BuserNasional — Surabaya — Di sudut Jalan Tunjungan yang tak pernah benar-benar tidur, Irfan Supriyadi duduk menunggu pelanggan. Dulu ia berdiri di depan kelas, kini ia menawarkan jasa pijat kepada orang yang lewat. Perjalanan hidupnya bukan sekadar kisah banting setir, tetapi cermin rapuhnya perlindungan terhadap guru honorer di tengah kerasnya ekonomi perkotaan.
Perubahan hidup Irfan tidak lahir dari pilihan bebas, melainkan keterpaksaan ekonomi. Setelah bertahun-tahun mengabdi sebagai guru honorer, ia menghadapi kenyataan bahwa penghasilan yang diterima tidak cukup menopang kebutuhan hidup sehari-hari. Dalam laporan Kompas.com disebutkan bahwa ia kini bekerja sebagai tukang pijat di kawasan pusat kota Surabaya, menawarkan jasa dari malam hingga dini hari, serta melayani panggilan pada siang hari.
Fenomena yang dialami Irfan mencerminkan persoalan lebih luas dalam dunia pendidikan Indonesia. Guru honorer selama ini berada pada posisi rentan, dengan beban kerja yang kerap setara dengan guru tetap, namun tidak diiringi jaminan kesejahteraan yang memadai. Ketimpangan ini telah lama menjadi sorotan berbagai laporan media, meskipun tidak semua berangkat dari kasus yang sama. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan guru honorer bukan sekadar kasus individual, tetapi bagian dari persoalan struktural yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Di sisi lain, kehidupan kota besar seperti Surabaya menghadirkan realitas yang tidak sederhana. Kota menawarkan peluang ekonomi, namun juga menyimpan kompetisi yang ketat bagi mereka yang tidak memiliki modal cukup. Irfan kini menjadi bagian dari sektor informal yang menggantungkan pendapatan pada jumlah pelanggan harian, tanpa kepastian penghasilan tetap. Realitas ini memperlihatkan bagaimana perpindahan profesi tidak selalu berarti peningkatan kesejahteraan, tetapi sering kali sekadar strategi bertahan hidup.
Kisah ini juga mengundang refleksi terhadap kebijakan pengelolaan tenaga pendidik, khususnya guru honorer. Dalam berbagai kesempatan, isu kesejahteraan dan status kepegawaian guru honorer kerap menjadi pembahasan publik. Namun, implementasi kebijakan di lapangan masih menyisakan sejumlah persoalan, terutama terkait kepastian status dan penghasilan yang layak. Tanpa pembenahan yang konsisten, kisah seperti Irfan berpotensi terus berulang pada banyak individu lain. (Kompas.com, 26 Maret 2026)
Di tengah situasi tersebut, Irfan tetap menjalani pekerjaannya dengan sikap terbuka dan ramah. Ia menawarkan jasa pijat kepada setiap calon pelanggan tanpa kehilangan semangat bekerja. Dari malam hingga dini hari, ia bertahan di ruang publik yang keras, sementara pada siang hari ia tetap melayani panggilan. Kondisi ini menunjukkan bahwa daya tahan individu sering kali menjadi faktor utama ketika sistem belum sepenuhnya memberikan perlindungan yang memadai.
Pada akhirnya, perjalanan Irfan bukan hanya kisah perubahan profesi, tetapi juga potret dinamika sosial ekonomi masyarakat perkotaan. Ia menggambarkan bagaimana individu harus beradaptasi dengan cepat terhadap tekanan hidup, sekaligus memperlihatkan adanya jarak antara pengabdian dan kesejahteraan. Kisah ini menjadi pengingat bahwa upaya memperbaiki kualitas pendidikan tidak dapat dilepaskan dari perhatian terhadap kondisi hidup para pendidiknya.














