Lisan Dan Hisab Akhirat

banner 120x600

Setiap ucapan manusia akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah pada hari kiamat. Banyak amal bisa hilang karena lisan yang tidak terjaga, seperti ghibah, fitnah, dan menyakiti orang lain. Hadis tentang orang bangkrut mengingatkan bahwa pahala dapat berpindah kepada korban kezaliman. Karena itu, menjaga lisan adalah kunci keselamatan dan keselamatan akhirat yang paling penting bagi seorang muslim yang sejati dan hakiki.

 

Dalam kehidupan dunia, manusia sering merasa aman dengan amal ibadahnya, padahal tanpa disadari lisannya bisa menjadi sebab kehancuran pahala tersebut. Rasulullah ﷺ telah mengingatkan dengan sangat jelas tentang hakikat kebangkrutan di akhirat, bukan karena harta yang hilang, tetapi karena habisnya pahala akibat perbuatan zalim kepada sesama manusia. Inilah peringatan yang sangat dalam agar seorang mukmin selalu berhati-hati dalam ucapan dan perbuatannya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَتَدْرُونَ ما المُفْلِسُ؟ قالوا: المُفْلِسُ فِينا مَن لا دِرْهَمَ له ولا مَتاعَ، فقالَ: إنَّ المُفْلِسَ مِن أُمَّتي يَأْتي يَومَ القِيامَةِ بصَلاةٍ، وصِيامٍ، وزَكاةٍ، ويَأْتي قدْ شَتَمَ هذا، وقَذَفَ هذا، وأَكَلَ مالَ هذا، وسَفَكَ دَمَ هذا، وضَرَبَ هذا، فيُعْطَى هذا مِن حَسَناتِهِ، وهذا مِن حَسَناتِهِ، فإنْ فَنِيَتْ حَسَناتُهُ قَبْلَ أنْ يُقْضَى ما عليه أُخِذَ مِن خَطاياهُمْ فَطُرِحَتْ عليه، ثُمَّ طُرِحَ في النَّارِ

BERITA TERKAIT  Menata Hidup Dengan Tuntunan Ilahi

Artinya: “Tahukah kamu siapakah orang bangkrut itu? Para sahabat menjawab: orang bangkrut adalah yang tidak memiliki dirham dan harta. Lalu beliau bersabda: orang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari kiamat membawa shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia juga mencaci, menuduh, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, dan memukul orang lain. Maka pahala kebaikannya diberikan kepada mereka. Jika pahalanya habis sebelum semua urusan selesai, maka dosa-dosa mereka diambil dan dibebankan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim no. 2581)

 

Peringatan ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an tentang bahaya lisan dan prasangka buruk. Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah menggunjing satu sama lain. Adakah salah seorang di antara kalian yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentu kalian merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)

BERITA TERKAIT  Menata Hidup Dengan Tuntunan Ilahi

Ayat ini menegaskan bahwa ghibah bukan sekadar ucapan ringan, tetapi dosa besar yang diibaratkan seperti memakan bangkai saudara sendiri. Sebuah gambaran yang sangat keras agar manusia benar-benar menjauhinya.

 

Dalam realitas kehidupan sehari-hari, lisan sering kali menjadi sumber kehancuran hubungan manusia. Satu kalimat fitnah dapat merusak persaudaraan bertahun-tahun. Satu ucapan kasar dapat melukai hati yang tidak mudah sembuh. Bahkan dalam era digital, jari-jari manusia di media sosial sering kali menjadi “lisan baru” yang lebih tajam daripada ucapan langsung. Semua itu akan tercatat dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

 

Karena itu, seorang mukmin sejati tidak hanya menjaga shalat dan puasanya, tetapi juga menjaga lisannya dari segala bentuk keburukan. Diam yang disertai keselamatan lebih baik daripada berbicara yang mendatangkan penyesalan. Rasulullah ﷺ juga mengajarkan bahwa keselamatan seseorang banyak ditentukan oleh kemampuannya menjaga lisan dan tangannya dari menyakiti orang lain.

BERITA TERKAIT  Menata Hidup Dengan Tuntunan Ilahi

 

Maka barang siapa yang pernah menyakiti orang lain dengan lisannya, hendaknya segera bertaubat dan meminta maaf sebelum datang hari di mana tidak ada lagi kesempatan untuk menebus kesalahan kecuali dengan amal kebaikan yang berpindah tangan. Hari itu adalah hari yang sangat menegangkan, ketika setiap manusia sibuk dengan hisabnya sendiri.

Pada akhirnya, kehidupan dunia hanyalah perjalanan singkat menuju pertemuan dengan Allah. Setiap kata yang keluar akan menjadi saksi, entah membawa keselamatan atau justru menjerumuskan. Maka beruntunglah orang yang menjaga lisannya, memperbanyak zikir, dan memilih diam ketika tidak ada kebaikan dalam berbicara. Karena di sisi Allah, keselamatan bukan ditentukan oleh banyaknya kata, tetapi oleh bersihnya hati dan terjaganya lisan dari dosa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *