Meja Makan Yang Kembali Sunyi

banner 120x600

BuserNasional — Undangan makan malam itu datang tanpa penjelasan, seolah hanya sebaris kalimat biasa. Namun di balik pesan singkat itu, ada rindu yang tertahan, ada luka yang belum sembuh, dan ada rumah yang lama ditinggalkan. Satu malam di dapur sederhana perlahan membuka kembali ingatan, kesalahan, serta makna pulang yang terlambat disadari.

Pesan itu muncul ketika Faris baru saja mematikan lampu apartemennya. “Pulanglah. Ibu ingin memasak.” Tidak ada tanda tanya, tidak ada kata rindu. Faris menatap layar ponsel cukup lama, lalu meletakkannya di meja. Dapur apartemennya bersih, rapi, dan dingin. Tidak ada bau apa pun. Tidak pernah ada.

Ia tetap pulang. Bukan karena yakin, tetapi karena sesuatu di dadanya terasa menekan. Rumah itu menyambutnya dengan pintu kayu yang masih sama, berderit pelan ketika didorong. Lampu dapur menyala temaram. Ada suara air mendidih dan aroma bawang yang ditumis perlahan.

Ibunya berdiri membelakangi pintu, mengaduk panci. Rambutnya tertutup kerudung sederhana. Tangannya tampak lebih kurus dari ingatan Faris. “Duduklah,” katanya singkat tanpa menoleh. Tidak ada pelukan. Tidak ada tanya kabar. Hanya kursi kayu dan meja makan yang dulu selalu penuh.

Faris duduk. Ia memperhatikan detail kecil yang lama ia lupakan. Piring dengan pinggir terkelupas. Sendok yang gagangnya bengkok. Jam dinding yang berdetak terlalu keras. Dapur itu seperti sedang menunggu sesuatu. Atau seseorang.

Ibunya meletakkan nasi di tengah meja. Uapnya naik pelan. Faris menelan ludah. Ia teringat masa kecilnya ketika ayah selalu menunda suapan pertama, menunggu semua duduk rapi. Ia hampir menggerakkan sendok, lalu berhenti. Tangannya gemetar.

“Makan saja,” kata ibunya. Namun matanya tidak menatap Faris. Ia menatap meja, seolah ada sesuatu yang ingin ia pastikan tetap ada di sana.

Mereka makan tanpa banyak kata. Bunyi sendok bersentuhan dengan piring terdengar terlalu jelas. Faris ingin berkata sesuatu, tetapi setiap kalimat terasa terlambat. Ia memilih mengunyah perlahan. Untuk pertama kalinya setelah bertahun tahun, ia benar benar merasakan makanan.

“Dapur ini lama sunyi,” kata ibunya tiba tiba. “Terlalu lama.” Ia berhenti makan. Tangannya mencengkeram sendok lebih erat. “Kalau dapur sunyi, rumah ikut kehilangan suara.”

Faris menunduk. Ia ingin meminta maaf, tetapi lidahnya kelu. Ia teringat panggilan yang tak pernah ia angkat. Pesan yang ia baca tanpa balasan. Kepulangannya yang selalu ditunda.

Ibunya berdiri dan menuju lemari kayu. Ia mengambil sebuah mushaf kecil, lusuh di bagian sampul. Diletakkannya di depan Faris. “Ayahmu biasa membacanya di sini. Setelah makan. Sebelum dapur benar benar sepi.”

Faris membuka halaman pertama. Ada tulisan tangan ayahnya, miring dan tipis. Rumah ini akan hidup selama ada doa di meja makan. Dadanya terasa sesak. Ia mengangkat kepala untuk berbicara.

Kursi di depannya kosong.

“Bu,” panggilnya pelan. Tidak ada jawaban. Ia berdiri tergesa, melangkah ke ruang tengah, ke kamar, ke halaman belakang. Rumah itu senyap. Tidak ada suara langkah. Tidak ada napas. Tidak ada siapa siapa.

Ia kembali ke dapur. Nasi masih hangat. Panci masih mengepul. Jam dinding berdetak seperti menghitung sesuatu yang telah habis.

Suara azan dari ponselnya memecah segalanya. Faris tersentak. Ia duduk di lantai apartemennya sendiri. Lampu dapur mati. Meja kecil kosong. Tidak ada aroma masakan. Tidak ada rumah lama.

Namun mushaf kecil itu ada di depannya. Sama persis. Lusuh. Terbuka di halaman pertama.

Ingatan yang selama ini ia tolak akhirnya runtuh. Ibunya telah wafat setahun lalu. Rumah itu telah dijual. Dapur itu telah lama benar benar sunyi.

Malam itu Faris berdiri, menyalakan kompor apartemennya. Ia memasak dengan tangan gemetar. Sederhana. Ia menata meja untuk satu orang. Duduk. Menunduk. Berdoa.

Sendoknya terjatuh ke lantai. Suaranya menggema. Faris tersenyum kecil di antara air mata. Untuk pertama kalinya, ia tahu, dapur itu tidak pernah memanggilnya untuk makan. Ia memanggilnya untuk pulang.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *