Malam itu lorong rumah sakit terasa lebih panjang dari biasanya. Bau antiseptik menyengat, bercampur dingin pendingin ruangan yang membuat kulit meremang. Lampu neon memantulkan bayang pucat di lantai mengilap. Seorang anak duduk memeluk tas sekolah di samping ranjang ibunya. Tak ada saudara, tak ada ayah, hanya detak mesin infus dan napas berat yang terdengar putus putus.
Hadi belum genap dua belas tahun ketika ia belajar arti menunggu dengan cara yang paling sunyi. Kursi plastik hijau di samping ranjang menjadi tempatnya berteduh dari cemas. Di situlah ia duduk sejak sore, sejak ibunya dibawa masuk ke bangsal kelas tiga dengan wajah pucat dan batuk tak henti.
“Adik sendirian?” tanya seorang perawat muda sambil memeriksa tekanan darah.
Hadi mengangguk. “Ayah masih di jalan, Bu. Dari luar kota.”
Perawat itu tersenyum tipis. “Yang sabar ya. Pemandangan seperti ini sering kami lihat.”
Kalimat itu membuat dada Hadi mengeras. Seperti ia dan ibunya hanyalah bagian dari antrean panjang kisah sedih yang datang dan pergi. Namun ketika ia menoleh ke wajah ibunya yang lemah, ia tahu bagi dirinya ini bukan pemandangan biasa. Ini dunianya.
Ibunya membuka mata perlahan. “Hadi, sudah makan?”
Hadi menggeleng. Ia berbohong ketika berkata tidak lapar. Uang di sakunya hanya cukup untuk ongkos pulang nanti. Ia takut meninggalkan ibunya terlalu lama hanya untuk membeli nasi.
Ia menatap sekeliling. Di ranjang seberang, seorang kakek ditemani anak anaknya yang bergantian menjaga. Di sudut lain, seorang ibu muda disuapi suaminya. Hanya ranjang ibunya yang terasa paling sunyi.
Seorang perawat laki laki yang lebih senior menghampiri. “Kamu belum makan kan?”
Hadi terdiam. Perawat itu tidak menunggu jawaban. Ia kembali beberapa menit kemudian dengan sebungkus nasi hangat.
“Makan dulu. Ibumu butuh kamu kuat.”
Hadi menerima dengan tangan gemetar. “Terima kasih, Pak.”
Perawat itu duduk sebentar di kursi plastik hijau. “Saya dulu juga pernah di posisi kamu,” katanya pelan. “Menemani ibu saya di bangsal seperti ini.”
Hadi menoleh. Untuk pertama kalinya ia merasa tidak sendirian.
Malam semakin larut. Suara sandal diseret, bunyi alat monitor, dan bisik doa keluarga lain menjadi latar yang tak pernah benar benar sunyi. Hadi mencoba mengerjakan PR matematika di pangkuannya, tetapi angka angka berloncatan seperti menolak dipahami.
Ia menatap ibunya. Tiba tiba rasa marah menyelip. Marah karena ibunya terlalu lelah bekerja. Marah karena ayahnya belum tiba. Marah karena ia masih anak anak ketika harus belajar menjadi dewasa.
Ia berdiri dan berjalan ke kamar mandi bangsal. Di sana, tanpa suara, ia menangis. Tangis yang cepat ia hapus sebelum kembali ke kursi plastik hijau. Ia tidak ingin ibunya melihat wajah rapuhnya.
“Hadi…” suara ibunya serak ketika ia kembali.
“Iya Bu.”
“Kalau Ibu sembuh, kita berhenti jualan gorengan malam malam. Ibu cari yang lain saja.”
Hadi menunduk. “Ibu pasti sembuh.”
Namun menjelang tengah malam, monitor di samping ranjang berbunyi lebih keras. Angka di layar berubah cepat. Seorang perawat memanggil dokter. Beberapa tenaga kesehatan datang tergesa.
“Adik, tolong menjauh dulu,” kata seseorang lembut.
Hadi berdiri membeku. Bau antiseptik terasa makin tajam. Ia melihat tangan tangan bergerak cepat, mendengar instruksi pendek, melihat oksigen diganti dan suntikan diberikan.
Dalam kepalanya hanya ada satu kalimat yang berulang. Jangan sekarang. Jangan ambil Ibu sekarang.
Beberapa menit terasa seperti berjam jam. Lalu suara monitor perlahan stabil. Angka angka di layar kembali teratur.
Dokter menoleh ke arah Hadi dan mengangguk kecil. “Kondisinya sempat turun, tapi sekarang sudah tertangani. Kita observasi ketat malam ini.”
Lutut Hadi hampir lemas. Ia kembali ke kursi plastik hijau dan menggenggam tangan ibunya yang masih hangat. Untuk pertama kalinya malam itu ia mengucap syukur panjang.
Subuh mendekat ketika ayahnya akhirnya datang dengan wajah kusut. Ia memeluk Hadi tanpa banyak kata. Di sela tangis dan rasa lega, Hadi untuk pertama kali berani berkata, “Yah, setelah Ibu sembuh, kita harus ubah semuanya. Jangan tunggu sakit lagi.”
Ayahnya mengangguk lama. Seolah baru kali itu ia benar benar mendengar suara anaknya.
Hari hari berikutnya berjalan perlahan. Kondisi ibunya membaik sedikit demi sedikit. Hadi tetap duduk di kursi plastik hijau, tetapi kini bergantian dengan ayahnya. Ia mulai akrab dengan perawat dan dokter, bertanya tentang cara kerja alat dan obat.
Seminggu kemudian, dokter memperbolehkan ibunya pulang dengan syarat kontrol rutin dan istirahat cukup.
Saat mendorong kursi roda melewati lorong yang dulu terasa menakutkan, Hadi menoleh pada kursi plastik hijau yang kini kosong. Ia menyentuh sandarannya sebentar, seolah sedang berpamitan pada bagian hidup yang baru saja ia lewati.
Bertahun tahun kemudian, lorong itu kembali ia susuri. Kini langkahnya mantap, seragam putih rapi melekat di tubuhnya. Di dadanya tergantung papan nama kecil bertuliskan Hadi Pratama, S.Kep., Ners.
Ia memilih bekerja di bangsal kelas tiga. Bukan karena tidak mampu ke tempat yang lebih nyaman, tetapi karena ia tahu bagaimana rasanya duduk di kursi plastik hijau dengan rasa takut yang tak bisa dibagi.
Suatu malam ia melihat seorang anak lelaki duduk sendirian di samping ranjang ibunya.
“Adik sendirian?” tanya Hadi lembut.
Anak itu mengangguk.
Hadi tersenyum. “Yang sabar ya. Pemandangan seperti ini sering kami lihat. Tapi setiap anak yang menunggu di sini punya cerita yang berbeda.”
Ia lalu mengambil sebungkus nasi hangat dari loker pribadinya dan memberikannya pada anak itu.
Di rumah, ibunya kini membuka warung kecil di depan rumah, tidak lagi berjualan hingga larut malam. Ayahnya membantu sepenuh waktu. Setiap kali Hadi pulang setelah jaga malam, ibunya selalu menunggu dengan segelas teh hangat.
Kadang mereka tertawa mengenang malam di bangsal kelas tiga. Ibu selalu berkata, “Kalau bukan karena malam itu, mungkin kamu tidak jadi perawat.”
Hadi hanya tersenyum. Ia tahu, janji yang lahir di kursi plastik hijau bukan sekadar tentang profesi. Itu tentang hadir ketika orang lain merasa sendirian.
Dan setiap kali melewati lorong panjang di ujung malam, ia tidak lagi melihatnya sebagai tempat yang sunyi. Ia melihatnya sebagai ruang harapan tempat banyak keluarga pulang dengan pelukan utuh seperti dirinya.














