BANGKALAN, busernasional.my.id – Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,7 yang mengguncang Palu dan Sigi, Sulawesi Tengah, Selasa (16/6), mendapat perhatian dari Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya Universitas Trunojoyo Madura (BEM FISIB UTM).

Melalui pernyataan sikapnya, BEM FISIB UTM menilai bencana tersebut menjadi pengingat bahwa upaya perlindungan masyarakat dari risiko kebencanaan masih perlu diperkuat. Kondisi kepanikan warga, terganggunya aktivitas pendidikan, hingga lumpuhnya roda ekonomi disebut sebagai dampak sosial yang harus menjadi perhatian serius pemerintah.
Ketua BEM FISIB UTM mengatakan, peristiwa yang terjadi di Palu menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan dan mitigasi bencana yang lebih optimal.
“Gempa tidak hanya merusak bangunan, tetapi juga mengganggu aktivitas ekonomi, pendidikan, dan kehidupan sosial masyarakat. Karena itu, mitigasi harus menjadi prioritas bersama,” ujarnya.
BEM FISIB UTM juga menyoroti perlunya keseimbangan kebijakan pembangunan. Menurut mereka, program kesejahteraan masyarakat perlu diiringi dengan penguatan sektor pendidikan, riset kebencanaan, serta peningkatan sistem perlindungan terhadap warga yang tinggal di daerah rawan bencana.
Dalam pernyataannya, mahasiswa menawarkan tiga rekomendasi kepada pemerintah. Pertama, memperkuat kapasitas dan teknologi pemantauan kebencanaan melalui BMKG dan lembaga riset geologi. Kedua, menyiapkan skema pemulihan ekonomi bagi masyarakat terdampak bencana agar tidak terjerumus ke dalam kemiskinan baru. Ketiga, memperluas pendidikan mitigasi bencana berbasis budaya lokal sehingga masyarakat lebih siap menghadapi situasi darurat.
BEM FISIB UTM berharap pemerintah pusat dapat terus meningkatkan upaya mitigasi dan kesiapsiagaan bencana di berbagai daerah di Indonesia.
“Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama. Bencana alam tidak bisa dicegah, tetapi dampaknya dapat diminimalkan melalui kesiapan dan kebijakan yang tepat,” pungkasnya. (Team/Red)














