Jangan Sampai Hati Ikut Tertidur

banner 120x600

Setiap pagi Allah membangunkan manusia dengan kasih sayang yang sering tidak disadari. Mata kembali terbuka, napas kembali berjalan, jantung kembali berdetak, sementara tidak sedikit manusia lain yang malam tadi tidur namun tidak lagi diberi kesempatan menyambut fajar. Karena itu, ketika seseorang bangun pagi tetapi melupakan ibadah, sesungguhnya ia sedang melupakan tujuan utama hidupnya sendiri.

Ada manusia yang sangat takut tertinggal pekerjaan, takut kehilangan jabatan, takut kehilangan uang, takut kehilangan perhatian manusia, tetapi tidak takut kehilangan kedekatan dengan Allah. Padahal semua yang dimiliki hanyalah titipan sementara. Hari demi hari berlalu dengan sibuk mengejar dunia, sementara hati semakin jauh dari Rabb yang memberi kehidupan.

Allah mengingatkan manusia dengan firman-Nya:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.”
(QS. Al-Hasyr: 19)

Ayat ini bukan sekadar ancaman. Ia adalah gambaran tentang keadaan manusia yang kehilangan arah hidup. Ketika seseorang melupakan Allah, maka perlahan ia akan lupa siapa dirinya, lupa tujuan hidupnya, lupa hakikat kematian, lupa bahwa dunia hanya persinggahan sementara.

Ibnu Qayyim رحمه الله menjelaskan bahwa di antara hukuman bagi orang yang melupakan Allah adalah Allah menjadikannya lupa terhadap perkara yang bermanfaat bagi dirinya sendiri. Ia sibuk dengan sesuatu yang tidak bernilai di akhirat. Waktunya habis untuk perkara sia-sia. Pikirannya penuh urusan dunia, tetapi kosong dari zikir, doa, dan rasa takut kepada Allah.

BERITA TERKAIT  Sampah Menumpuk di Area Makam Syaichona Cholil Bangkalan, Siapa yang Lalai?

Betapa banyak manusia yang bangun pagi dengan tubuh sehat, tetapi hatinya sakit. Mulutnya tertawa, tetapi jiwanya kosong. Rumahnya mewah, tetapi hidupnya gelisah. Semua itu terjadi karena hati tidak lagi mengenal Rabb-nya.

Padahal kehidupan ini sangat singkat. Umur manusia berjalan seperti bayangan sore yang cepat menghilang. Hari yang berlalu tidak akan pernah kembali. Masa muda akan menua. Kesehatan akan melemah. Wajah akan keriput. Dan suatu hari manusia akan dibaringkan sendirian di dalam tanah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.”
(HR. Al-Hakim)

Hadis ini mengajarkan bahwa hidup bukan untuk dihabiskan dalam kelalaian. Setiap pagi yang Allah berikan adalah kesempatan memperbaiki diri. Kesempatan bertaubat. Kesempatan menambah amal. Kesempatan mendekat kepada Allah sebelum ajal datang tanpa pemberitahuan.

Kadang manusia terlalu percaya dirinya akan hidup lama. Ia menunda shalat. Menunda taubat. Menunda membaca Al-Qur’an. Menunda memperbaiki akhlak. Seolah-olah esok masih pasti menjadi miliknya. Padahal berapa banyak orang yang kemarin masih bercanda, hari ini sudah dibungkus kain kafan.

Karena itu, jangan biasakan hati hidup tanpa ibadah. Jangan jadikan dunia memenuhi seluruh isi pikiran. Sebab hati yang jauh dari Allah akan mudah gelisah walaupun memiliki segalanya.

Allah berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)

BERITA TERKAIT  Hati Yang Perlu Disentuh

Ketenangan sejati bukan berasal dari banyaknya uang, tingginya jabatan, atau ramainya pujian manusia. Ketenangan sejati lahir ketika hati dekat dengan Allah. Saat seseorang menikmati sujud panjangnya. Saat lisannya basah dengan istighfar. Saat matanya menangis dalam doa malam.

Ibadah bukan beban bagi orang beriman. Ibadah adalah kebutuhan jiwa. Sebagaimana tubuh membutuhkan makanan, hati juga membutuhkan kedekatan dengan Allah. Tanpa itu, jiwa akan terasa hampa walaupun dunia berada dalam genggaman.

Lihatlah bagaimana Rasulullah ﷺ menjadikan shalat sebagai penenang hidupnya. Beliau bersabda:

وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ

“Dan dijadikan penyejuk hatiku di dalam shalat.”
(HR. Ahmad dan An-Nasa’i)

Shalat bukan sekadar gerakan rutin. Ia adalah tempat seorang hamba berbicara kepada Rabb-nya. Tempat mengadu segala luka. Tempat meminta kekuatan ketika hidup terasa berat. Maka sungguh merugi orang yang meninggalkan shalat, padahal Allah masih memberinya napas dan kesempatan hidup.

Setiap kali bangun pagi, sebenarnya Allah sedang mengirim pesan kepada manusia: “Aku masih memberimu kesempatan untuk kembali.” Namun banyak manusia justru memulai harinya dengan dosa. Bangun tidur langsung sibuk dengan dunia, tetapi lupa bersyukur kepada Allah.

Padahal Rasulullah ﷺ mengajarkan doa ketika bangun tidur:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya kami akan dibangkitkan.”
(HR. Bukhari)

Doa itu mengingatkan bahwa tidur adalah gambaran kecil dari kematian. Dan bangun tidur adalah gambaran kecil dari kebangkitan setelah mati. Maka orang yang memahami hakikat hidup tidak akan menganggap remeh waktu yang Allah berikan.

BERITA TERKAIT  Surat Takedown dan Bayang Bayang Kekuasaan

Jangan tunggu musibah untuk kembali mengingat Allah. Jangan tunggu kehilangan untuk sadar bahwa dunia tidak abadi. Sebab hati yang terbiasa jauh dari Allah akan sulit khusyuk ketika musibah datang.

Mulailah memperbaiki hubungan dengan Allah dari hal sederhana. Jaga shalat lima waktu. Biasakan membaca Al-Qur’an walau sedikit. Perbanyak istighfar. Kurangi maksiat yang dilakukan diam-diam. Karena dosa yang terus dilakukan akan membuat hati keras dan jauh dari cahaya hidayah.

Ketika Allah masih membangunkan kita setiap pagi, itu bukan karena kita sudah pantas masuk surga. Tetapi karena rahmat-Nya masih memberi kesempatan untuk memperbaiki diri.

Maka jangan sampai tubuh bangun dari tidur, tetapi hati tetap tertidur dalam kelalaian. Jangan sampai Allah masih memberi umur, tetapi kita menghabiskannya tanpa ibadah. Sebab suatu hari nanti akan datang pagi yang tidak lagi kita sambut. Saat itu, penyesalan tidak akan berguna.

Selama matahari masih terbit dan napas masih berhembus, pintu taubat belum tertutup. Kembalilah kepada Allah sebelum terlambat. Karena Allah tidak pernah lupa membangunkan kita. Maka jangan menjadi hamba yang lupa bersujud kepada-Nya.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *