Di wilayah sengketa yang jarang dikenang dengan bahagia, seorang perwira dan seorang dokter bertemu bukan karena cinta, melainkan tugas. Dari tenda darurat dan lorong rumah sakit lapangan, hubungan itu tumbuh tanpa janji dan tanpa kepastian. Aku menyaksikannya sebagai pencatat arsip, hingga sebuah rahasia membuatku sadar bahwa cinta mereka sejak awal adalah sebuah pilihan terakhir.
Aku menuliskan kisah ini setelah bertahun tahun berlalu, ketika bangunan rumah sakit lapangan di Lurangga telah lama diratakan tanah. Aku bukan bagian dari sejarah besar yang sering dibicarakan orang. Aku hanya petugas administrasi medis yang kala itu bertugas mencatat laporan dan menyimpan berkas. Tugasku sederhana. Mengarsipkan apa yang orang lain ingin lupakan.
Di tempat itulah aku pertama kali melihat Mayor Ragastara Wiyoga dan dokter kontrak bernama Nala Arunika. Pertemuan mereka nyaris tak layak disebut pertemuan. Ragastara datang mengantar prajurit terluka dengan wajah keras dan mata yang selalu waspada. Nala menerima pasien tanpa banyak bicara, bekerja cepat dan presisi. Tidak ada senyum. Tidak ada basa basi.
Ragastara berasal dari keluarga militer lama. Ayahnya Wiratma Daru dikenal sebagai perwira yang mengabdikan hidupnya sejak republik masih rapuh. Dari cerita yang kudengar, keluarga itu memandang tugas sebagai bentuk ibadah. Ragastara tumbuh dengan keyakinan bahwa perasaan harus tunduk pada kewajiban.
Nala pun membawa beban yang tak ringan. Ia adalah putri sulung Jenderal Ananta Wisesa, nama yang cukup untuk membuat siapa pun menahan napas sebelum bicara. Ia memilih menjadi dokter kontrak di wilayah konflik bukan untuk membuktikan apa pun pada ayahnya, melainkan untuk menjauh dari bayang bayang kuasa yang selalu mengikutinya.
Hubungan mereka tumbuh tanpa disadari. Ragastara mulai sering datang ke rumah sakit dengan alasan logistik. Nala kadang menanyakan kondisi prajurit yang pernah ditanganinya. Percakapan mereka singkat, sering terpotong tugas, namun selalu berakhir dengan diam yang panjang. Aku melihatnya dari meja arsip, berpura pura sibuk mencatat.
Suatu malam, Ragastara datang sebagai pasien. Ia mengeluh nyeri yang tak biasa. Nala memeriksanya dengan serius, jauh lebih lama dari yang seharusnya. Aku masih ingat wajahnya ketika membaca hasil pemeriksaan lanjutan. Tangannya gemetar. Ia meminta semua orang keluar, termasuk aku.
Beberapa hari kemudian, sebuah map tipis masuk ke mejaku. Nama pasien Ragastara Wiyoga. Diagnosis tertulis singkat namun tegas. Cedera dalam yang progresif. Prognosis hidup terbatas. Aku ragu menyimpannya. Sebagai petugas arsip, aku tahu laporan itu seharusnya diteruskan ke komando medis. Namun Nala datang malam itu dan memintaku menyimpannya sementara.
Aku tidak bertanya. Aku pengecut. Aku menyimpan map itu di lemari terdalam.
Tak lama setelah itu, masa tugas Nala berakhir. Ragastara menemuinya di lorong rumah sakit. Aku tak mendengar percakapan mereka, hanya melihat Nala menangis untuk pertama kalinya. Beberapa bulan kemudian, kabar pernikahan mereka sampai ke telingaku. Upacara sederhana, kata orang, meski dihadiri banyak seragam berpangkat.
Aku hidup dengan kegelisahan. Setiap kali mendengar nama mereka disebut sebagai pasangan ideal, aku teringat map itu. Aku membayangkan Nala membaca diagnosis itu sendirian. Aku membayangkan Ragastara mengetahui kebenaran atau justru tidak pernah tahu sama sekali.
Bertahun tahun kemudian, saat gedung rumah sakit hendak dibongkar, aku kembali membuka lemari arsip. Map itu masih ada. Di halaman terakhir, aku menemukan catatan tangan Nala yang dulu tak kubaca. Tulisan kecil dan rapi.
Ia menulis bahwa ia tahu sejak awal Ragastara tidak memiliki waktu panjang. Ia tahu jika ayahnya membaca laporan itu, pernikahan akan dibatalkan demi kehormatan dan perlindungan. Ia memilih diam. Ia memilih menikah. Ia memilih mengisi sisa waktu dengan keberanian, bukan penyangkalan.
Aku menutup map itu dengan tangan gemetar. Untuk pertama kalinya aku sadar, cinta mereka bukanlah kisah ketabahan semata. Ia adalah keputusan sadar untuk tetap melangkah ketika akhir sudah terlihat. Dan aku, dengan menyimpan rahasia itu, telah menjadi bagian dari pilihan yang tak pernah kuminta.
Hari itu aku membakar arsip tersebut sebelum alat berat datang. Api kecil melahap kertas dan catatan. Aku berdiri sendirian, merasa tidak lebih suci dari siapa pun. Sejak saat itu aku berhenti percaya bahwa cinta selalu tentang masa depan. Ada cinta yang lahir justru karena waktu hampir habis.














