralitas, dan kecakapan politik yang menjadi dasar perjuangannya. Prinsip tersebut kemudian menjadi salah satu warisan intelektual yang dikenang hingga sekarang.

Peneleh Sebagai Ruang Kaderisasi Politik

Keistimewaan Tjokroaminoto tidak hanya terletak pada kemampuan memimpin organisasi. Ia juga memiliki kemampuan mendidik dan membina generasi muda. Rumahnya di Peneleh menjadi tempat tinggal sekaligus ruang belajar bagi para pemuda yang datang dari berbagai daerah. Mereka tidak hanya memperoleh tempat bermalam, tetapi juga kesempatan mengikuti diskusi politik yang berlangsung hampir setiap hari.

BERITA TERKAIT  Cerpen: At Taubah Membuka Rahasia Malam Itu

Salah satu penghuni rumah yang paling terkenal adalah Soekarno. Dalam autobiografinya yang ditulis bersama Cindy Adams dengan judul Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Soekarno menceritakan bagaimana ia belajar banyak hal dari Tjokroaminoto, terutama tentang pidato, kepemimpinan, dan cara membaca dinamika masyarakat.

Namun Soekarno bukan satu satunya murid yang tumbuh di lingkungan tersebut. Nama nama seperti Musso, Semaun, Alimin, dan Kartosoewirjo juga memiliki hubungan dengan lingkaran Sarekat Islam dan dunia pemikiran yang berkembang di sekitar Tjokroaminoto. Meski demikian, sejumlah sejarawan mengingatkan bahwa tidak semua tokoh tersebut tinggal bersama dalam waktu yang sama ataupun menjalani proses pendidikan yang identik. Karena itu, narasi bahwa seluruh tokoh tersebut merupakan “murid langsung” Tjokroaminoto perlu dipahami secara proporsional. Penjelasan mengenai hal ini dapat ditemukan dalam berbagai tulisan sejarah yang dimuat Historia.id dan kajian Takashi Shiraishi.

Dari Satu Guru Muncul Beragam Ideologi

Pertanyaan yang sering muncul adalah bagaimana satu lingkungan pendidikan dapat melahirkan tokoh tokoh dengan pandangan politik yang sangat berbeda.

Soekarno berkembang menjadi tokoh nasionalisme Indonesia. Musso dan Semaun bergerak ke arah komunisme. Kartosoewirjo menempuh jalan Islam politik yang kemudian melahirkan gerakan Darul Islam. Jika dilihat sekilas, perbedaan tersebut tampak paradoksal.

Namun sejumlah sejarawan berpendapat bahwa Tjokroaminoto tidak mendidik murid muridnya untuk mengikuti satu ideologi tertentu. Yang ia tanamkan adalah keberanian berpikir, kesadaran terhadap ketidakadilan kolonial, kemampuan berorganisasi, serta keyakinan bahwa bangsa pribumi harus menentukan nasibnya sendiri. Dari fondasi yang sama itulah lahir berbagai penafsiran politik yang berbeda. Pandangan ini antara lain muncul dalam berbagai kajian sejarah pergerakan nasional yang diterbitkan oleh BRIN dan sejumlah akademisi sejarah Indonesia.

Dengan kata lain, Tjokroaminoto tidak melahirkan komunisme, nasionalisme, atau Islamisme. Ia menciptakan ruang intelektual yang memungkinkan lahirnya berbagai gagasan tentang kemerdekaan dan masa depan Indonesia. Pilihan ideologis masing masing murid berkembang melalui pengalaman politik, bacaan, jaringan organisasi, dan dinamika sejarah yang mereka alami setelah keluar dari lingkungan Peneleh.

Ketika Murid Murid Itu Berhadapan

Sejarah kemudian bergerak ke arah yang ironis. Tokoh tokoh yang pernah berada dalam satu lingkungan intelektual akhirnya menempuh jalan politik yang saling bertentangan.

BERITA TERKAIT  Cerpen: Catatan Angka Cinta di Meja Sunyi

Musso memimpin gerakan yang dikenal sebagai Peristiwa Madiun 1948 dan berhadapan dengan pemerintah Republik Indonesia. Kartosoewirjo memproklamasikan Negara Islam Indonesia pada 1949 dan memimpin gerakan Darul Islam selama lebih dari satu dekade. Sementara itu, Soekarno berdiri sebagai Presiden Republik Indonesia yang berusaha mempertahankan persatuan negara yang baru merdeka. Uraian mengenai peristiwa tersebut dapat ditemukan dalam berbagai arsip sejarah nasional, publikasi Perpustakaan Nasional, serta laporan Tempo mengenai sejarah Peristiwa Madiun dan DI TII.

Ironi terbesar adalah bahwa konflik konflik tersebut terjadi di antara orang orang yang pernah bersinggungan dalam satu lingkaran intelektual yang sama. Namun fakta tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan tidak bekerja secara mekanis. Seorang guru dapat menanamkan nilai dan cara berpikir, tetapi tidak dapat menentukan seluruh pilihan hidup muridnya.

Warisan Terbesar dari Peneleh

H.O.S. Tjokroaminoto wafat di Yogyakarta pada 17 Desember 1934 dalam usia 52 tahun. Ia tidak sempat menyaksikan Indonesia merdeka. Ia juga tidak menyaksikan murid murid dan generasi penerusnya menempati posisi penting dalam sejarah bangsa. Informasi mengenai wafatnya Tjokroaminoto tercatat dalam berbagai arsip nasional dan biografi resmi yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kini rumah Peneleh telah menjadi museum sejarah. Pengunjung yang datang dapat melihat ruang ruang sederhana yang dahulu menjadi tempat berlangsungnya diskusi panjang tentang masa depan Indonesia.

Namun nilai terpenting rumah itu bukan terletak pada bangunan atau benda benda peninggalannya. Nilai terbesarnya terletak pada gagasan bahwa pendidikan sejati bukanlah upaya mencetak manusia yang seragam. Pendidikan sejati adalah kemampuan menumbuhkan keberanian berpikir, keberanian berbeda pendapat, dan keberanian mempertanggungjawabkan pilihan masing masing.

Dari rumah sederhana di Peneleh, Indonesia belajar bahwa seorang guru besar tidak diukur dari banyaknya murid yang mengikuti jalan pikirannya secara utuh. Seorang guru besar justru dikenang karena kemampuannya melahirkan generasi yang mampu berpikir mandiri dan memberi warna bagi zamannya sendiri.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *