Cerpen: Hujan, Sawi, dan Pesan Ayahku

banner 120x600

BuserNasional//!Aku hanya berniat membeli kubis lima ribuan di pinggir jalan desa, lalu pulang sebelum langit benar benar gelap. Namun di dekat kebun, aku bertemu seorang bapak yang sedang memanen sawi segar dan menawarkan lebih dari sekadar sayuran. Dari percakapan sederhana itu, aku membawa pulang kehangatan yang tak bisa dibeli. Hingga secarik pesan membuatku gemetar.

Aku berhenti di pinggir jalan desa hanya untuk membeli kubis lima ribuan. Lapaknya kecil, berdiri miring di tepi sawah, namun sayurnya tampak segar dan baru dipanen. Setelah membayar, aku berniat langsung pulang karena sore mulai meredup dan angin terasa dingin. Tetapi ketika melangkah beberapa meter, mataku menangkap hamparan hijau lain yang jauh lebih menarik.

Di seberang jalan, ada kebun sawi yang sedang dipanen. Daun daunnya lebar, hijau pekat, dan tampak berkilau seperti baru disiram embun. Seorang bapak berdiri di sana dengan caping lusuh, tangannya cekatan memotong batang sawi tanpa ragu. Pemandangan itu membuatku terdiam sejenak, karena entah mengapa terasa begitu akrab. Aku bahkan sempat membayangkan masakan hangat yang biasanya dibuat ayahku dulu.

Sudah hampir tiga tahun ayah meninggal, tetapi ingatanku tentang kebun dan aroma tanah basah masih melekat kuat. Aku jarang pulang kampung sejak itu, karena setiap sudut desa selalu mengembalikan kenangan yang sulit kutahan. Hari ini pun sebenarnya aku datang hanya untuk menenangkan diri setelah minggu minggu berat di kota. Kepalaku penuh pikiran, dan dadaku sering sesak tanpa alasan jelas. Mungkin karena itulah aku terpaku memandangi sawi, seolah ada sesuatu yang memanggil dari sana.

Aku memberanikan diri mendekat, melangkah pelan agar tidak mengganggu. Dengan suara sopan aku menyapa, “Permisi Pak, maaf mau tanya. Boleh beli sawinya tidak, Pak?” Bapak itu menoleh, matanya teduh, lalu tersenyum seakan sudah mengenalku sejak lama. Ia mengangguk pelan dan menjawab singkat, “Boleh, Mbak.”

Ia kemudian bertanya, “Mau ambil berapa?” Aku mengangkat dua jari sambil tersenyum kecil. “Dua saja, Pak,” kataku cepat, lalu menambahkan dengan jujur, “Saya takut mubazir kalau kebanyakan.” Bapak itu tertawa kecil, bukan mengejek, melainkan seperti orang yang sedang mendengar sesuatu yang tulus. Ia memandangku sebentar, lalu mengangguk pelan seolah memahami lebih dari yang kuucapkan.

“Cuma dua biji?” tanyanya lagi untuk memastikan. Aku mengangguk, sedikit kikuk karena merasa permintaanku terlalu kecil. Namun bapak itu tidak menunjukkan raut meremehkan, justru ia berjalan masuk ke kebun lebih dalam. Aku menunggu di pinggir, memandangi daun daun sawi yang bergoyang tertiup angin. Entah mengapa, suasana kebun itu membuat hatiku terasa lebih tenang.

BERITA TERKAIT  Akuntabilitas MBG di Tengah Sengketa Dana Rp218 Miliar

Tak lama kemudian bapak itu kembali membawa sawi yang ukurannya besar besar. Ia menyerahkan tiga batang sekaligus, semuanya segar dan tampak baru saja dipetik. Aku refleks menolak halus, “Pak, saya tadi bilang dua.” Namun bapak itu hanya tersenyum, lalu berkata ringan, “Telu wae, sing gedhe. Biar cukup.”

Aku mencoba mengeluarkan uang, tetapi bapak itu segera mengangkat tangannya menolak. “Ora usah dibayar, Mbak,” ucapnya. Aku semakin tidak enak hati, karena tidak terbiasa menerima pemberian dari orang yang baru kutemui. Aku merasa seperti berhutang, padahal aku bahkan belum menyebut namaku. Tetapi bapak itu tampak santai, seolah kebaikan seperti ini adalah hal biasa.

Ia kemudian menunjuk ke arah kebun tomat di sisi lain. “Mbak, petik tomat sekalian. Sing abang abang,” katanya sambil tertawa kecil. Aku langsung menggeleng, menolak dengan gugup karena sungkan. “Waduh jangan Pak, saya tidak enak,” jawabku pelan. Namun bapak itu menatapku serius, lalu berkata tegas tapi lembut, “Nunggu sini dulu. Jangan pergi dulu.”

Aku terdiam dan menurut, berdiri di pinggir kebun sambil memeluk sawi di tanganku. Bapak itu berjalan ke kebun tomat, memilih buah buah merah yang ranum. Ia memetiknya pelan, tidak asal ambil, seperti sedang memilihkan untuk keluarganya sendiri. Setelah beberapa menit, ia kembali membawa segenggam tomat yang tampak segar. Tomat itu ia masukkan ke dalam kantong plastik dan menyerahkannya kepadaku.

“Ini tomatnya, Mbak,” katanya. Aku menatap pemberian itu dengan mata yang mulai panas. “Pak, ini kebanyakan,” ucapku dengan suara tercekat. Bapak itu hanya tersenyum, lalu berkata dengan nada yang sangat tenang, “Kalau di desa, kalau pas panen sayur, orang orang itu tidak usah beli. Tinggal ambil di kebun. Melimpah di sini.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagiku seperti pintu yang terbuka. Di kota, semua terasa harus dibayar, semua harus dihitung, bahkan kadang senyum pun seperti memiliki harga. Namun di hadapanku, seorang bapak petani memberi tanpa menuntut apa pun. Aku merasa malu, karena selama ini aku terlalu sering takut rugi, takut kekurangan, dan takut hidup tidak cukup. Padahal mungkin yang membuat hidup sempit bukan uang, melainkan pikiran yang terlalu penuh.

Kami lalu mengobrol sebentar. Ia bertanya apakah aku dari kota, apakah aku sedang pulang kampung, dan apakah aku masih sering makan sayur. Aku menjawab seperlunya, tetapi sesekali aku merasa seperti sedang berbicara dengan seseorang yang sangat mengenalku. Ada cara ia menatap, ada cara ia tertawa, yang mengingatkanku pada ayah. Aku tidak berani memikirkan itu terlalu jauh, karena rasanya seperti membuka luka lama.

BERITA TERKAIT  CAHAYA DI BALIK TEMBOK PESANTREN

Bapak itu bercerita bahwa anak anak muda sekarang jarang mau turun ke kebun. Banyak yang memilih merantau, mengejar pekerjaan yang katanya lebih bersih dan lebih modern. Ia tidak mengeluh, hanya mengatakan itu dengan nada datar seperti orang yang sudah berdamai dengan keadaan. Aku mendengarkan sambil mengangguk, dan sesekali tertawa kecil ketika ia menyelipkan candaan sederhana. Anehnya, di tengah percakapan itu, aku merasa dadaku lebih lapang.

Langit semakin gelap, dan angin bertiup lebih dingin dari sebelumnya. Dari kejauhan terdengar suara petir kecil yang samar. Aku pun pamit, karena tidak ingin mengganggu pekerjaan panennya lebih lama. Aku menunduk sopan dan berkata, “Matur nuwun nggih Pak. Semoga sehat selalu.”

Bapak itu mengangguk, lalu memberi piweling dengan suara pelan. “Hati hati di jalan ya, Mbak. Siapin juga jas hujan. Kayaknya sebentar lagi hujan.” Ia menatap langit seperti orang yang membaca tanda tanda alam. Aku mengangguk dan tersenyum, lalu melangkah pergi dengan hati hangat yang sulit kujelaskan. Di belakangku, aku masih sempat mendengar suara gunting kebun yang kembali bekerja.

Aku sampai di motor dan mulai menyalakannya. Sebelum berangkat, aku menoleh sekali lagi ke arah kebun sawi. Bapak itu masih di sana, tetapi terlihat semakin jauh karena kabut tipis mulai turun. Entah mengapa, aku merasa seperti baru saja bertemu keluarga sendiri. Aku menghela napas panjang, lalu melaju perlahan menyusuri jalan desa yang mulai sepi.

Beberapa ratus meter kemudian, angin semakin kencang. Bau tanah basah mulai tercium, pertanda hujan memang akan turun. Aku berhenti di pinggir jalan untuk mengambil jas hujan dari jok motor. Tanganku meraba raba saku jaket, memastikan kunci dan ponsel masih ada. Namun saat jemariku menyentuh sesuatu, aku merasa ada benda kecil yang bukan milikku.

Aku mengeluarkannya perlahan. Sebuah kertas kecil terlipat rapi, terselip di antara kantong plastik tomat. Aku mengernyit, merasa heran karena aku tidak ingat bapak itu memasukkan apa pun selain sayur. Aku membukanya pelan pelan, sementara angin membawa rintik hujan pertama jatuh di aspal. Mataku menelusuri tulisan tangan yang rapi dan jelas.

Aku mendadak kaku. Di kertas itu tertulis, “Mbak, matur nuwun wis mampir. Bapakmu titip pesan, ojo wedi urip. Bapak selalu ada dalam doa.” Aku menatap tulisan itu lama, seolah tidak percaya apa yang kubaca. Napasku tercekat, dan jantungku berdetak terlalu cepat. Ayahku sudah meninggal tiga tahun lalu, dan tak ada seorang pun di desa yang tahu aku datang hari ini.

BERITA TERKAIT  Denda Rp100 Juta dan Ujian Rasionalitas Kopdes Merah Putih

Tanganku gemetar memegang kertas itu, sementara hujan mulai turun lebih deras. Dadaku terasa sesak, dan mataku panas menahan air mata. Aku berbalik cepat, menyalakan motor, lalu memutar arah kembali ke kebun. Aku tidak peduli hujan, tidak peduli jalan licin, karena ada sesuatu yang harus kupastikan. Aku melaju seperti orang kehilangan arah.

Namun ketika sampai di lokasi kebun sawi, tempat itu kosong. Tidak ada bapak, tidak ada caping, tidak ada suara panen, hanya daun daun sawi yang bergoyang ditiup angin. Aku turun dari motor dan menatap sekeliling dengan napas memburu. Di pinggir kebun hanya ada tanah becek dan jejak kaki samar yang segera hilang tersapu hujan. Bahkan tempat tadi aku berdiri terasa seperti baru saja ditinggalkan oleh bayangan.

Aku melangkah masuk beberapa meter, berharap melihatnya di balik tanaman. Tetapi yang ada hanya kebun basah, aroma tanah, dan sunyi yang menyesakkan. Di tengah kebingungan, aku melihat sesuatu di dekat gubuk kecil. Sebuah papan kayu berdiri miring, tulisannya hampir pudar, namun masih bisa kubaca.

Tulisan di papan itu membuat lututku lemas. Di sana tertulis nama ayahku, lengkap dengan tanggal wafatnya, terpahat sederhana seperti nisan kecil. Aku menutup mulutku agar tidak menangis keras, karena rasa rindu mendadak runtuh seperti bendungan yang pecah. Hujan jatuh di wajahku, bercampur dengan air mata yang akhirnya tidak bisa kutahan.

Aku berdiri lama di sana, memegang kertas kecil itu erat erat. Di bawah hujan, aku sadar bahwa mungkin aku tidak sedang bertemu orang asing. Aku sedang dipertemukan dengan cara Tuhan mengirimkan pelukan, lewat kebun, lewat sawi, lewat tangan seorang bapak yang tak sempat kutanya namanya. Dan ketika aku akhirnya pulang, aku tidak lagi membawa sekadar sayur, tetapi juga keberanian untuk hidup tanpa takut.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *