Cerpen  

Cerpen: Dua Kursi Kosong Mengubah Cara Memimpin

banner 120x600

Malam itu kantor sudah hampir kosong ketika aku kembali duduk di ruang kerja yang lampunya tinggal beberapa menyala. Di ujung ruangan, dua kursi tampak kosong dan diam seperti sedang menatapku balik. Sebulan lalu aku sendiri yang mengosongkan kursi itu. Saat itu aku merasa sedang menegakkan wibawa sebagai pemilik usaha. Namun malam ini, kesunyian kantor justru membuka sesuatu yang tidak pernah kusadari sebelumnya.

Perusahaanku tidak besar. Hanya kantor sederhana dengan belasan karyawan yang bekerja mengurus berbagai proyek kecil. Sejak awal aku membangun tempat ini dengan satu keyakinan sederhana. Jika suasana kantor terasa hangat, orang orang akan bekerja dengan hati.

Aku tidak pernah ingin menjadi pemilik yang kaku.

Setiap pagi aku menyapa mereka satu per satu. Kadang kami bercanda sebelum mulai bekerja. Jika ada yang ulang tahun, aku membawa kue kecil. Jika ada yang sakit, aku berusaha menjenguk.

Beberapa karyawan bahkan sering memanggilku dengan nada bercanda.

Awalnya aku senang. Aku merasa hubungan kami seperti keluarga.

Namun perlahan aku mulai merasakan sesuatu yang berubah.

Dua karyawan bernama Andi dan Bimo mulai sering datang terlambat. Pekerjaan mereka yang dulu selalu rapi kini sering tertunda. Kadang laporan yang harus selesai dalam dua hari baru muncul seminggu kemudian.

Suatu pagi aku melihat mereka masih duduk santai sambil menonton sesuatu di ponsel padahal pekerjaan belum selesai.

Aku menegur dengan nada ringan.

“Andi, laporan klien Surabaya sudah selesai?”

Andi hanya tersenyum sambil berkata santai.

“Tenang pak, nanti juga beres.”

Nada itu terasa seperti bercanda. Namun ada sesuatu di dalam dadaku yang terasa tidak nyaman.

BERITA TERKAIT  Cerpen: WhatsApp Menjadi Cermin yang Mengadili

Beberapa hari kemudian kejadian serupa terulang lagi. Pekerjaan yang harusnya selesai tetap tertunda. Ketika kutanya, jawabannya selalu santai.

“Masih dikerjakan pak.”

“Sebentar lagi selesai.”

Sampai suatu pagi aku membuka komputer dan melihat laporan penting yang harus dikirim ke klien besar masih kosong.

Saat itu aku merasa sesuatu pecah di dalam diriku.

Aku bekerja keras membangun usaha ini dari nol. Banyak malam tanpa tidur. Banyak risiko yang kupikul sendiri.

Melihat sikap santai seperti itu membuatku merasa diremehkan.

Hari itu aku memanggil Andi dan Bimo ke ruanganku.

Mereka masuk dengan wajah masih santai.

Aku menunjuk dua kursi di depan meja.

“Duduk.”

Beberapa detik ruangan terasa sunyi.

Aku menatap mereka bergantian.

“Perusahaan ini bukan tempat untuk orang yang tidak serius bekerja.”

Andi terlihat terkejut.

Bimo mencoba menjawab.

“Pak, sebenarnya kami masih mengerjakan…”

Aku mengangkat tangan menghentikan kalimatnya.

“Kesempatan sudah banyak saya berikan. Tapi sikap kalian tidak berubah.”

Ruangan kembali sunyi.

Akhirnya aku mengatakan keputusan yang sudah kupikirkan sejak pagi.

“Kalian tidak perlu bekerja di sini lagi.”

Wajah mereka berubah pucat.

Andi terlihat ingin mengatakan sesuatu, namun akhirnya hanya menunduk.

Mereka keluar dari ruangan tanpa banyak kata.

Ketika pintu tertutup, aku merasa seperti baru saja memotong sesuatu dalam hidupku.

Sore harinya aku berbicara dengan Raka.

Dia salah satu karyawan paling lama bekerja di perusahaan ini. Orangnya tenang, jarang banyak bicara, tetapi selalu menyelesaikan pekerjaan dengan sangat rapi.

Kami duduk di ruang kerja sambil melihat jendela yang mulai gelap.

BERITA TERKAIT  Cerpen: WhatsApp Menjadi Cermin yang Mengadili

Aku menceritakan kejadian pemecatan tadi.

Raka mendengarkan tanpa menyela.

Setelah aku selesai, dia berkata pelan.

“Bapak sebenarnya terlalu baik kepada karyawan.”

Aku mengerutkan kening.

“Maksudnya?”

Raka menatap meja sebentar sebelum menjawab.

“Bapak terlalu akrab. Terlalu dekat. Kadang orang jadi lupa bahwa ini tempat kerja.”

Aku terdiam.

Raka melanjutkan dengan nada hati hati.

“Seharusnya tetap ada jarak. Bukan berarti tidak ramah. Tapi ada batas yang jelas.”

Kata kata itu terasa sederhana.

Namun entah kenapa kalimat itu terus terngiang di kepalaku malam itu.

Sejak hari itu aku mencoba berubah.

Aku tetap menyapa karyawan setiap pagi, tetapi tidak lagi ikut bercanda lama. Aku jarang makan siang bersama mereka. Aku mulai menegaskan aturan kerja dengan lebih jelas.

Suasana kantor berubah.

Lebih sunyi.

Lebih rapi.

Beberapa karyawan terlihat lebih berhati hati ketika berbicara denganku.

Pekerjaan memang menjadi lebih tertib.

Namun entah kenapa ada perasaan kosong yang perlahan muncul.

Sebulan berlalu.

Suatu malam aku lembur sendirian di kantor.

Lampu ruangan hanya menyala separuh. Di luar jendela, jalan sudah sepi.

Tanpa sadar mataku tertuju pada dua kursi kosong di depan meja kerjaku.

Kursi tempat Andi dan Bimo duduk terakhir kali.

Tiba tiba aku membuka kembali email perusahaan.

Aku mencari nama mereka.

Di kotak masuk lama aku menemukan sebuah email yang belum pernah kubaca.

Tanggalnya dua hari sebelum mereka kupecat.

Tanganku terasa dingin ketika membukanya.

Isinya singkat.

Andi menulis bahwa ibunya sedang sakit keras di kampung. Ia sering terlambat karena harus bolak balik rumah sakit. Ia meminta maaf karena pekerjaannya sempat terbengkalai.

BERITA TERKAIT  Cerpen: WhatsApp Menjadi Cermin yang Mengadili

Di akhir email itu ada satu kalimat yang membuat dadaku terasa berat.

“Maaf kalau akhir akhir ini terlihat seperti tidak serius bekerja. Kami sebenarnya sedang berusaha tetap bertahan.”

Aku menutup laptop perlahan.

Ruang kantor terasa sangat sunyi.

Baru saat itu aku sadar bahwa aku bahkan tidak pernah membaca pesan itu.

Keesokan paginya aku datang lebih awal ke kantor.

Aku ingin berbicara dengan Raka.

Namun meja kerjanya kosong.

Kupikir dia hanya terlambat.

Sampai siang, dia tidak datang.

Sore hari bagian administrasi memberikan sebuah amplop kepadaku.

“Ini titipan dari Mas Raka, Pak.”

Aku membuka amplop itu dengan perasaan tidak enak.

Di dalamnya ada surat pengunduran diri.

Tanganku berhenti ketika membaca bagian terakhir.

Raka menulis bahwa ia memutuskan keluar dari perusahaan untuk membangun usaha sendiri.

Aku menarik napas panjang.

Namun kalimat terakhir surat itu membuatku benar benar terdiam.

Ia menulis bahwa beberapa klien lama perusahaan sudah sepakat bekerja sama dengan perusahaannya yang baru.

Aku duduk lama di kursi kerjaku.

Di depanku, dua kursi kosong masih berdiri diam seperti saksi.

Saat itu aku akhirnya mengerti sesuatu yang terlambat kusadari.

Dua orang yang sebenarnya sedang berjuang mempertahankan pekerjaan telah kupecat karena kusangka tidak serius.

Dan orang yang paling kupercaya di kantor ini justru orang yang paling siap meninggalkan semuanya.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *