Rahasia Sunyi Di Balik Dana Desa

banner 120x600

Pagi yang biasanya dipenuhi suara cangkul dan tawa warga mendadak terasa ganjil ketika kabar perubahan anggaran desa menyebar dari warung kopi ke balai pertemuan. Para kepala desa saling menatap dengan gelisah mencoba memahami keputusan yang datang terlalu cepat sementara kebutuhan warga tetap berjalan tanpa bisa menunggu jawaban pasti dari siapa pun yang memegang kewenangan jauh di atas mereka.

Pak Darma belum selesai menyeruput kopi ketika teleponnya berdering untuk kesekian kali. Nada dering itu seperti palu kecil yang mengetuk dadanya pelan tetapi terus menerus. Di layar ponsel nama bendahara desa muncul lagi dan ia sudah dapat menebak percakapan yang akan terjadi hanya berisi angka yang menyusut serta rencana yang harus dipangkas satu per satu.

Sejak kabar pengalihan sebagian dana menuju pembentukan koperasi desa diumumkan semua rencana terasa seperti kertas basah yang sulit dibentangkan. Jalan yang hendak diperbaiki tertunda. Saluran air yang dijanjikan kepada petani kembali masuk daftar tunggu. Bahkan pelatihan menjahit bagi para ibu terancam dibatalkan. Setiap keputusan terasa seperti memilih bagian tubuh mana yang rela diselamatkan lebih dulu.

Di balai desa para perangkat duduk melingkar tanpa banyak suara. Biasanya ruangan itu riuh oleh usul dan perdebatan kecil. Kini yang terdengar hanya bunyi kipas tua berderit dan kertas yang dibalik perlahan. Pak Darma berdiri mencoba terlihat tenang meski matanya menyimpan kelelahan yang belum sempat ia akui bahkan kepada dirinya sendiri.

Kita harus mencari jalan katanya singkat.

Tak ada yang langsung menjawab. Semua orang tahu kalimat itu benar tetapi tak seorang pun benar benar memahami jalan mana yang dimaksud atau ke mana arah keputusan akan membawa desa kecil mereka.

Hari hari berikutnya dipenuhi rapat kecil kunjungan mendadak dan percakapan setengah berbisik di sudut sudut desa. Para kepala desa di kecamatan saling menelepon hingga larut malam. Mereka seperti pemain akrobat tanpa jaring pengaman berusaha menjaga keseimbangan antara aturan baru dan kebutuhan warga yang tidak pernah bisa ditunda.

Di pasar kabar berkembang lebih cepat daripada pengumuman resmi. Ada yang menyalahkan pemerintah. Ada yang menuduh kepala desa tidak becus mengatur anggaran. Ada pula yang hanya pasrah berkata bahwa nasib desa memang selalu bergantung pada keputusan orang jauh yang tidak pernah melihat sawah retak saat kemarau panjang.

Pak Darma memilih lebih banyak diam. Setiap sore ia berjalan menyusuri pematang menyapa petani satu per satu. Ia mendengar keluhan tentang pupuk mahal air yang semakin sedikit dan harapan yang mulai menipis. Semua keluhan itu ia simpan seperti batu kecil di saku yang makin lama makin berat menekan langkahnya.

Suatu malam bendahara desa datang membawa berkas baru. Wajahnya pucat tetapi matanya menyimpan nyala harapan yang ragu ragu.

Masih ada kemungkinan katanya pelan.

Pak Darma menatap angka di kertas itu. Ada celah kecil dalam aturan yang memungkinkan sebagian kegiatan tetap berjalan melalui kerja sama warga dan swadaya. Bukan solusi sempurna tetapi cukup menjaga agar desa tidak benar benar berhenti bergerak.

Harapan tipis itu menyebar perlahan. Warga bergotong royong memperbaiki jalan dengan bahan seadanya. Para pemuda membantu menggali saluran air tanpa menunggu upah. Para ibu tetap membuka kelas menjahit di teras rumah. Desa berjalan pelan seperti orang sakit yang belajar berdiri kembali setelah lama terbaring.

Untuk pertama kalinya sejak kabar perubahan anggaran muncul Pak Darma merasa napasnya sedikit lega. Mungkin desa ini memang lebih kuat daripada angka angka di laporan resmi.

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.

Suatu pagi sebuah surat dari kabupaten tiba tanpa pemberitahuan. Isinya singkat tetapi cukup membuat tangan Pak Darma gemetar. Akan ada pemeriksaan mendadak terhadap penggunaan anggaran desa selama dua tahun terakhir dan seluruh dokumen harus siap dalam waktu tiga hari.

Balai desa kembali dipenuhi ketegangan. Berkas lama dibongkar catatan diperiksa berulang ulang dan setiap tanda tangan terasa mencurigakan. Keringat dingin muncul bukan hanya karena takut salah tetapi karena takut kebenaran tidak dipercaya.

Malam terakhir sebelum tim pemeriksa datang Pak Darma duduk sendirian di ruangannya. Lampu redup menggantung seperti bulan yang kelelahan. Ia membuka laci paling bawah dan mengeluarkan sebuah map cokelat yang selama ini ia simpan rapat jauh dari pandangan siapa pun.

Di dalam map itu bukan laporan keuangan.

Melainkan salinan surat persetujuan pengalihan dana desa yang ia tanda tangani sendiri berbulan bulan sebelumnya.

Tangannya bergetar saat membaca kembali alasan yang ia tulis demi mempercepat pembentukan koperasi yang kelak akan ia kelola setelah masa jabatannya berakhir. Kalimat itu kini terasa lebih berat daripada apa pun yang pernah ia tanggung sepanjang hidupnya.

Langkah kaki terdengar mendekat dari lorong. Bendahara desa memanggil namanya memberi tahu bahwa tim pemeriksa telah tiba lebih cepat dari jadwal.

Pak Darma menutup map itu perlahan. Wajahnya kembali tenang seolah semua kegelisahan hanyalah bayangan pendek yang akan hilang bersama datangnya pagi.

Ia berdiri merapikan pakaian lalu melangkah keluar menyambut para pemeriksa dengan senyum paling ramah yang pernah ia latih sepanjang hidupnya.

Di halaman warga telah berkumpul menunggu hasil yang belum mereka pahami. Mereka percaya kepala desanya sedang berjuang menyelamatkan masa depan desa.

Tak seorang pun mengetahui bahwa sejak awal yang terancam hilang bukanlah dana desa.

Melainkan kejujuran yang diam diam telah ia tukarkan dengan masa depan miliknya sendiri.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *