SERI 3 : CAHAYA DI BALIK TEMBOK PESANTREN

banner 120x600

Seri 3: Pelajaran Adab Sebelum Ilmu

Oleh: Dwi Taufan Hidayat



Pekan kedua kehidupan di Pesantren Darul Amanah dimulai dengan suasana yang lebih tenang.

Para santri baru mulai terbiasa dengan jadwal harian yang padat. Mereka tidak lagi kebingungan mencari ruang kelas, tidak lagi terlambat menuju masjid, dan mulai memahami ritme kehidupan pondok yang teratur.

Namun pada suatu pagi setelah salat Subuh berjamaah, seluruh santri mendapat pengumuman yang cukup istimewa.

“Setelah pengajian pagi hari ini, seluruh santri baru diwajibkan mengikuti pengarahan langsung bersama Kiai Hasyim di Aula Utama.”

Kabar itu segera menyebar.

Nama Kiai Hasyim sudah sering mereka dengar sejak hari pertama datang ke pesantren.

Beliau adalah pengasuh Pondok Pesantren Darul Amanah yang dikenal luas karena keluasan ilmu, kelembutan akhlak, dan keteguhannya dalam memegang prinsip.

Ahmad merasa bersemangat.

Begitu pula Farid, Hamzah, dan Rifqi.

Mereka segera menuju aula setelah pengajian selesai.

Aula utama sudah dipenuhi ratusan santri.

Para santri putra dan santriwati duduk pada tempat yang telah diatur sesuai tata tertib pesantren.

Suasana sangat tertib.

Tidak lama kemudian Kiai Hasyim memasuki aula.

Beliau mengenakan pakaian putih sederhana dengan sorban yang melingkar rapi di kepala.

Seluruh santri berdiri sebagai bentuk penghormatan.

Kiai Hasyim tersenyum hangat.

Beliau mempersilakan semua duduk kembali.

Setelah membaca basmalah dan beberapa doa singkat, beliau memulai nasihatnya.

“Anak-anakku sekalian.”

Suara beliau lembut namun terdengar jelas ke seluruh ruangan.

“Kalian datang ke pesantren untuk mencari ilmu.”

BERITA TERKAIT  Pemasangan Tanda Batas Menuju Sertifikasi, BPN Banten Percepat Perlindungan Tanah Wakaf

Semua santri menyimak dengan penuh perhatian.

“Tetapi ketahuilah, ada sesuatu yang harus dipelajari sebelum ilmu.”

Beliau berhenti sejenak.

“Yaitu adab.”

Aula menjadi hening.

Banyak santri langsung memusatkan perhatian.

“Ilmu tanpa adab dapat melahirkan kesombongan. Ilmu tanpa adab dapat disalahgunakan. Ilmu tanpa adab bahkan bisa menjadi musibah bagi pemiliknya.”

Kata-kata itu menancap kuat dalam hati para santri.

Ahmad merasakan kesungguhan yang berbeda dari setiap kalimat yang disampaikan.

Kiai Hasyim kemudian menceritakan kisah para ulama terdahulu yang menghabiskan bertahun-tahun mempelajari adab sebelum mendalami berbagai cabang ilmu.

“Mereka belajar bagaimana menghormati guru, menghargai sesama, menjaga lisan, mengendalikan emosi, dan menjaga amanah.”

Beliau menatap seluruh santri.

“Karena keberkahan ilmu sering kali datang melalui adab yang baik.”

Semua terdiam merenungkan nasihat tersebut.

***

Setelah itu Kiai Hasyim menjelaskan tentang penghormatan kepada guru.

“Seorang guru wajib dihormati.”

Beliau melanjutkan,

“Tetapi penghormatan bukan berarti menganggap guru tidak pernah salah. Guru tetap manusia yang dapat keliru.”

Para santri terlihat memperhatikan dengan saksama.

“Karena itu di pesantren ini kita mengajarkan penghormatan yang proporsional. Menghormati tanpa berlebihan. Menghargai tanpa kehilangan akal sehat.”

Ahmad baru pertama kali mendengar penjelasan seperti itu.

Kiai Hasyim melanjutkan,

“Hubungan antara guru dan murid harus dibangun di atas ilmu, keteladanan, dan akhlak yang baik.”

Beliau menjelaskan bahwa setiap pendidik di Darul Amanah memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga amanah pendidikan sekaligus menjaga keselamatan dan martabat seluruh santri.

BERITA TERKAIT  Pemasangan Tanda Batas Menuju Sertifikasi, BPN Banten Percepat Perlindungan Tanah Wakaf

“Seorang guru yang baik bukan hanya mengajar, tetapi juga melindungi.”

Kalimat itu membuat banyak santri mengangguk.

***

Pada sesi berikutnya, para santri diajak memahami adab terhadap sesama teman.

Kiai Hasyim bertanya,

“Siapa di antara kalian yang berasal dari luar kota?”

Puluhan tangan terangkat.

“Siapa yang baru pertama kali tinggal jauh dari orang tua?”

Lebih banyak lagi tangan yang terangkat.

Beliau tersenyum.

“Itulah sebabnya kalian harus saling membantu.”

Beliau menjelaskan bahwa kehidupan pesantren tidak bisa dijalani sendirian.

Setiap santri harus belajar menghargai perbedaan karakter, kebiasaan, dan latar belakang.

“Kalian mungkin berasal dari daerah yang berbeda.”

“Mungkin memiliki kebiasaan yang berbeda.”

“Namun di sini kalian adalah saudara.”

Farid yang duduk di samping Ahmad mengangguk pelan.

Ia teringat bagaimana teman-temannya sering saling membantu selama hari-hari pertama di asrama.

***

Beberapa hari kemudian pelajaran tentang adab mulai diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Di ruang makan, para santri dibiasakan antre dengan tertib.

Di kelas, mereka belajar mendengarkan ketika orang lain berbicara.

Di asrama, mereka diajarkan meminta izin sebelum menggunakan barang milik teman.

Suatu sore, Ahmad melihat seorang santri tanpa sengaja menjatuhkan buku milik temannya.

Dengan segera santri itu memungut buku tersebut dan meminta maaf.

Peristiwa sederhana itu membuat Ahmad memahami bahwa adab tidak hanya diajarkan melalui ceramah.

Adab dipraktikkan dalam hal-hal kecil setiap hari.

***

Di kompleks santriwati, Aisyah mendapatkan pelajaran serupa dari Ustazah Naila.

Pada suatu pertemuan, Ustazah Naila berkata,

BERITA TERKAIT  Pemasangan Tanda Batas Menuju Sertifikasi, BPN Banten Percepat Perlindungan Tanah Wakaf

“Adab bukan hanya tentang sopan santun.”

“Adab juga berarti menghargai diri sendiri.”

Para santriwati memperhatikan dengan serius.

“Kalian harus menjaga kehormatan diri, menjaga ucapan, menjaga pergaulan, dan menghormati batas-batas yang telah ditetapkan syariat.”

Aisyah mencatat kalimat itu di buku kecilnya.

Ia merasa mendapatkan banyak pelajaran baru yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan secara mendalam.

***

Suatu malam setelah kegiatan belajar selesai, Ahmad duduk di teras asrama bersama Farid.

Angin malam berembus lembut.

Suasana pondok terasa tenang.

“Kamu ingat nasihat Kiai Hasyim kemarin?” tanya Farid.

“Tentang adab sebelum ilmu?”

Ahmad mengangguk.

“Aku baru sadar.”

“Sadar apa?”

“Selama ini aku selalu berpikir bahwa yang paling penting adalah mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya.”

Farid tersenyum.

“Padahal yang membuat ilmu bermanfaat adalah adabnya.”

Ahmad mengangguk.

Mereka berdua terdiam sejenak.

Dari kejauhan terdengar suara santri yang sedang mengulang hafalan Al-Qur’an.

Malam itu Ahmad merasa mendapatkan pelajaran yang sangat berharga.

Ia mulai memahami bahwa tujuan pesantren bukan sekadar mencetak orang yang pandai.

Lebih dari itu, pesantren ingin membentuk manusia yang berilmu sekaligus berakhlak.

Manusia yang mampu menggunakan ilmunya untuk membawa manfaat, bukan mudarat.

Dan perjalanan untuk mempelajari adab itu baru saja dimulai.

Bersambung: Seri 4 – Malam Musyawarah Santri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *