Saifuddin dan Kehormatan dari Tanah Suci

banner 120x600

Di sebuah hotel di kawasan Jarwal, Makkah, Saifuddin HM Abd Muin Saideng duduk tenang di tengah keramaian jamaah haji Indonesia. Lelaki tunanetra asal Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, itu tidak banyak bicara. Ia hanya menggenggam tasbih sambil mendengarkan percakapan di sekelilingnya. Namun beberapa saat kemudian, suasana berubah haru ketika sejumlah perwakilan Pemerintah Arab Saudi datang menghampirinya. Dari pertemuan sederhana itu muncul kabar yang kemudian menyebar luas di Indonesia. Nama Saifuddin disebut akan dijadikan nama masjid yang direncanakan dibangun di Arab Saudi. Kisah itu bukan hanya menyentuh sisi kemanusiaan, tetapi juga membuka ruang refleksi tentang ketulusan, martabat manusia, dan cara dunia memandang penyandang disabilitas.

Saifuddin bukan tokoh terkenal. Ia hanyalah imam masjid kampung di Kabupaten Sinjai yang selama puluhan tahun hidup dalam kesederhanaan. Dalam berbagai laporan media lokal dan nasional, ia disebut menabung selama sekitar dua dekade demi mewujudkan impiannya berangkat ke Tanah Suci. Keterbatasan penglihatan tidak membuatnya menyerah. Dengan menjadi imam masjid dan mengajar mengaji, ia perlahan mengumpulkan biaya haji hingga akhirnya tergabung dalam Kloter 17 Embarkasi Makassar tahun 2026.

Perjalanan Saifuddin segera menjadi perhatian banyak pihak setelah kisah hidupnya sampai kepada otoritas haji Arab Saudi. Ketua PPIH Embarkasi Makassar, Ikbal Ismail, menjelaskan bahwa tim Kementerian Haji dan Umrah Saudi mendatangi langsung Saifuddin setelah mendengar perjuangannya. Dalam pertemuan itu, Saifuddin juga menerima hadiah dan penghormatan khusus sebagai bentuk apresiasi atas keteguhannya menjalankan ibadah haji di tengah keterbatasan fisik.

Kisah Saifuddin dengan cepat berkembang menjadi simbol yang lebih besar daripada sekadar perjalanan ibadah pribadi. Di tengah dunia modern yang sering menilai manusia berdasarkan pencapaian materi dan kemampuan fisik, Saifuddin justru memperlihatkan bahwa keteguhan hati mampu menghadirkan penghormatan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Ia datang dari daerah kecil yang jarang menjadi sorotan nasional, tetapi ketulusannya menembus perhatian pejabat negara lain yang dikenal sangat menjaga simbol simbol keagamaan mereka.

Rencana penggunaan nama Saifuddin untuk sebuah masjid di Arab Saudi memang masih berada pada tahap penyampaian penghormatan dan belum diumumkan secara resmi oleh pemerintah Saudi dalam dokumen formal kenegaraan. Karena itu, informasi tersebut lebih tepat dipahami sebagai bentuk penghargaan simbolik yang disampaikan kepada jamaah Indonesia, bukan keputusan final pembangunan masjid resmi negara. Namun justru di situlah letak pentingnya peristiwa ini. Seorang jamaah biasa dari Sinjai mampu menghadirkan simpati lintas negara hanya melalui ketulusan perjuangan hidupnya.

Peristiwa tersebut juga membuka kembali pembicaraan tentang posisi penyandang disabilitas di Indonesia. Selama ini akses terhadap fasilitas publik bagi penyandang tunanetra masih jauh dari ideal. Banyak trotoar tidak memiliki jalur pemandu, transportasi umum belum sepenuhnya ramah disabilitas, dan kesempatan kerja masih sangat terbatas. Dalam kondisi seperti itu, penghormatan yang diterima Saifuddin dari Arab Saudi terasa kontras dengan kenyataan yang masih dihadapi banyak penyandang disabilitas di tanah air.

Namun feature ini tidak semestinya berhenti hanya pada rasa haru. Ada pelajaran sosial yang lebih besar di balik perjalanan Saifuddin. Ia menunjukkan bahwa kemuliaan manusia tidak selalu lahir dari jabatan, kekayaan, atau popularitas. Di tengah era media sosial yang dipenuhi pencitraan religius, Saifuddin hadir tanpa panggung besar dan tanpa strategi viral. Ia dikenal justru karena kesederhanaannya. Kisahnya menyebar bukan karena rekayasa konten, melainkan karena ketulusan yang dirasakan banyak orang.

Dalam sejarah Islam sendiri, penyandang disabilitas memiliki tempat yang sangat terhormat. Abdullah bin Ummi Maktum, sahabat Nabi Muhammad SAW yang juga tunanetra, pernah dipercaya menjadi muazin dan memimpin Madinah ketika Rasulullah bepergian. Kisah Saifuddin mengingatkan kembali bahwa Islam sejak awal tidak pernah menempatkan keterbatasan fisik sebagai ukuran kemuliaan manusia. Yang dinilai adalah ketakwaan, perjuangan, dan keteguhan hati seseorang.

Kabupaten Sinjai pun mendadak ikut dikenal luas karena sosok sederhana ini. Nama daerah yang biasanya hanya muncul dalam pemberitaan lokal kini disebut dalam percakapan jamaah haji Indonesia di Tanah Suci. Ini menunjukkan bahwa pengaruh besar tidak selalu lahir dari pusat kekuasaan. Kadang sebuah keteladanan justru datang dari pinggiran yang selama ini jarang diperhatikan.

Kisah Saifuddin akhirnya menjadi lebih dari sekadar berita human interest. Ia berubah menjadi cermin sosial tentang bagaimana manusia memandang sesama manusia. Ketika dunia sering kali sibuk mengejar pencapaian material dan simbol status, seorang imam tunanetra dari Sinjai justru mengajarkan bahwa ketulusan dapat menghadirkan penghormatan yang melampaui batas negara. Dan mungkin, di situlah makna terdalam ibadah haji menemukan bentuknya yang paling sederhana sekaligus paling menyentuh.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *