Cerpen: Keputusan Itu Sudah Diambil Lama

banner 120x600

Tujuh tahun menjadi pengacara perceraian membuat Arga melihat berbagai wajah manusia di ruang sidang. Ia menyaksikan pasangan yang saling berteriak, saling menyalahkan, bahkan menangis di depan hakim. Namun, dari ratusan perkara yang pernah ditanganinya, ada satu jenis klien yang selalu membuat bulu kuduknya berdiri.

Suatu sore, seorang temannya bertanya sambil bercanda, “Kasus seperti apa yang paling mengerikan selama kamu bekerja?”

Arga tidak langsung menjawab. Ia menyesap kopinya lebih dulu lalu memandang ke luar jendela. Setelah beberapa saat, ia berkata bahwa yang paling mengerikan bukanlah pasangan yang bertengkar hebat atau mereka yang terlibat perselingkuhan.

“Yang paling mengerikan adalah istri yang datang dengan tenang,” ujarnya pelan. “Mereka duduk rapi, tersenyum tipis, dan berbicara dengan suara datar. Tidak ada air mata, tidak ada kemarahan, dan tidak ada nada tinggi.”

BERITA TERKAIT  Kejaksaan RI Kembali Unjuk Gigi, Tersangkakan Tiga Petinggi BGN Usai Sehari Dicopot

Temannya mengernyitkan dahi. Baginya, klien seperti itu justru tampak lebih mudah ditangani dibanding mereka yang emosional.

Arga menggeleng. Menurut pengalamannya, ketenangan seperti itu bukanlah tanda bahwa masalahnya ringan. Justru sebaliknya, ketenangan itu biasanya muncul setelah seseorang melewati badai yang sangat panjang di dalam dirinya.

“Mengapa itu mengerikan?” tanya temannya lagi.

Karena ketika seorang istri sudah benar benar tenang, biasanya keputusan itu sudah selesai jauh sebelum ia melangkahkan kaki ke pengadilan. Ia tidak datang untuk mencari jawaban. Ia datang karena jawabannya sudah ditemukan.

Arga lalu menceritakan seorang klien yang pernah datang beberapa tahun lalu. Perempuan itu duduk dengan sikap sempurna, berbicara sopan, dan menjelaskan alasannya bercerai tanpa sedikit pun menunjukkan emosi. Tidak ada keluhan panjang, tidak ada tangisan, dan tidak ada usaha untuk membuat suaminya terlihat buruk.

BERITA TERKAIT  Dugaan Penyalahgunaan BBM Bersubsidi Di Tumpang Mencuat, Masyarakat Menunggu Ketegasan Polsek Setempat

Ketika Arga bertanya apakah ia masih ingin mempertimbangkan pernikahannya, perempuan itu hanya tersenyum tipis. Dengan suara yang nyaris tanpa getaran, ia mengatakan bahwa pertimbangan itu sudah dilakukan berbulan bulan sebelumnya.

Saat itu Arga akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan di bangku kuliah hukum. Banyak orang mengira perceraian terjadi ketika gugatan diajukan. Padahal, dalam banyak kasus, perceraian sebenarnya sudah terjadi jauh lebih dulu di dalam hati seseorang.

Sejak hari itu, Arga selalu merasa lebih khawatir ketika menghadapi klien yang terlalu tenang. Kemarahan masih menyimpan harapan untuk didengar. Tangisan masih menyimpan keinginan untuk dipahami. Namun ketenangan yang lahir setelah luka panjang sering kali menandakan bahwa semua harapan telah habis.

Temannya terdiam mendengar penjelasan itu. Ia baru menyadari bahwa suara yang datar kadang lebih menyedihkan daripada tangisan yang keras. Sebab di balik ketenangan itu, ada perjuangan panjang yang tidak pernah terlihat oleh siapa pun.

BERITA TERKAIT  Ketika Membela Diri Berujung Menjadi Tersangka

Arga hanya mengangguk pelan. Pengalaman bertahun tahun mengajarkannya satu hal yang selalu terbukti benar. Ketika seseorang datang dengan hati yang benar benar tenang, sering kali keputusan terbesarnya telah diambil jauh sebelum siapa pun menyadarinya.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *