Di teras rumah yang semakin dingin, aku menatap layar ponsel yang tak lagi ramai. Ada masa ketika namaku selalu disebut, ketika perhatian datang tanpa diminta, dan ketika cinta terasa seperti cahaya yang tak akan padam. Namun perlahan semuanya berubah, seperti angka yang terus menyusut tanpa aku sadari. Malam ini aku menulis ulang kisah itu agar aku paham.
Aku menuliskan kisah ini seperti orang yang sedang menghitung sisa tabungan, bukan menghitung rasa. Di meja kecil dekat jendela, aku membuka buku catatan tua yang sampulnya mulai kusam dan penuh lipatan. Di dalamnya ada tanggal, potongan percakapan, dan kalimat kalimat manis yang dulu membuat dadaku terasa penuh. Malam itu aku berjanji pada diri sendiri, aku akan menuliskan semuanya tanpa menyembunyikan rasa malu.
Dulu dia datang membawa cinta seratus persen, begitu tulus sampai aku merasa hidup sedang memberiku hadiah. Dia sering mengirim pesan lebih dulu, menanyakan kabarku bahkan saat aku belum sempat bangun dari tidur. Dalam sehari, namaku bisa muncul puluhan kali di notifikasi ponselnya, seolah aku adalah pusat dari kesibukan hidupnya. Aku sempat percaya beginilah rasanya dicintai sepenuh hati, tanpa jeda dan tanpa syarat.
Di awal hubungan, dia seperti orang yang tak pernah kehabisan cara membuatku merasa istimewa. Dia memuji hal hal kecil yang bahkan tak pernah kuanggap penting, seperti caraku menyeduh kopi atau cara aku menertawakan lelucon yang sebenarnya biasa saja. Aku masih ingat ketika dia bilang aku adalah rumah yang paling nyaman, tempat dia ingin pulang meski dunia sedang kacau. Kata kata itu membuatku yakin bahwa cinta adalah perlindungan, bukan beban.
Namun suatu hari, aku mulai merasa ada yang berubah meski awalnya hanya seperti angin kecil yang lewat. Aku bercerita tentang masalah di kantor, tentang lelah yang membuat kepalaku seperti dipenuhi batu, dan tentang rasa ingin menyerah yang kupendam diam diam. Dia menjawab singkat, lalu tiba tiba mengganti topik tentang dirinya sendiri. Aku menelan kecewa itu sambil tersenyum, meyakinkan diri bahwa mungkin dia hanya sedang sibuk.
Hari hari berikutnya membuatku sadar bahwa rasa dihargai ternyata bisa hilang tanpa suara. Aku mengirim pesan panjang, dia membalas dengan satu kata yang terasa dingin seperti pintu yang ditutup pelan pelan. Aku menunggu dia menanyakan kabarku seperti dulu, tetapi yang datang hanya jawaban datar yang sekadar formalitas. Saat itu, tanpa sadar, cinta seratus persen itu berkurang dua puluh persen.
Aku mencoba menutupinya dengan kesabaran karena aku tidak ingin menjadi orang yang menuntut. Aku mulai lebih sering mengalah, lebih sering menahan kalimat yang seharusnya kuucapkan. Setiap kali dia lupa janji, aku bilang tidak apa apa, padahal dadaku seperti diisi pasir yang berat. Aku tetap memberi perhatian seolah jika aku cukup baik, semuanya akan kembali normal.
Lalu datang fase kedua ketika aku merasa tidak lagi diapresiasi. Aku menyiapkan kejutan kecil untuk ulang tahunnya, menabung dari sisa uang makan dan memikirkan detailnya selama berminggu minggu. Ketika hadiah itu kuberikan, dia hanya menatap sebentar lalu berkata terima kasih dengan suara yang seperti lewat begitu saja. Setelah itu dia sibuk dengan ponselnya, seolah aku baru saja memberikan sesuatu yang tidak penting.
Aku pulang malam itu dengan langkah pelan, membawa senyum yang kupaksakan agar tidak terlihat rapuh. Di dalam kamar, aku menatap kertas struk belanja dan pita kado yang tadi kubuang ke tempat sampah. Rasanya seperti aku menabur benih di tanah yang sudah kehilangan musim. Dari situ aku mengerti, cinta tidak hanya butuh kesetiaan, tetapi juga butuh pengakuan kecil yang tulus.
Aku mulai mengingat kebiasaan lama yang dulu membuatku merasa dicintai. Dulu dia selalu berkata terima kasih dengan mata yang serius, seolah menghargai apa pun yang kulakukan. Sekarang semua tindakanku seperti masuk ke ruang kosong yang tidak memantulkan gema. Aku menulis angka dua puluh persen lagi di catatan itu, lalu menutup bukunya dengan napas berat.
Penurunan terbesar datang pada malam ketika kepercayaan mulai retak. Dia menghilang tanpa kabar sejak sore, dan baru muncul tengah malam dengan alasan rapat mendadak yang terdengar seperti kalimat siap pakai. Aku tidak langsung menuduh, tetapi naluriku terasa berteriak bahwa ada sesuatu yang disembunyikan. Malam itu aku tidak tidur, hanya duduk menatap pintu, menunggu kepulangannya seperti menunggu jawaban dari doa yang ragu.
Beberapa hari kemudian, tanpa sengaja aku melihat layar ponselnya menyala saat ia sedang mandi. Ada notifikasi masuk dengan nama perempuan yang tak pernah ia sebut sebelumnya, disertai emoji yang terlalu akrab untuk disebut biasa. Aku tidak membuka percakapan itu, tetapi cukup membaca satu baris awalnya untuk membuat lututku melemas. Aku menyadari bahwa ada kalimat kalimat manis yang dulu menjadi milikku, kini sedang ia ulang kepada orang lain.
Ketika dia keluar dari kamar mandi, aku tidak bertanya dengan nada marah, aku bertanya dengan nada yang justru lebih menyakitkan. Dia menatapku sebentar lalu berkata aku terlalu curiga, terlalu sensitif, dan terlalu banyak berpikir. Kata katanya terdengar seperti tamparan yang halus, karena dia tidak membantah, hanya memutar balikkan posisi. Di situ kepercayaan itu runtuh, dan cinta yang tersisa berkurang empat puluh persen sekaligus.
Sejak malam itu, aku hidup dalam hubungan yang penuh pertanyaan tetapi miskin jawaban. Dia marah jika aku bertanya, seolah rasa curigaku adalah dosa yang lebih besar daripada kebohongannya. Aku mulai merasa bersalah atas luka yang bahkan bukan aku penyebabnya, dan itu membuatku semakin kecil di hadapannya. Setiap malam aku memutar ulang kejadian, mencari kesalahanku sendiri agar aku punya alasan untuk memaafkan.
Aku masih bertahan, bukan karena aku kuat, tetapi karena aku takut mengakui kenyataan. Aku takut jika aku pergi, aku akan membuktikan bahwa aku memang tidak pantas dipilih. Aku takut jika aku berhenti berusaha, aku akan kehilangan satu satunya orang yang pernah membuatku merasa utuh. Padahal diam diam aku sudah kehilangan diriku sendiri, hanya saja aku belum berani menyebutnya sebagai akhir.
Belum sempat aku menambal retak itu, datang luka lain yang lebih kecil namun tajam, yaitu perbandingan. Dia mulai menyebut nama orang lain dengan nada kagum, lalu menatapku seolah aku selalu kurang. Dia bilang temannya lebih dewasa, lebih tenang, lebih tidak ribet, lebih bisa memahami tanpa banyak bertanya. Aku tersenyum di depannya, tetapi di dalam diriku ada sesuatu yang runtuh perlahan.
Aku ingat suatu sore ketika kami duduk di warung kopi yang dulu menjadi tempat favorit. Aku bercerita tentang rencanaku mengikuti pelatihan kerja agar karierku lebih baik, dan dia malah tertawa kecil seolah itu lelucon. Lalu dia berkata bahwa perempuan lain lebih realistis, tidak banyak mimpi, dan tidak membuat hidup terasa berat. Kalimat itu menancap seperti paku, dan aku pulang membawa luka yang tidak bisa kulihat di cermin.
Di titik itu aku menulis pengurangan terakhir, dua puluh persen, sampai akhirnya angka di catatan itu menjadi nol. Anehnya, kehilangan rasa itu justru lebih menakutkan daripada kehilangan orangnya. Aku tidak lagi marah, tidak lagi menangis, tidak lagi ingin memperbaiki apa pun. Aku hanya diam dan mengangguk seperti orang yang menerima hasil ujian, lalu sadar bahwa dirinya sudah gagal tanpa sempat membela diri.
Perubahan paling menyakitkan ternyata bukan soal kata kata kasar atau pertengkaran besar. Perubahan itu terjadi dalam hal hal kecil, seperti cara dia membalas pesan tanpa emosi. Yang dulu penuh inisiatif, sekarang hanya memberi respons seperlunya. Yang dulu menjejali hariku dengan perhatian, kini menghindar seperti aku adalah beban yang harus disingkirkan pelan pelan.
Aku mulai menyadari bahwa aku tidak sedang dicintai, aku hanya sedang dipakai sebagai kebiasaan. Aku hadir bukan karena dirindukan, tetapi karena sudah terlanjur ada. Bahkan ketika aku diam, dia tidak mencari, dan ketika aku sakit, dia tidak bertanya. Dari situ aku mengerti, cinta tidak selalu mati karena pertengkaran, kadang cinta mati karena dibiarkan lapar.
Malam ini aku menutup buku catatan itu dan menaruhnya di samping gelas kopi yang sudah dingin. Aku membaca ulang daftar pengurangan itu, seperti daftar luka yang tertulis rapi dan tidak bisa dibantah. Tidak dihargai, tidak diapresiasi, dikhianati, dibanding bandingkan, semuanya menjadi bukti bahwa aku pernah berjuang sendirian. Aku menarik napas panjang, lalu berdiri seolah sedang mengakhiri sesuatu yang sudah lama sekarat.
Saat itu ponselku bergetar, namanya muncul di layar dengan pesan singkat yang dingin. Dia menulis bahwa aku akhir akhir ini berubah, bahwa aku terlalu cuek, dan bahwa aku tidak seperti dulu. Aku membaca pesan itu tanpa emosi, lalu tersenyum kecil karena pertanyaan itu terdengar seperti lelucon paling kejam. Aku mengetik jawaban dengan tenang, tanpa marah dan tanpa air mata.
Aku balas, aku tidak berubah, aku hanya sudah habis. Setelah itu aku mematikan ponsel dan menatap catatan yang tadi kutulis, memastikan tidak ada satu pun angka yang tersisa. Namun sebelum aku pergi dari meja itu, aku mengambil pulpen lagi dan menambahkan satu kalimat terakhir di bawah daftar pengurangan. Kalimat itu membuat dadaku terasa ringan sekaligus menggigil.
Aku menulis, cinta tidak berkurang karena aku berhenti memberi, tetapi karena aku terus memberi pada orang yang diam diam sudah pergi. Setelah itu aku merobek halaman itu pelan pelan, bukan karena marah, melainkan karena aku ingin mengubur sesuatu yang tidak pantas dipajang lagi. Robekan kertas itu kubawa ke dapur, lalu kubakar di atas kompor seperti orang yang sedang memusnahkan masa lalu. Api kecil menari, dan aku menatapnya sampai habis tanpa berkedip.
Saat abu terakhir jatuh ke piring, pintu rumah diketuk pelan, lalu dibuka tanpa menunggu izinku. Ibuku masuk dengan wajah cemas, membawa map cokelat yang terlihat tebal, seolah ia membawa kabar yang tidak ingin kudengar. Ia duduk di kursi, menatapku lama, lalu berkata bahwa semuanya sudah selesai dan aku tidak perlu berpura pura kuat lagi. Aku mengernyit, karena aku tidak tahu apa yang ia maksud, sampai ia mendorong map itu ke hadapanku.
Di dalam map itu ada surat kematian, hasil pemeriksaan rumah sakit, dan catatan dokter yang sudah ditandatangani. Namanya tertulis jelas di sana, lengkap dengan tanggal yang membuat tubuhku mendadak lemas. Ternyata dia tidak pernah mengabaikanku, tidak pernah membandingkanku, dan tidak pernah pergi pada orang lain seperti yang selama ini kutuduhkan. Semua pesan dingin, semua balasan singkat, semua perubahan yang membuatku merasa hina, bukan datang dari dirinya.
Ibuku berkata dengan suara pelan bahwa sejak tiga bulan lalu, ponselnya dipegang adiknya karena dia sudah terlalu lemah untuk mengetik. Aku menatap layar ponselku yang tadi kupadamkan, lalu menatap abu kertas yang masih hangat di piring. Dalam satu tarikan napas, aku sadar bahwa aku telah mengurangi cinta seratus persen itu sampai nol bukan karena dia menghabiskannya, tetapi karena aku salah membaca tanda tanda perpisahan yang diam. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku menangis bukan karena ditinggalkan, melainkan karena aku terlambat memahami bahwa cinta yang paling tulus kadang pergi tanpa sempat membela diri.














