“Tidak, hanya satu satu.”
Jawaban singkat itu langsung mengundang tawa. Buya Ahmad Syafii Maarif yang bertanya apakah Pak AR Fachruddin banyak merokok tidak menyangka akan memperoleh jawaban sesederhana sekaligus selucu itu. Humor yang lahir spontan seperti itulah yang membuat Kiai Haji Abdul Rozaq Fachruddin dikenang bukan hanya sebagai pemimpin besar Muhammadiyah, melainkan juga sebagai ulama yang mampu menyejukkan hati banyak orang.
Di tengah kehidupan publik yang sering dipenuhi ketegangan, Pak AR justru memperlihatkan wajah kepemimpinan yang berbeda. Ia tidak membangun wibawa melalui jarak, melainkan melalui kedekatan. Ia tidak mengandalkan retorika yang menggelegar, tetapi keteladanan yang membumi. Karena itulah, meskipun telah wafat puluhan tahun lalu, namanya tetap hidup dalam ingatan warga Muhammadiyah dan masyarakat Indonesia secara luas.
Nama Pak AR kini diabadikan di berbagai institusi pendidikan Muhammadiyah. Masjid AR Fachruddin berdiri megah di Universitas Muhammadiyah Malang. Di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, nama beliau digunakan untuk gedung pusat kampus. Universitas Muhammadiyah Purwokerto juga mengabadikan namanya pada gedung pencakar langit milik kampus tersebut. Penghormatan itu bukan semata karena jabatan yang pernah diembannya, melainkan karena warisan nilai yang ditinggalkannya.
Abdul Rozaq Fachruddin lahir pada 14 Februari 1916 di kawasan Pakualaman, Yogyakarta. Ia tumbuh dalam keluarga ulama yang memiliki akar kuat dalam tradisi keagamaan sekaligus pendidikan. Sejak kecil, ia memperoleh pendidikan di lingkungan Muhammadiyah yang saat itu dikenal membawa semangat pembaruan melalui perpaduan ilmu agama dan ilmu umum. Dari lingkungan inilah tumbuh karakter terbuka, moderat, dan berkemajuan yang kemudian menjadi ciri khas kepemimpinannya.
Perjalanan organisasinya berlangsung dari bawah. Ia pernah menjadi aktivis Pemuda Muhammadiyah, memimpin ranting, cabang, wilayah, hingga akhirnya dipercaya memimpin Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pada tahun 1968, setelah wafatnya KH Faqih Usman, Pak AR dipercaya menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah. Jabatan itu diembannya selama dua puluh dua tahun hingga 1990, menjadikannya pemimpin terlama dalam sejarah Muhammadiyah.
Yang membuat kepemimpinannya istimewa bukan hanya lamanya masa jabatan. Pak AR memimpin Muhammadiyah pada masa yang penuh perubahan. Ia melewati zaman kolonial Belanda, pendudukan Jepang, masa kemerdekaan, hingga era Orde Baru. Dalam situasi politik yang sering berubah, ia mampu menjaga Muhammadiyah tetap menjadi gerakan dakwah, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial yang dipercaya masyarakat.
Kekuatan terbesar Pak AR terletak pada kemampuannya memahami manusia. Ia sadar bahwa dakwah tidak cukup hanya menyampaikan dalil. Dakwah harus mampu menyentuh hati. Karena itu, ia selalu berusaha mengenali karakter masyarakat yang dihadapinya sebelum menyampaikan pesan keagamaan. Baginya, berdakwah memerlukan pendekatan yang sesuai dengan kondisi audiens.
Pendekatan itu tampak dalam berbagai kisah yang masih dikenang hingga kini. Ketika menghadapi perbedaan pandangan, ia tidak memilih konfrontasi. Ia menggunakan dialog, humor, dan kebijaksanaan. Cara tersebut membuat dakwah Muhammadiyah dapat diterima oleh berbagai lapisan masyarakat tanpa menimbulkan ketegangan yang tidak perlu.
Humor menjadi salah satu instrumen penting dalam komunikasi Pak AR. Namun humor yang digunakannya bukan sekadar untuk menghibur. Humor itu menjadi jembatan yang mempertemukan gagasan besar dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat. Melalui candaan sederhana, ia mampu menyampaikan kritik, nasihat, dan ajaran agama tanpa membuat orang merasa digurui.
Di balik sosok yang humoris, tersimpan keteguhan prinsip yang kuat. Pak AR dikenal sederhana dan tidak tergoda memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi. Berbagai kesaksian menyebutkan bahwa beliau menjalani hidup dengan sangat bersahaja. Bahkan setelah memimpin salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia selama lebih dari dua dekade, ia tetap mempertahankan gaya hidup yang jauh dari kemewahan.
Kesederhanaan itu melahirkan kepercayaan. Warga Muhammadiyah melihat bahwa pemimpinnya tidak hanya berbicara tentang nilai nilai Islam, tetapi juga menjalankannya dalam kehidupan sehari hari. Kejujuran, keikhlasan, dan pengabdian menjadi fondasi moral yang memperkuat kepemimpinannya selama puluhan tahun.
Kini, ketika ruang publik sering dipenuhi pertengkaran dan polarisasi, keteladanan Pak AR terasa semakin relevan. Ia menunjukkan bahwa ketegasan tidak harus disampaikan dengan kemarahan. Perbedaan tidak harus berakhir pada permusuhan. Dakwah tidak harus menghadirkan ketakutan. Kepemimpinan tidak harus menciptakan jarak.
Mungkin karena itulah masyarakat masih mengenang Pak AR hingga hari ini. Bukan semata karena ia memimpin Muhammadiyah selama dua puluh dua tahun, melainkan karena ia berhasil memperlihatkan bahwa seorang pemimpin besar dapat hadir dengan senyum, kesederhanaan, dan rasa hormat kepada sesama manusia. Dan sebagaimana jawaban legendarisnya tentang rokok, warisan Pak AR sesungguhnya sederhana, tetapi terus dikenang dari satu generasi ke generasi berikutnya, satu satu.














