Sore itu ia tidak pulang ke rumahnya sendiri. Setelah seharian bekerja dengan tubuh yang terasa diperas habis, ia justru memutar motornya menuju sebuah gang kecil yang telah dikenalnya sejak masa kanak kanak. Di ujung gang itu berdiri rumah ibunya, tempat yang entah mengapa selalu terasa seperti pelabuhan terakhir ketika lelah hidup datang terlalu berat.
Hari itu pekerjaan terasa aneh. Bukan karena ada masalah besar di kantor. Semua berjalan seperti biasa. Target terpenuhi, rapat selesai, dan pekerjaan selesai tepat waktu. Namun tubuhnya terasa berat, seperti membawa beban yang tidak terlihat.
Di tengah kemacetan jalan pulang, sebuah keinginan muncul begitu saja. Ia ingin mampir ke rumah ibunya.
Sudah lama ia tidak datang tanpa rencana. Biasanya ia datang saat Lebaran, acara keluarga, atau ketika membawa anak anaknya bermain. Hampir tidak pernah lagi ia datang hanya karena ingin.
Ia menelpon istrinya.
“Aku hari ini tidak langsung pulang ya, Mah. Mau mampir ke rumah Ibu.”
Di ujung telepon istrinya menjawab lembut.
“Iya. Hati hati di jalan.”
Perjalanan menuju rumah ibunya hanya dua puluh menit. Rumah sederhana yang dulu terasa besar ketika ia masih kecil.
Ketika pintu dibuka, ibunya terlihat sedikit terkejut.
“Lho, kok tumben datang?”
Ia hanya tersenyum lelah.
“Aku cuma ingin mampir sebentar, Bu.”
Ibunya tidak banyak bertanya. Ia langsung mempersilakan masuk seperti biasa. Rumah itu masih sama seperti dulu. Dinding yang sedikit kusam, kursi kayu yang sudah lama dipakai, dan sofa tua di ruang tamu yang dulu sering menjadi tempatnya rebahan sepulang sekolah.
Aroma rumah itu juga masih sama. Bau kayu tua bercampur minyak kayu putih dan sedikit wangi sabun cuci dari dapur.
Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa.
“Nanti Ibu bikinkan teh ya,” kata ibunya dari dapur.
Ia mengangguk pelan. Namun sebelum teh itu benar benar datang, matanya sudah terpejam.
Tubuhnya menyerah pada kelelahan.
Ia tidak tahu berapa lama tertidur. Ketika terbangun, ruangan terasa lebih hangat. Badannya terasa ringan seperti baru saja melepas beban.
Beberapa detik ia masih linglung.
Lalu ia menyadari sesuatu.
Ada selimut menutupi tubuhnya.
Selimut cokelat tua yang dulu sering dipakai ketika ia demam waktu kecil.
Ia duduk perlahan dan melihat sekeliling. Ibunya tidak ada di dapur.
Matanya kemudian tertuju ke kursi kayu dekat jendela.
Di sana ibunya sedang tertidur.
Tubuhnya bersandar pelan dengan tangan terlipat di pangkuan. Cahaya sore masuk melalui jendela dan jatuh lembut di wajahnya.
Ia berdiri memandang beberapa saat.
Baru saat itu ia benar benar memperhatikan wajah ibunya.
Kulit yang dulu halus kini dipenuhi garis garis halus. Rambut yang dulu hitam kini sebagian besar sudah berubah putih.
Ia tertegun.
Selama ini ia tidak pernah benar benar melihat perubahan itu.
Mungkin karena ia terlalu sibuk bekerja. Terlalu sibuk mengejar kehidupan yang terus bergerak. Sampai lupa bahwa waktu juga berjalan di rumah kecil ini.
Ibunya masih tertidur.
Aneh sekali. Meski wajahnya sudah menua, ibunya tetap terlihat manis saat tidur. Sama seperti dulu ketika ia kecil dan sering melihat ibunya tertidur di kursi setelah seharian mengurus rumah.
Tiba tiba ingatan masa kecil muncul begitu saja.
Dulu setiap kali ia pulang sekolah dengan wajah lelah, ibunya selalu tahu.
Tanpa banyak bertanya, ia akan disuruh mandi. Setelah itu makanan sudah siap di meja.
Jika ia tertidur di ruang tamu, ibunya akan menyelimutinya.
Jika ia sakit, ibunya akan duduk di samping tempat tidurnya sepanjang malam.
Ibunya selalu tahu.
Selalu lebih dulu tahu.
Dunia mungkin melihatnya sekarang sebagai lelaki dewasa. Ia punya pekerjaan, punya rumah, punya anak.
Namun di mata ibunya, mungkin ia masih anak kecil yang sama.
Yang perlu diselimuti ketika tidur.
Yang perlu diingatkan makan.
Yang perlu ditanya apakah ia capek.
Beberapa menit kemudian ibunya terbangun.
“Eh, kamu sudah bangun?” tanya ibunya sambil mengusap mata.
“Iya, Bu.”
“Tadi kelihatannya capek sekali.”
Ia hanya tersenyum.
Ibunya berdiri perlahan lalu berjalan ke dapur.
“Ibu bikin teh lagi ya.”
Mereka kemudian duduk berdua di ruang tamu. Teh hangat mengepul di meja kecil di antara mereka.
Percakapan mereka sederhana. Tentang pekerjaan, tentang anak anaknya, tentang tetangga lama yang sekarang sudah pindah.
Tidak ada pembicaraan besar.
Namun suasananya terasa hangat.
Satu jam kemudian ia pamit pulang.
Ibunya mengantarnya sampai pintu.
“Hati hati di jalan.”
“Iya Bu.”
Ia menyalakan motor dan melambaikan tangan. Ibunya masih berdiri di depan rumah sampai ia berbelok di ujung gang.
Ia tidak tahu bahwa itu adalah terakhir kalinya ia melihat ibunya berdiri di sana.
Tiga hari kemudian telepon itu datang.
Ibunya ditemukan meninggal di rumahnya.
Dokter mengatakan kemungkinan karena serangan jantung saat tidur.
Ia datang dengan langkah gemetar. Rumah itu terasa sangat sunyi.
Di ruang tamu, di sofa yang sama tempat ia tertidur beberapa hari lalu, selimut cokelat itu masih terlipat rapi.
Ia memegang selimut itu perlahan.
Aroma rumah ibunya masih melekat di sana.
Saat itulah ia menyadari sesuatu yang membuat dadanya terasa runtuh.
Selimut itu bukan sekadar kain lama.
Itu adalah hal terakhir yang dilakukan seorang ibu kepada anaknya.
Menyelimuti anaknya yang tertidur lelah di sofa.
Seperti yang sudah ia lakukan sejak puluhan tahun lalu.
Dan mungkin tanpa ia sadari, sore itu ibunya sedang menunggu.
Menunggu anaknya pulang sekali lagi.
Bukan karena acara keluarga.
Bukan karena kewajiban.
Tetapi karena rindu.














