JAKARTA – Semangat intelektual dan kesadaran kebangsaan menggema dalam kegiatan Intermediate Training atau Latihan Kader II (LK II) yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Kota Bogor tahun 2026. Forum kaderisasi tingkat nasional tersebut menghadirkan pakar Hukum Tata Negara, Dr. Fahri Bachmid sebagai narasumber utama.
Dalam forum yang berlangsung penuh antusias dan dialog kritis itu, Fahri Bachmid membawakan materi bertajuk “Supremasi Hukum di Era Algoritma: Menjaga Keadilan di Balik Layar.” Materi tersebut mengupas tantangan besar demokrasi, hukum, dan ketatanegaraan di tengah derasnya arus perkembangan teknologi digital.
Di hadapan peserta LK II, Fahri menegaskan bahwa perkembangan algoritma dan teknologi digital kini tidak hanya memengaruhi pola komunikasi masyarakat, tetapi juga membentuk opini publik, perilaku sosial, bahkan arah demokrasi modern.
Menurutnya, era digital menghadirkan tantangan serius terhadap supremasi hukum, mulai dari penyebaran disinformasi, manipulasi opini publik, pelanggaran privasi data, hingga dominasi ruang digital oleh kepentingan tertentu.
“Teknologi berkembang sangat cepat, tetapi hukum tidak boleh kehilangan orientasi keadilan dan kemanusiaannya. Supremasi hukum harus tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga demokrasi dan hak-hak masyarakat,” tegas Fahri Bachmid.
Tak hanya membahas hukum dan demokrasi digital, Fahri juga menyinggung arah masa depan kepemimpinan nasional Indonesia. Ia menilai bangsa ini harus mulai membangun imajinasi besar mengenai model kepemimpinan berbasis ilmu pengetahuan dan kompetensi.
Menurutnya, kepemimpinan modern tidak cukup hanya bertumpu pada popularitas politik, tetapi juga membutuhkan kapasitas intelektual, budaya riset, dan kemampuan teknokratis dalam menjalankan negara.
“Hari ini pemerintahan masih banyak dipimpin para politisi. Di atas itu ada teknokrat, yakni mereka yang memiliki kompetensi teknis dan kemampuan menjalankan negara secara profesional,” ujarnya.
Ia juga mencontohkan sejumlah negara yang mulai mengembangkan pola kepemimpinan berbasis keilmuan dan riset.
“Kita melihat bagaimana ada negara yang mulai dipimpin oleh para ilmuwan atau sainstokrat. Indonesia harus mulai membayangkan masa depan yang dipimpin oleh orang-orang dengan basis ilmu pengetahuan, riset, dan kapasitas intelektual yang kuat,” lanjutnya.
Dalam forum tersebut, Fahri menekankan bahwa generasi muda, khususnya kader HMI dan mahasiswa, memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kualitas demokrasi bangsa. Mahasiswa, kata dia, tidak boleh berhenti hanya pada aktivitas politik praktis, tetapi juga harus memperkuat tradisi intelektual dan penguasaan ilmu pengetahuan.
“Mahasiswa harus menjadi kelompok intelektual yang mampu membaca zaman dan menghadirkan gagasan untuk masa depan bangsa. Negara ini membutuhkan pemimpin yang bukan hanya populer secara politik, tetapi juga memiliki integritas dan kapasitas keilmuan,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa algoritma media sosial saat ini sangat memengaruhi cara masyarakat menerima informasi. Karena itu, kader mahasiswa dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis, kesadaran hukum, dan ketahanan intelektual agar tidak mudah terjebak dalam polarisasi maupun disinformasi digital.
“Di era algoritma hari ini, masyarakat sering merasa bebas menentukan pilihan, padahal ruang pikir dan informasi yang diterima sangat dipengaruhi oleh sistem digital yang bekerja di balik layar,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Kota Bogor, Moeltazam, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Fahri Bachmid dalam kegiatan kaderisasi tersebut.
Ia berharap seluruh rangkaian Intermediate Training (LK II) mampu melahirkan kader-kader HMI yang tangguh secara intelektual, kuat dalam kepemimpinan, dan memiliki kesadaran kebangsaan yang tinggi.
“Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada Dr. Fahri Bachmid yang telah hadir dan memberikan pemikiran-pemikiran penting kepada peserta LK II HMI Cabang Kota Bogor 2026. Semoga kegiatan ini melahirkan kader terbaik untuk umat dan bangsa,” ujar Moeltazam.
Kegiatan LK II HMI Cabang Kota Bogor 2026 berlangsung penuh semangat dan interaktif. Berbagai diskusi berkembang mengenai tantangan hukum di era digital, kebebasan berekspresi di media sosial, hingga peran generasi muda dalam menjaga demokrasi dan supremasi hukum di Indonesia.
Forum ini menjadi bukti bahwa kaderisasi mahasiswa Islam tidak hanya berbicara tentang organisasi, tetapi juga tentang membangun kesadaran intelektual, kepemimpinan visioner, dan tanggung jawab kebangsaan di tengah perubahan zaman yang semakin kompleks.














