Ketika Air Menipis Petani Menggugat Ketangguhan AWD

banner 120x600

BuserNasional — Kementerian Pertanian mengklaim teknik pengaturan air sawah Alternate Wetting and Drying mampu menghemat penggunaan irigasi hingga 20 persen di tengah ancaman kekeringan panjang fenomena El Nino yang diprediksi ekstrem. Namun efektivitas teknik ini di lapangan tetap dipertanyakan oleh para petani dan peneliti sumber daya air karena persoalan struktural belum sepenuhnya terjawab. (Antara News 1 September 2025)

 

Upaya penyelamatan pertanian di tengah ancaman kekeringan yang dipicu fenomena El Nino menarik perhatian publik ketika Kementerian Pertanian mengumumkan penggunaan metode Alternate Wetting and Drying atau AWD sebagai strategi adaptasi irigasi untuk tanaman padi. Menurut artikel Antara News berjudul Kementan Pakai Metode AWD Hemat Air 20 Persen Hadapi Godzilla El Nino yang dipublikasikan pada 1 September 2025, teknik ini diklaim mampu mengurangi penggunaan air irigasi hingga 20 persen sambil tetap menjaga produktivitas tanaman di sawah.

 

Klaim penghematan 20 persen ini menjadi angka yang menarik namun sekaligus memunculkan skeptisisme dari berbagai pihak. AWD pada dasarnya merupakan teknik pengaturan aliran air yang bergantian antara periode tergenang dan tidak tergenang di areal sawah yang bertujuan untuk mengendalikan penggunaan air secara lebih efisien. Namun pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana klaim efisiensi itu dapat dibuktikan secara ilmiah dan lebih penting lagi bagaimana implementasinya di kondisi nyata yang sangat bervariasi antara satu daerah dengan daerah lain.

 

Dari perspektif klimatologi, fenomena El Nino memang memiliki potensi untuk memicu musim kering yang lebih panjang dari biasanya. Data BMKG memperlihatkan tren variabilitas iklim yang semakin tinggi seiring pemanasan global yang terus berlanjut. Dalam konteks ini, pertanian terutama yang bergantung pada irigasi permukaan memerlukan strategi adaptasi yang lebih komprehensif. Namun teknik semata seperti AWD, meski memiliki dasar ilmiah, tetap bukan jawaban tunggal atas persoalan kekeringan yang lebih luas.

 

Para ahli sumber daya air dan pertanian juga menegaskan bahwa efektivitas AWD sangat bergantung pada kondisi awal sumber air setiap wilayah. Peneliti yang berfokus pada manajemen air irigasi menjelaskan bahwa AWD dapat efektif pada sistem irigasi tertutup yang terkontrol, tetapi kurang optimal di wilayah yang sudah mengalami defisit air signifikan akibat musim kering berkepanjangan. Tanpa keberadaan cadangan air minimum yang cukup, pengaturan periode tergenang dan tidak tergenang hanya akan mempercepat stres air di tanah.

 

Selain itu hasil uji coba di beberapa lembaga penelitian pertanian menunjukkan bahwa AWD membutuhkan pendampingan teknis intensif agar dapat dioperasikan dengan tepat. Petani harus memahami secara seksama kapan sawah harus digenangi dan kapan harus dikeringkan berdasarkan kedalaman air tanah, tipe tanah, varietas padi, dan fase pertumbuhan tanaman. Tanpa pelatihan dan monitoring yang memadai, potensi efisiensi air yang dijanjikan dapat berubah menjadi risiko bagi produksi padi itu sendiri.

 

Di lapangan suara petani juga menghadirkan realitas praktik yang lebih kompleks. Beberapa petani menyatakan bahwa meskipun teknik AWD secara teori dapat mengurangi pemakaian air, realitas lahan mereka menuntut pengelolaan yang berbeda karena sumber air yang tidak stabil. Ketika musim kering terlalu panjang, sawah cenderung kehilangan kelembaban tanah lebih cepat sehingga produktivitas justru menurun walau penggunaan air memang telah ditekan.

 

Kritik lain muncul seputar fokus kebijakan. AWD cenderung dilihat sebagai solusi teknis yang bekerja di permukaan tanpa mengatasi akar persoalan struktural seperti ketersediaan air irigasi yang adil, pembangunan infrastruktur retensi air yang memadai, serta pengelolaan ruang tangkapan air yang ramah ekosistem. Tanpa kebijakan terintegrasi yang menggabungkan pendekatan teknis dengan perencanaan spasial dan sosial yang kuat, efektivitas AWD bisa saja hanya bersifat sementara.

 

Lantas bagaimana seharusnya kita memposisikan inovasi seperti AWD dalam strategi nasional menghadapi ancaman kekeringan? Beberapa pakar menyarankan bahwa perlu ada harmonisasi antara potensi teknik ini dengan investasi pada struktur air seperti embung, bendungan kecil, sumur resapan, dan konservasi tanah yang terpadu. Dengan demikian, respon terhadap kekeringan dapat bersifat preventif dan tidak hanya bergantung pada adaptasi operasional di sawah saja.

 

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian perlu memperkuat basis data dan monitoring implementasi AWD di berbagai wilayah sehingga klaim efisiensi air tidak hanya berbasis perkiraan tetapi dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kolaborasi dengan lembaga riset dan perguruan tinggi, serta penyediaan pelatihan teknis kepada petani menjadi kunci utama agar strategi ini tidak hanya menjadi jargon tetapi berubah menjadi praktik yang nyata dan berdampak.

 

Di tengah ketidakpastian iklim yang semakin nyata, evaluasi terhadap setiap strategi adaptasi harus berbasis bukti data, keterlibatan multi pihak, dan solusi yang komprehensif. AWD dapat menjadi bagian dari portofolio strategi adaptasi tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya jawaban ketika tantangan yang dihadapi jauh melampaui sekedar teknik pengaturan air di permukaan sawah. Integrasi kebijakan air, pembangunan infrastruktur, dan pemberdayaan petani harus berjalan simultan agar ketahanan pangan Indonesia tetap terjaga menghadapi era iklim yang semakin tidak menentu.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *