JAKARTA – Viral di media sosial, insiden kericuhan yang terjadi di Warung Madura DRP Toko Adi Jaya, Jalan Raya Kodam, Kelurahan Sumur Batu, Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat, memantik kemarahan publik. Keributan diduga dipicu persoalan tambahan biaya administrasi pembayaran melalui QRIS sebesar sekitar Rp1.000.
Peristiwa yang terjadi pada Minggu (3/5/2026) itu bermula saat seorang pembeli melakukan transaksi pembelian rokok menggunakan metode scan barcode QRIS. Namun, adanya silisih admin 1000 memicu cekcok dengan penjaga warung.
Situasi disebut memanas setelah pembeli diduga tidak terima dikenakan biaya tambahan dan melontarkan perkataan bernada merendahkan kepada penjaga warung perempuan. Suami penjaga yang mencoba membela istrinya kemudian ikut terlibat adu mulut hingga berujung dipukul hingga berlari kedalam dan di ikuti ke dalam oleh pelaku.
Dalam video yang beredar luas, suasana semakin mencekam saat pria tersebut diduga kembali ke lokasi bersama sejumlah temannya. Mereka disebut melakukan aksi intimidasi dan perusakan terhadap fasilitas warung, mulai dari etalase, barang dagangan, hingga lemari pendingin yang diduga dihantam menggunakan tabung gas LPG 3 kilogram.
Warga sekitar akhirnya turun tangan untuk mencegah situasi semakin liar dan mencegah dugaan pengeroyokan terhadap pemilik warung.
Karena lokasi kejadian berada di sekitar kawasan hunian militer, publik langsung mengaitkan insiden ini dengan dugaan keterlibatan oknum aparat. Narasi yang berkembang di media sosial pun menuntut adanya penegakan hukum tanpa pandang bulu.
TNI Angkatan Darat melalui Kepala Dinas Penerangan Brigjen TNI Donny Pramono memberikan klarifikasi bahwa peristiwa tersebut merupakan kesalahpahaman transaksi yang berujung keributan. Dalam keterangan resminya, TNI AD menyebut seorang prajurit berinisial Sertu AW justru mengalami luka tusuk dan saat ini menjalani perawatan di RS Hermina Kemayoran, dan hal tersebut terbalik dari keterangan dilapangan yang keluar digiring warga dalam kondisi sehat dan tetap dengan wajah garang memakai kaos hitam dan tidak ada bukti luka dibagian tubuhnya, sebagaimana yang tersebar di media Facebook dan lainnya.
Kasus ini info update dari berbagai laman medsos, kini ditangani Polisi Militer TNI (POM TNI) dan masih dalam proses pendalaman. TNI AD menegaskan akan memproses setiap personel yang terbukti melakukan pelanggaran sesuai aturan hukum dan disiplin militer.
Publik kini menanti transparansi penanganan kasus pemukulan dan Pengeroyokan serta pengerusakan kegiatan usaha masyarakat kecil warung madura di Kemayoran. Jika benar ada tindakan intimidasi, perusakan, maupun penyalahgunaan identitas aparat hanya karena persoalan nominal QRIS yang dikenakan admin atau selisih secara otomatis, maka tindakan tegas dinilai wajib dilakukan demi menjaga kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara.
“Hukum tidak boleh tumpul ke atas walaupun itu oknum. Siapa pun yang arogan dan meresahkan warga apalagi usaha kecil harus diproses tegas,” tulis salah satu warganet yang ikut menyoroti kasus tersebut.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa persoalan kecil dalam transaksi digital seharusnya tidak berujung pada kekerasan, apalagi sampai memunculkan dugaan aksi massa dan intimidasi terhadap pelaku UMKM kecil.
(Redaksi/BuserNasional)














