Kedatangan Bahlil Lahadalia Ditolak! HMI Ungkap Skandal Tambang di Maluku Utara

banner 120x600

BuserNasional — Ternate, Maluku Utara – Gelombang penolakan terhadap kedatangan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menggema di wilayah Maluku Utara.

Penolakan keras ini disuarakan oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Badan Koordinasi (BADKO) Maluku Utara periode 2024–2026, yang mengusung semangat Intelegensia Progresif.

Organisasi mahasiswa tersebut menilai kehadiran Menteri ESDM di Bumi Moloku Kie Raha—meliputi Ternate, Tidore, Bacan, Sanana hingga Morotai—tidak membawa solusi atas persoalan rakyat, melainkan berpotensi memperparah konflik yang ada.

Sorotan Tajam: Dari Kriminalisasi hingga Tambang Ilegal

Dalam pernyataan resminya, BADKO HMI Maluku Utara mengungkap sejumlah isu serius yang menjadi dasar penolakan terhadap kebijakan Menteri ESDM, di antaranya:

Dugaan kriminalisasi masyarakat adat Maba Sangaji

Praktik ekspor ilegal ore nikel

Dugaan penerbitan Izin Usaha Pertambangan (IUP) ilegal di Blok Medan

Maraknya aktivitas tambang ilegal di Maluku Utara

Pemaksaan relokasi masyarakat di Pulau Obi

Dampak kesehatan berupa ISPA pada masyarakat lingkar tambang

Dugaan keberpihakan terhadap perusahaan asing

Perampasan lahan warga di Halmahera

Penurunan Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

Kondisi petani dan nelayan yang semakin terhimpit

Kritik Keras: Oligarki Tambang Kuasai Sumber Daya

BADKO HMI menilai kebijakan sektor ESDM saat ini tidak berpihak pada rakyat. Mereka menuding adanya dominasi oligarki dalam pengelolaan sumber daya alam di Maluku Utara.

Menurut mereka, eksploitasi tambang yang masif justru memperparah ketimpangan sosial, merusak lingkungan, serta menekan kehidupan masyarakat lokal, khususnya di wilayah lingkar tambang.

Mahasiswa Ambil Sikap: “Kami Tidak Butuh Seremoni”

Dalam sikap tegasnya, BADKO HMI Maluku Utara menegaskan bahwa penolakan ini merupakan bentuk tanggung jawab moral terhadap rakyat.

“Kami tidak butuh seremoni. Kami butuh keadilan dan keberpihakan nyata kepada masyarakat,” tegas pernyataan tersebut.

Jadi Sorotan Nasional

Isu ini berpotensi menjadi perhatian publik nasional, mengingat Maluku Utara merupakan salah satu daerah dengan kekayaan sumber daya nikel terbesar di Indonesia, namun masih dihadapkan pada persoalan konflik agraria, ketimpangan pembangunan, dan dampak lingkungan.

Desakan pun menguat agar pemerintah pusat segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan sektor ESDM, khususnya yang berdampak langsung pada masyarakat adat dan warga lokal.

Penolakan BADKO HMI Maluku Utara menjadi sinyal kuat bahwa pembangunan tanpa keadilan sosial hanya akan memicu perlawanan. Pemerintah dituntut hadir bukan sekadar membawa investasi, tetapi memastikan kesejahteraan dan perlindungan bagi rakyat di daerah penghasil sumber daya.

Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM ditolak, HMI Maluku Utara, tambang nikel Maluku Utara, oligarki tambang Indonesia, konflik tambang Halmahera, masyarakat adat Maba Sangaji, tambang ilegal Indonesia, berita nasional terbaru

 

Penulis: M Bambang Y MalokoEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *