Jujur, saya cukup terkejut ketika pertama kali tiba di Malang. Di tengah keramaian warung kopi dan sudut sudut kampung, saya berkali kali mendengar percakapan yang terdengar seperti bahasa Jawa, tetapi susunan katanya terasa aneh. Kata kata seperti Ngalam, Kera, Tahes, hingga Silop meluncur begitu saja dari mulut warga. Belakangan saya mengetahui bahwa bahasa itu adalah Boso Walikan Malang, sebuah bahasa yang tidak lahir dari pergaulan anak muda, melainkan dari situasi perang yang menentukan nasib sebuah bangsa.
Banyak orang mengenal Boso Walikan sebagai ciri khas Arek Malang. Namun tidak banyak yang mengetahui bahwa bahasa tersebut berakar pada perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dalam berbagai kajian sejarah budaya Malang, Boso Walikan disebut muncul pada masa Agresi Militer Belanda ketika para pejuang membutuhkan sarana komunikasi yang aman dari penyusupan mata mata Belanda.
Situasi Malang pada akhir dekade 1940 an sangat mencekam. Belanda berupaya menguasai kembali wilayah yang telah diproklamasikan sebagai bagian dari Republik Indonesia. Selain mengerahkan kekuatan militer, Belanda juga memanfaatkan jaringan informan dan mata mata yang menyusup ke tengah masyarakat. Para penyusup ini memahami bahasa Jawa dan bahasa Indonesia sehingga berbagai informasi penting mengenai pergerakan pejuang sering kali bocor ke tangan musuh.
Dalam situasi itulah para pejuang Gerilya Rakyat Kota atau GRK Malang mencari cara untuk melindungi komunikasi mereka. Menurut versi sejarah yang banyak dirujuk, gagasan penggunaan bahasa walikan dipelopori oleh Suyudi Raharno bersama Wasito. Tujuannya bukan sekadar menciptakan kode rahasia, tetapi juga membangun identitas yang dapat membedakan kawan dan lawan. Orang yang tidak memahami bahasa tersebut akan mudah dikenali sebagai orang luar.
Secara sederhana, Boso Walikan bekerja dengan membalik kata. Malang menjadi Ngalam. Arek menjadi Kera. Makan menjadi Nakam. Polisi menjadi Silop. Namun dalam praktiknya, tidak semua kata dibalik secara kaku. Banyak istilah mengalami penyesuaian bunyi agar lebih mudah diucapkan dan diingat. Justru fleksibilitas inilah yang membuat bahasa tersebut sulit dipecahkan oleh pihak yang tidak terbiasa menggunakannya.
Keunggulan Boso Walikan bukan hanya terletak pada kemampuannya menyembunyikan pesan. Bahasa ini juga menjadi alat verifikasi sosial. Dalam kondisi perang gerilya, kepercayaan adalah hal yang sangat mahal. Kesalahan mengenali identitas seseorang dapat berakibat pada tertangkapnya jaringan perjuangan. Karena itu, kemampuan menggunakan Boso Walikan menjadi semacam tanda pengenal tidak resmi di kalangan pejuang dan simpatisan republik.
Sejarah kemudian mencatat bahwa para pelopor bahasa ini tidak sempat menikmati warisan budaya yang mereka lahirkan. Menurut catatan yang banyak dikutip dalam kajian sejarah Malang, Wasito gugur lebih dahulu dalam pertempuran di kawasan Gandongan yang kini termasuk wilayah Pandanwangi. Sementara Suyudi Raharno gugur pada September 1949 setelah keberadaannya dilaporkan kepada pihak Belanda. Keduanya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Suropati Malang.
Yang menarik, perang berakhir tetapi Boso Walikan tidak ikut hilang. Banyak bahasa sandi dalam sejarah lenyap setelah konflik usai. Sebaliknya, Boso Walikan justru tumbuh menjadi bagian dari identitas kolektif masyarakat Malang. Bahasa yang dahulu digunakan untuk mengelabui mata mata kini hadir dalam percakapan sehari hari, komunitas suporter, media sosial, hingga industri kreatif.
Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa juga merupakan wadah memori sosial. Ketika warga Malang menyebut kotanya sebagai Ngalam, sesungguhnya mereka sedang mewarisi jejak sejarah yang telah hidup lebih dari tujuh dekade. Di balik kata yang terdengar sederhana itu tersimpan cerita tentang perlawanan, kecerdikan, solidaritas, dan semangat mempertahankan kemerdekaan.
Di era digital saat ini, Boso Walikan menghadapi tantangan yang berbeda. Ancamannya bukan lagi mata mata kolonial, melainkan lunturnya kesadaran sejarah. Banyak generasi muda mengenal istilah Ngalam atau Kera Ngalam, tetapi tidak mengetahui asal usulnya. Akibatnya, bahasa walikan berisiko direduksi menjadi sekadar gaya bicara tanpa makna historis yang mendalam.
Karena itu, pelestarian Boso Walikan tidak cukup dilakukan dengan menghafalkan kosakatanya. Yang jauh lebih penting adalah menjaga ingatan kolektif tentang bagaimana bahasa itu lahir. Sebab Boso Walikan bukan hanya warisan linguistik, melainkan monumen hidup perjuangan rakyat Malang. Ia membuktikan bahwa dalam situasi paling sulit sekalipun, kreativitas dapat menjadi senjata. Dan terkadang, sebuah kata yang dibalik mampu menyimpan sejarah yang begitu besar.














