Awal Syirik Di Kaum Nuh

banner 120x600

BuserNasional — Tauhid tidak runtuh dalam sehari. Penyimpangan besar sering bermula dari langkah kecil yang tampak baik, lalu diwariskan tanpa ilmu, dibungkus penghormatan, lalu berubah menjadi pengagungan. Kisah awal syirik di zaman Nabi Nuh adalah pelajaran agung bahwa rusaknya akidah sering bermula dari ghuluw terhadap orang saleh, hilangnya ilmu, dan tipu daya setan.

Sejak masa Nabi Adam hingga Nabi Nuh, manusia berada di atas tauhid. Mereka mengenal Rabb mereka, beribadah hanya kepada Allah, tidak mempersekutukan-Nya dengan apa pun. Dalam riwayat para ulama tafsir disebutkan manusia hidup di atas tauhid selama sepuluh qurun, yang dipahami banyak ulama sebagai sepuluh generasi atau abad. Masa itu adalah masa kejernihan fitrah, saat hati tunduk kepada Allah dan belum tercemari penyembahan kepada makhluk. Inilah nikmat terbesar yang sering tidak disadari manusia, yaitu nikmat istiqamah di atas kalimat laa ilaaha illallah.

Allah mengingatkan tentang asal kesatuan akidah manusia dalam firman-Nya:

﴿وَمَا كَانَ النَّاسُ إِلَّا أُمَّةً وَاحِدَةً فَاخْتَلَفُوا﴾

“Dan manusia itu dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih.” (Yunus: 19)

Ayat ini tidak sekadar mengabarkan sejarah, tetapi menjelaskan bahwa perpecahan dalam akidah adalah penyimpangan yang datang belakangan. Tauhid adalah asal, sedangkan syirik adalah penyimpangan. Karena itu para ulama menegaskan, syirik bukan warisan fitrah, melainkan racun yang menyusup saat ilmu melemah dan hawa nafsu diberi ruang.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:

أن هذا الشرك حادث في الناس ، كائن بعد أن لم يكن ، وأن الناس كلهم كانوا على دين واحد ، وهو الإسلام

“Syirik adalah perkara baru yang terjadi di tengah manusia, muncul setelah sebelumnya tidak ada. Dahulu seluruh manusia berada di atas satu agama, yaitu Islam.”

Betapa agung faedah ini. Islam, dalam makna tunduk kepada Allah dengan tauhid, adalah agama seluruh nabi. Maka siapa yang menjaga tauhid, ia berjalan di jejak seluruh rasul. Dan siapa yang merusak tauhid, ia sedang memutus dirinya dari warisan kenabian.

BERITA TERKAIT  Ikhlas Dan Benar Dalam Amal

Lalu bagaimana syirik bermula? Ia tidak datang dengan ajakan terang-terangan, “Sembahlah berhala.” Tidak. Setan jauh lebih licik. Ia datang melalui pintu cinta, penghormatan, simbol, kenangan, lalu pengkultusan. Di tengah kaum Nabi Nuh hidup orang-orang saleh bernama Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr. Mereka dikenal ibadahnya, kezuhudannya, dan pengaruh baiknya di tengah masyarakat.

Ketika orang-orang saleh itu wafat, setan membisikkan: buatlah patung untuk mengenang mereka agar semangat ibadah tetap hidup. Tampaknya baik. Tampaknya mulia. Tampaknya religius. Namun di situlah awal petaka. Sebab agama tidak dibangun di atas perasaan, tetapi di atas wahyu.

Allah mengabadikan kesesatan itu:

﴿وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا﴾

“Dan mereka berkata: Jangan sekali-kali kamu meninggalkan tuhan-tuhan kamu, dan jangan pula meninggalkan Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.” (Nuh: 23)

Perhatikan, nama orang saleh berubah menjadi sesembahan. Dari penghormatan bergeser menjadi pengagungan. Dari simbol berubah menjadi objek ibadah. Inilah pelajaran keras tentang bahaya ghuluw, berlebihan dalam memuliakan makhluk.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, sebagaimana dalam Sahih al-Bukhari, mereka adalah nama orang-orang saleh dari kaum Nuh. Ketika wafat, setan membisikkan agar dibuat patung-patung di majelis mereka. Generasi pertama tidak menyembahnya. Tetapi saat generasi itu mati, ilmu hilang, lalu patung-patung itu disembah.

Di sinilah tampak bahwa sebab besar munculnya syirik ada tiga. Pertama, ghuluw kepada orang saleh. Kedua, hilangnya ilmu. Ketiga, tipu daya setan yang bertahap. Setan jarang menjerumuskan manusia dalam satu lompatan. Ia membawa manusia turun anak tangga demi anak tangga sampai jatuh ke jurang.

BERITA TERKAIT  Ikhlas Dan Benar Dalam Amal

Karena itu Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:

إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ

“Jauhilah sikap berlebihan dalam agama, karena yang membinasakan umat sebelum kalian adalah sikap berlebihan dalam agama.” (HR Ahmad, An-Nasa’i, Ibnu Majah)

Betapa banyak kesesatan besar bermula dari ghuluw. Mengkultuskan tokoh. Menganggap orang saleh punya kuasa gaib. Meminta kepada penghuni kubur. Menggantungkan hati pada jimat. Meyakini benda membawa berkah secara mandiri. Semua itu, bila merusak pemurnian ibadah, adalah pintu yang menyeret menuju syirik.

Tauhid menuntut seluruh ibadah hanya untuk Allah. Doa untuk Allah. Nadzar untuk Allah. Tawakal untuk Allah. Takut yang bersifat ibadah untuk Allah. Cinta penghambaan untuk Allah.

Allah berfirman:

﴿وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا﴾

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu milik Allah, maka janganlah kamu berdoa kepada siapa pun bersama Allah.” (Al-Jinn: 18)

Dan firman-Nya:

﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ﴾

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (An-Nisa: 48)

Karena itu kisah kaum Nuh bukan sekadar cerita masa lalu. Ia cermin untuk setiap zaman. Ketika umat longgar terhadap ilmu, berlebihan memuliakan tokoh, dan menerima amalan tanpa dalil, bibit penyimpangan mulai tumbuh.

Maka penjaga tauhid adalah ilmu. Bukan semangat kosong. Bukan tradisi semata. Bukan sekadar ikut kebiasaan leluhur. Ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat itulah benteng akidah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan padanya, Allah akan memahamkannya dalam agama.” (Muttafaq ‘alaih)

Perhatikan pula, awal syirik terjadi ketika ilmu dilupakan. Ini peringatan keras bahwa musuh terbesar akidah bukan hanya kebodohan, tetapi hilangnya ulama, matinya majelis ilmu, dan diremehkannya tuntunan wahyu.

BERITA TERKAIT  Ikhlas Dan Benar Dalam Amal

Bila ilmu hidup, tauhid terjaga. Bila ilmu padam, syubhat berkembang. Bila syubhat berkembang, syirik mudah masuk.

Maka siapa yang mencintai keselamatan hendaknya memperbarui tauhid setiap hari. Mengikhlaskan ibadah. Menolak segala bentuk kesyirikan, besar maupun kecil. Menjauhi riya, karena Nabi ﷺ bersabda bahwa riya adalah syirik kecil.

أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الرِّيَاءُ

“Yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.” Mereka bertanya, “Apa syirik kecil itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya.” (HR Ahmad)

Kisah awal mula syirik di zaman Nabi Nuh mengajarkan bahwa setan tidak selalu datang dengan wajah kekafiran, tetapi sering datang memakai jubah kesalehan palsu. Karena itu seorang mukmin wajib waspada, menimbang setiap keyakinan dan amalan dengan dalil.

Tauhid bukan hanya slogan. Ia amanah hidup. Ia hak Allah yang paling agung. Ia sebab diterimanya amal. Ia pembeda ahli surga dan ahli neraka.

Semoga Allah meneguhkan hati kita di atas tauhid, mematikan kita di atas kalimat لا إله إلا الله, menjauhkan kita dari syirik yang tampak maupun tersembunyi, dan menjadikan kisah kaum Nuh sebagai ibrah yang menambah takut kita kepada penyimpangan, sekaligus menambah cinta kita kepada kemurnian ibadah hanya kepada Allah semata. Aamiin.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Busamat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *