Ramadan tahun itu datang dengan udara yang lebih lembap dari biasanya. Di gang belakang pasar, bau ikan asin bercampur tanah basah masih bertahan hingga larut malam, seakan enggan pulang bersama riuh pedagang. Di saat orang orang sibuk menyalakan cahaya di beranda rumah dan layar ponsel, ada satu dua langkah yang memilih berjalan tanpa suara, tanpa nama, tanpa ingin dikenali siapa pun selain langit.
Farid selalu mematikan data selulernya selepas tarawih. Ia tidak ingin notifikasi memecah niat yang sedang ia jaga rapat rapat. Di layar ponsel sebelum dimatikan, ia sempat melihat unggahan teman temannya. Ada yang membagikan video tadarus, ada yang menyiarkan langsung pembagian takjil, ada pula yang menuliskan jumlah paket sembako yang telah disalurkan.
Ia tidak membenci itu semua. Ia juga tidak merasa lebih baik. Hanya saja, setiap kali melihat kolom komentar yang penuh pujian sekaligus sindiran, dadanya terasa sesak. Terlalu mudah orang memuji. Terlalu mudah pula orang menuduh riya.
Di kepalanya terngiang suara ayahnya yang telah lama tiada. Suara itu tidak keras, tetapi menetap seperti gema azan subuh yang pelan namun pasti. Sembunyikan amalmu seperti kau menyembunyikan lukamu. Jangan biarkan ia jadi tontonan sebelum benar benar sampai kepada Allah.
Sejak malam pertama Ramadan, Farid memanggul tas kain cokelat tua peninggalan ayahnya. Jahitannya mulai terlepas di sudut, tetapi ia tidak pernah menggantinya. Tas itu ia isi beras, minyak, gula, kadang amplop tipis berisi uang. Ia berjalan menyusuri gang sempit di belakang pasar, tempat rumah rumah berdinding papan berdiri rapat dan lampunya redup.
Ia hafal rumah siapa yang suaminya baru saja dipecat dari pabrik es, siapa yang anaknya harus berhenti sekolah sementara, siapa yang hanya mengandalkan upah kuli panggul harian. Ia tidak pernah mengetuk pintu. Ia meletakkan tas kecil atau kantong plastik di depan rumah, lalu pergi sebelum suara engsel terdengar.
Langkahnya ringan, tetapi hatinya selalu waspada. Ia takut pada satu hal yang tak kasatmata. Bukan takut kepergok maling, bukan takut disangka aneh. Ia takut merasa bangga.
Suatu malam, ketika baru saja menaruh kantong beras di depan rumah Bu Sari, pintu kayu itu terbuka perlahan. Cahaya lampu minyak menyembul dari dalam.
Farid terpaku.
Bu Sari berdiri dengan selendang lusuh menutup kepala. Matanya yang cekung menatap lurus ke arahnya. Farid hampir saja berbalik dan berjalan cepat, tetapi suara perempuan tua itu menahannya.
Farid, kau lagi?
Dadanya bergetar. Ia tidak menjawab.
Bu Sari tersenyum tipis. Kau kira Ibu tidak tahu siapa yang sering datang jam segini. Gang ini tidak seramai dulu.
Farid menunduk. Maaf, Bu.
Kenapa tidak pernah masuk atau sekadar menyapa.
Ia mencari jawaban yang tidak terdengar menggurui. Saya hanya tidak ingin merepotkan.
Bu Sari memandang tas kain di tangannya. Ayahmu dulu juga begitu.
Farid mendongak cepat. Apa maksud Ibu.
Perempuan tua itu tidak menjawab. Ia hanya mengambil kantong beras dan menutup pintu pelan. Kalimatnya menggantung di udara malam.
Sejak percakapan singkat itu, langkah Farid tidak lagi setenang biasanya. Kata kata Ayahmu dulu juga begitu terus berputar di kepalanya. Ia memang tahu ayahnya sering membantu orang, tetapi ia tidak pernah membayangkan caranya sama persis seperti yang ia lakukan sekarang.
Di siang hari, ia tetap bekerja sebagai staf administrasi di sebuah toko bangunan. Hidupnya biasa saja. Gajinya tidak besar. Ia bahkan masih mencicil motor. Tidak ada yang istimewa. Itulah sebabnya ia tidak pernah merasa dirinya sedang melakukan sesuatu yang besar.
Namun menjelang sepuluh hari terakhir Ramadan, sesuatu terjadi.
Sebuah unggahan beredar di grup warga. Foto dari kejauhan memperlihatkan seorang lelaki berjalan di gang belakang pasar dengan tas kain cokelat di pundak. Wajahnya tidak jelas, tetapi bentuk bahunya, cara jalannya, begitu akrab.
Keterangan foto itu berbunyi, Masih ada yang memilih diam. Semoga Allah menjaga niatnya.
Nama pengunggahnya membuat napas Farid tercekat. Bu Sari.
Ponselnya bergetar tanpa henti. Beberapa teman mengirim pesan pribadi. Ada yang menebak nebak, ada yang memuji, ada yang bercanda menyebutnya malaikat malam.
Yang membuatnya lebih terguncang justru komentar lain. Pasti ada maunya. Jangan jangan lagi cari simpati. Orang baik tidak perlu difoto.
Farid membaca kalimat itu berkali kali. Ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ada panas kecil yang naik ke dadanya. Keinginan untuk menjelaskan. Keinginan untuk membela diri. Keinginan agar orang tahu ia tidak seperti yang mereka sangkakan.
Di situlah ia tersentak. Bukankah itu bentuk lain dari ingin diakui.
Malam itu ia tidak keluar rumah. Ia duduk lama di atas sajadah. Untuk pertama kalinya ia bertanya pada dirinya sendiri, apakah selama ini ia benar benar hanya menginginkan Allah sebagai saksi. Ataukah diam diam ia menikmati perasaan menjadi lebih baik dari orang lain yang gemar memamerkan ibadah.
Pertanyaan itu menusuk lebih tajam daripada komentar sinis.
Keesokan harinya Raka datang menemuinya. Kau ini keterlaluan, Rid. Kenapa tidak pernah cerita.
Farid menatap wajah sahabatnya yang separuh kagum, separuh kesal. Cerita apa.
Soal gang belakang pasar itu.
Farid terdiam cukup lama. Lalu ia berkata pelan, Kalau orang tahu, mungkin aku tidak lagi bisa memastikan untuk siapa aku melakukannya.
Raka menghela napas. Tapi kalau semua orang memilih diam, siapa yang akan menggerakkan yang lain.
Kalimat itu menghantam Farid lebih keras daripada komentar warganet.
Malam kedua puluh tujuh Ramadan, ia kembali menyusuri gang belakang pasar. Tangannya kosong. Ia ingin melihat apakah unggahan itu benar benar mengubah sesuatu, atau hanya riuh sesaat.
Ia berhenti di ujung gang.
Di depan beberapa rumah, ia melihat kantong beras dan minyak tersusun rapi. Tidak satu dua, tetapi hampir di setiap pintu. Ada yang menaruh kurma, ada yang menggantung amplop kecil di gagang pintu.
Lampu lampu rumah yang biasanya redup kini menyala lebih terang.
Farid berdiri lama. Dadanya terasa penuh, bukan oleh bangga, melainkan oleh rasa kecil yang aneh. Ternyata satu foto yang ia takuti justru menyalakan banyak tangan.
Ia melangkah menuju rumah Bu Sari. Perempuan tua itu sudah menunggunya di beranda.
Ibu tidak menyebut namamu, katanya pelan. Ibu hanya memotret dari jauh. Karena dulu ayahmu pernah berkata, kalau suatu hari langkahnya berhenti, semoga ada yang melanjutkan. Dan kalau perlu, biarkan orang tahu agar api itu tidak padam.
Farid merasa lututnya lemas. Jadi Ayah benar benar melakukan ini.
Bu Sari mengangguk. Bertahun tahun. Tanpa pernah kami tahu siapa yang meninggalkan beras itu. Sampai suatu malam Ibu memergokinya. Ia tertawa dan berkata, jangan beri tahu siapa siapa, kecuali kalau aku sudah tiada.
Angin malam menyusup di antara rumah rumah papan. Farid menatap tas kain cokelat di pundaknya. Tiba tiba ia sadar, yang ia warisi bukan hanya cara menyembunyikan, tetapi juga ketakutan yang mungkin tak sepenuhnya perlu.
Selama ini ia begitu sibuk menjaga agar amalnya tidak terlihat, sampai hampir lupa bahwa prasangka kepada orang lain juga bisa merusak. Ia pernah diam diam merasa lebih aman daripada mereka yang membagikan kebaikan di layar ponsel. Ia merasa berada di sisi yang lebih suci.
Malam itu, di ujung gang yang lebih terang dari biasanya, Farid akhirnya memahami sesuatu yang mengejutkannya sendiri.
Bukan foto Bu Sari yang hampir merusak keikhlasannya. Bukan pula komentar orang orang.
Yang paling berbahaya adalah keyakinannya bahwa ia pasti lebih ikhlas daripada yang lain.
Ia menunduk, menahan air mata.
Di antara lampu lampu yang menyala dan kantong kantong beras di depan pintu, Farid sadar, rahasia terbesar bukan tentang menyembunyikan amal, melainkan tentang membersihkan hati dari merasa paling tersembunyi.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak lagi takut jika suatu hari langkahnya terdengar.














