CAHAYA DI BALIK TEMBOK PESANTREN
Seri 4: Malam Musyawarah Santri
Oleh: Dwi Taufan Hidayat
Malam itu udara terasa sejuk setelah hujan ringan mengguyur kawasan Pesantren Darul Amanah sejak menjelang Magrib.
Genangan air kecil masih terlihat di beberapa sudut halaman, sementara dedaunan tampak lebih segar diterpa air hujan.
Setelah salat Isya berjamaah dan kegiatan belajar malam selesai, para santri tidak langsung kembali ke asrama seperti biasanya.
Malam itu seluruh perwakilan kamar dan pengurus santri berkumpul di Aula Musyawarah.
Ahmad yang baru beberapa minggu menjadi santri merasa penasaran.
Ia melihat para senior membawa buku catatan dan beberapa lembar laporan kegiatan.

“Kegiatan apa ini?” tanyanya kepada Farid.
“Katanya musyawarah santri bulanan.”
“Musyawarah?”
Farid mengangguk.
“Kakak kelas bilang semua santri boleh menyampaikan usulan dan masukan.”
Ahmad semakin tertarik.
Di kampungnya, ia jarang melihat forum seperti itu.
Tidak lama kemudian para peserta mulai memasuki aula.
Di bagian depan telah tersedia meja sederhana untuk pimpinan sidang.
Beberapa pengurus santri duduk di sana bersama musyrif yang bertugas mendampingi.
Kak Ridwan berdiri di depan ruangan.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.”
“Alhamdulillah, malam ini kita kembali mengadakan forum musyawarah santri. Forum ini merupakan sarana untuk menyampaikan aspirasi, saran, kritik, maupun usulan demi kebaikan bersama.”
Semua peserta mendengarkan dengan serius.
“Setiap pendapat akan dihargai selama disampaikan dengan adab yang baik.”
Kalimat itu langsung mengingatkan Ahmad pada pelajaran tentang adab yang disampaikan Kiai Hasyim beberapa hari sebelumnya.
Musyawarah pun dimulai.
Agenda pertama adalah evaluasi kebersihan lingkungan asrama.
Seorang santri senior berdiri.
“Secara umum kondisi kebersihan sudah baik. Namun masih ada beberapa kamar yang terlambat melaksanakan piket pagi.”
Beberapa peserta mencatat poin tersebut.
Kemudian salah seorang santri dari Asrama Umar mengangkat tangan.
“Menurut saya jadwal piket perlu ditempel lebih jelas agar tidak terjadi kesalahpahaman.”
Usulan itu langsung dicatat oleh sekretaris forum.
“Baik. Akan kita tindak lanjuti.”
Ahmad memperhatikan dengan kagum.
Setiap pendapat didengarkan dengan tenang.
Tidak ada yang ditertawakan.
Tidak ada yang dipotong ketika berbicara.
Semua berlangsung tertib.
***
Pada sesi berikutnya, pembahasan beralih pada kegiatan belajar malam.
Seorang santri bernama Zaki menyampaikan pendapat.
“Saya mengusulkan agar ruang belajar tambahan dibuka ketika menjelang ujian.”
“Alasannya?” tanya pimpinan sidang.
“Karena beberapa santri membutuhkan tempat yang lebih tenang untuk murojaah dan belajar kelompok.”
Usulan itu mendapat dukungan dari beberapa peserta.
Pimpinan sidang kemudian meminta tanggapan pengurus.
Salah seorang pengurus menjawab,
“Insya Allah akan kami koordinasikan dengan pihak pesantren.”
Forum kembali mencatat hasil pembahasan tersebut.
Ahmad mulai memahami bahwa musyawarah bukan sekadar acara formal.
Musyawarah adalah cara mencari solusi bersama.
***
Sementara itu, di kompleks santriwati, forum serupa juga sedang berlangsung.
Aisyah mengikuti musyawarah bersama para santriwati lainnya.
Ustazah Naila hadir sebagai pendamping.
Seorang santriwati menyampaikan usulan mengenai penambahan koleksi buku di perpustakaan.
Santriwati lain mengusulkan program belajar bersama untuk membantu teman-teman yang mengalami kesulitan pada beberapa mata pelajaran.
Semua usulan dicatat dengan baik.
Aisyah merasa senang.
Ia melihat bahwa setiap santri memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam membangun lingkungan pesantren yang lebih baik.
***
Kembali di Aula Musyawarah putra, suasana semakin hangat.
Pada sesi terakhir, pimpinan forum membuka kesempatan menyampaikan aspirasi secara umum.
Awalnya tidak ada yang berdiri.
Namun kemudian Ahmad memberanikan diri mengangkat tangan.
Farid yang duduk di sampingnya tampak terkejut.
“Kamu mau bicara?”
Ahmad mengangguk pelan.
Setelah dipersilakan maju, Ahmad berdiri di depan peserta.
Jantungnya berdebar cukup kencang.
Ini adalah pertama kalinya ia berbicara dalam forum sebesar itu.
“Bismillahirrahmanirrahim.”
Suara Ahmad terdengar sedikit gemetar.
Namun ia berusaha tenang.
“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para pengurus yang sudah membantu kami para santri baru beradaptasi.”
Beberapa peserta mengangguk.
“Lalu saya mengusulkan agar dibuat papan informasi yang lebih lengkap untuk santri baru agar lebih mudah memahami lokasi-lokasi penting di pesantren.”
Setelah selesai berbicara, Ahmad kembali duduk.
Ia menarik napas lega.
Pimpinan sidang tersenyum.
“Usulan yang baik. Terima kasih.”
Ahmad merasa sangat senang.
Bukan karena usulannya diterima.
Tetapi karena ia telah belajar menyampaikan pendapat dengan cara yang baik dan sopan.
***
Menjelang akhir acara, Kak Ridwan memberikan nasihat singkat.
“Musyawarah adalah bagian penting dalam kehidupan seorang muslim.”
Beliau memandang seluruh peserta.
“Dengan musyawarah, kita belajar mendengar sebelum berbicara.”
“Kita belajar menghargai perbedaan pendapat.”
“Kita belajar mencari solusi tanpa saling menyalahkan.”
Suasana aula menjadi hening.
“Kemajuan sebuah lembaga tidak hanya ditentukan oleh pemimpinnya.”
“Tetapi juga oleh partisipasi seluruh anggotanya.”
Nasihat itu memberikan kesan mendalam bagi para santri.
***
Malam semakin larut ketika forum akhirnya ditutup.
Para santri kembali ke asrama masing-masing.
Langit tampak cerah.
Bintang-bintang bertebaran di angkasa.
Dalam perjalanan menuju asrama, Farid menepuk bahu Ahmad.
“Ternyata kamu berani juga bicara di depan forum.”
Ahmad tersenyum malu.
“Sebenarnya tadi gugup sekali.”
“Tapi usulanmu bagus.”
Ahmad tertawa kecil.
Mereka terus berjalan melewati halaman pesantren yang tenang.
Malam itu Ahmad mendapatkan pelajaran baru.
Bahwa menjadi santri bukan hanya belajar kitab dan menghafal pelajaran.
Menjadi santri juga berarti belajar bertanggung jawab terhadap lingkungan, berani menyampaikan kebenaran dengan adab yang baik, serta ikut membangun kebaikan bersama.
Dan tanpa disadarinya, pengalaman malam itu mulai menumbuhkan benih-benih kepemimpinan dalam dirinya.
Bersambung: Seri 5 – Jadwal yang Membentuk Karakter














