Memuliakan Isteri Menjaga Rumah

banner 120x600

BuserNasional — Dalam banyak rumah tangga, kerasnya ucapan lebih melukai daripada sempitnya rezeki. Ketika isteri orang dihormati, tetapi isteri sendiri diabaikan, lahirlah ketimpangan akhlak yang merusak sakinah. Islam datang bukan hanya mengatur ibadah di masjid, tetapi membimbing adab dalam rumah, agar suami memuliakan isteri sebagai amanah, sahabat, dan jalan menuju rahmat Allah.

Ungkapan, “Suami jaman sekarang, isteri orang diratukan, isteri sendiri dibabukan, ngomong ngegas, dengan isteri orang lembut,” adalah kritik sosial yang menyentuh penyakit akhlak yang nyata. Kalimat ini bukan semata sindiran, melainkan cermin agar seorang suami menghisab dirinya. Mengapa kelembutan mudah diberikan kepada orang lain, tetapi sulit hadir di dalam rumah sendiri. Mengapa senyum di luar begitu murah, tetapi wajah masam justru dipersembahkan kepada isteri yang setia melayani. Padahal rumah adalah tempat pertama akhlak diuji, bukan panggung pencitraan di hadapan manusia.

Allah menegaskan dalam Al-Qur’an:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan bergaullah dengan mereka (para isteri) secara patut.” (QS An-Nisa: 19)

Ayat ini singkat namun agung. Mu’asyarah bil ma’ruf mencakup tutur kata lembut, nafkah yang layak, penghormatan, kesabaran, perlindungan, dan perlakuan baik dalam seluruh dimensi kehidupan rumah tangga. Seorang suami yang kasar dalam ucapan, merendahkan isteri, membentak tanpa hak, sesungguhnya sedang menyelisihi tuntunan ayat ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.”

Hadis ini menimbang kemuliaan seorang lelaki bukan dari suara kerasnya, bukan dari wibawa palsunya, bukan dari bagaimana orang lain memujinya, tetapi dari bagaimana ia memperlakukan isterinya di balik pintu rumah.

Banyak orang ingin dihormati isteri, tetapi lupa memberi penghormatan. Ingin ditaati, tetapi tidak memberi keteladanan. Ingin rumah tenang, tetapi lisannya justru menyalakan api. Padahal sering kali rumah tangga rusak bukan karena kemiskinan, tetapi karena hilangnya adab. Kata kata kasar dapat menorehkan luka yang lebih lama dari pukulan. Bentakan yang dianggap sepele oleh suami, bisa menjadi beban batin bertahun tahun bagi isteri.

BERITA TERKAIT  Rezeki Datang Dari Ketenangan Hati

Allah berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً

“Dan di antara tanda tanda kekuasaan Nya, Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kamu rasa kasih dan sayang.” (QS Ar-Rum: 21)

Sakinah tidak lahir dari suara tinggi. Mawaddah tidak tumbuh dari penghinaan. Rahmah tidak hidup dalam kekasaran. Semua itu bertumbuh dari adab, iman, dan kesadaran bahwa pasangan adalah amanah.

Ketika seorang suami lebih lembut kepada perempuan lain daripada kepada isterinya, ini bukan sekadar kekeliruan sosial, tetapi cacat dalam keadilan akhlak. Mengapa yang bukan miliknya dijaga perasaannya, tetapi yang halal baginya justru disakiti. Ini sering bermula dari hati yang lalai bersyukur. Padahal isteri yang mendampingi saat susah, merawat saat sakit, menjaga anak, menyiapkan rumah, sering memikul beban yang tidak terlihat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا

“Berwasiatlah kalian untuk berbuat baik kepada para perempuan.”

Perhatikan, Nabi menjadikannya wasiat. Wasiat adalah pesan agung yang dijaga, bukan nasihat yang diabaikan. Maka memuliakan isteri bukan pilihan tambahan, tetapi bagian dari kesalehan.

Suami yang mudah ngegas sering mengira ketegasan sama dengan kekerasan. Ini keliru. Tegas tidak harus kasar. Mendidik tidak harus merendahkan. Menasihati tidak harus melukai. Bahkan Rasulullah, manusia paling mulia, tidak menjadikan kekerasan verbal sebagai cara membangun rumah tangga.

Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan:

مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ وَلَا امْرَأَةً وَلَا خَادِمًا

BERITA TERKAIT  Ikhlas Dan Benar Dalam Amal

“Rasulullah tidak pernah memukul sesuatu pun dengan tangannya, tidak pula perempuan, dan tidak pula pembantu.”

Jika tangan beliau terjaga, maka lisan kita lebih layak dijaga.

Suami yang memuliakan isteri bukan berarti kehilangan wibawa. Justru kemuliaan akhlaknya meninggikan derajatnya. Ada suami yang mengira jika ia lembut, ia dianggap lemah. Padahal kelembutan adalah kekuatan jiwa. Orang yang mampu menahan amarah saat marah lebih kuat daripada yang meluapkan kemarahan.

Rasulullah bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi yang mampu menahan dirinya ketika marah.”

Maka jika ingin memperbaiki rumah, mulailah dari lisan. Kurangi nada tinggi. Ganti bentakan dengan musyawarah. Ganti meremehkan dengan penghargaan. Ucapkan terima kasih untuk hal kecil. Tanyakan keadaan isteri. Dengarkan lelahnya. Jangan semua keluhannya dipatahkan dengan ego.

Sebagian suami rajin ibadah sunnah, tetapi keras kepada isteri. Ini ketimpangan. Karena agama bukan hanya sujud panjang, tetapi juga akhlak panjang. Tidak sempurna kesalehan yang indah di sajadah tetapi buruk di rumah. Bahkan bisa jadi pelayanan baik kepada pasangan lebih berat timbangannya karena dilakukan terus menerus dalam ujian keseharian.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS At-Tahrim: 6)

Menjaga keluarga dari api neraka bukan hanya mengajari shalat, tetapi juga menjauhkan rumah dari kezaliman, penghinaan, dan dosa lisan.

Wahai para suami, ingatlah, isteri bukan pembantu tanpa hati. Ia manusia yang punya rasa, air mata, kehormatan, dan hak. Ia bukan tempat melampiaskan amarah dari tekanan luar. Jika engkau dimuliakan Allah dengan isteri salehah, itu nikmat besar. Jangan rusak nikmat dengan kerasnya perangai.

BERITA TERKAIT  Rezeki Datang Dari Ketenangan Hati

Jika pernah kasar, bertaubatlah. Jika pernah meremehkan, perbaiki. Jika pernah lebih lembut kepada orang lain daripada kepada isteri, balikkan itu mulai hari ini. Pulanglah dengan wajah yang menenangkan, bukan menegangkan. Jadilah suami yang ketika hadir membawa rahmat, bukan ketakutan.

Sungguh banyak rumah tidak butuh kemewahan untuk bahagia. Mereka butuh suami yang lembut, jujur, bertanggung jawab, dan takut kepada Allah. Sebab perempuan sering tidak menuntut banyak, tetapi sangat merasakan penghormatan. Satu kata baik bisa menguatkan hati. Satu penghinaan bisa merobohkan batin.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ

“Siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi.”

Rahmat Allah dekat pada orang yang memberi rahmat di rumahnya.

Akhirnya, ukuran seorang suami bukan bagaimana ia terlihat mulia di mata manusia, tetapi bagaimana ia berlaku ketika tidak dilihat siapa siapa selain Allah. Bila kepada isteri ia lembut, sabar, adil, dan penuh hormat, maka itu tanda iman bekerja. Tetapi bila di luar manis, di rumah bengis, itu tanda ada yang harus diperbaiki.

Semoga setiap suami memahami, isteri bukan untuk dibabukan, tetapi dimuliakan. Bukan untuk dibentak, tetapi diajak bertumbuh. Bukan untuk direndahkan, tetapi dirangkul sebagai partner menuju surga. Karena rumah tangga yang dibangun dengan akhlak, dzikir, sabar, dan kasih, insya Allah menjadi taman ketenangan di dunia, dan jalan perjumpaan yang indah di akhirat.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *