Agama  

Istighfar: Ilham Cinta Dari Allah

banner 120x600

Istighfar bukan sekadar kalimat yang diucapkan setelah berbuat dosa, tetapi tanda hidupnya hati dan bukti bahwa Allah masih menghendaki kebaikan bagi seorang hamba. Ketika seseorang tergelincir lalu segera sadar, menyesal, dan kembali kepada Allah, itu bukan semata kekuatan diri, melainkan ilham rahmat yang ditanamkan Allah. Kesadaran seperti ini adalah nikmat terbesar.

 

Seorang ulama salaf pernah ditanya, “Apa yang Allah lakukan kepada hamba ketika Dia mencintainya?” Jawabannya begitu singkat namun dalam: Allah akan mengilhamkan istighfar kepada hamba itu ketika ia salah. Maknanya, cinta Allah bukan hanya berupa rezeki yang melimpah atau tubuh yang sehat, tetapi berupa hati yang tidak betah dalam dosa. Banyak orang diberi kenikmatan dunia, namun hatinya gelap dan jauh. Sedangkan ada orang yang hidup sederhana, namun hatinya selalu kembali kepada Allah.

 

Allah menegaskan bahwa Dia mencintai orang-orang yang kembali dan membersihkan diri. Firman Allah Ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.”

(QS. Al-Baqarah: 222)

Ayat ini menegaskan bahwa taubat bukan tanda kehinaan, melainkan tanda kemuliaan. Sebab orang yang bertaubat berarti ia masih memiliki rasa takut kepada Allah. Ia masih punya malu kepada Rabb-nya. Ia masih sadar bahwa dosa bukan perkara ringan, melainkan sesuatu yang dapat menggelapkan hati.

 

Istighfar adalah pintu pertama menuju taubat. Ia seperti alarm dari Allah yang membangunkan jiwa sebelum terlambat. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Dan Allah tidak akan mengazab mereka selama engkau (Muhammad) berada di tengah-tengah mereka. Dan Allah tidak akan mengazab mereka selama mereka beristighfar.”

(QS. Al-Anfal: 33)

Perhatikan, istighfar disebut sebagai sebab tertahannya azab. Maka siapa yang lisannya basah dengan istighfar, berarti ia sedang berlindung kepada Allah dari hukuman dan murka-Nya. Istighfar bukan hanya untuk orang yang jatuh dalam dosa besar, tetapi juga untuk kelalaian kecil yang sering diremehkan.

 

Kadang seseorang tidak sadar bahwa dosa paling berbahaya adalah dosa yang tidak disadari. Dosa yang dianggap biasa. Dosa yang dianggap lumrah. Dosa yang tidak lagi membuat hati takut. Itulah mengapa ilham untuk segera istighfar adalah tanda penjagaan Allah. Allah berfirman:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka segera mengingat Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? dan mereka tidak terus-menerus dalam dosa itu, sedang mereka mengetahui.”

(QS. Ali ‘Imran: 135)

Ayat ini menjelaskan ciri orang bertakwa: bukan mereka yang tidak pernah salah, tetapi mereka yang tidak betah berlama-lama dalam kesalahan. Mereka tidak membela dosa. Mereka tidak mencari pembenaran. Mereka tidak bangga dengan maksiat. Begitu tergelincir, mereka segera kembali.

 

Rasulullah ﷺ sendiri yang ma’shum tetap memperbanyak istighfar. Ini menunjukkan bahwa istighfar bukan hanya penghapus dosa, tetapi juga bentuk penghambaan. Nabi ﷺ bersabda:

وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Demi Allah, sungguh aku benar-benar memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.”

(HR. Al-Bukhari)

Jika Nabi yang dijamin surga saja begitu banyak istighfar, maka manusia yang penuh kekurangan ini lebih layak untuk menangis di hadapan Allah, lebih layak untuk merendahkan diri, lebih pantas untuk takut jika dosa-dosanya belum terampuni.

 

Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ menggambarkan keindahan istighfar sebagai jalan keluar dari kesempitan hidup:

مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barang siapa membiasakan istighfar, Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dari setiap kesedihan, kelapangan dari setiap kesempitan, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka.”

(HR. Abu Dawud)

Maka jangan heran jika orang yang istiqamah beristighfar sering merasakan ketenangan batin yang tidak bisa dijelaskan. Ia mungkin diuji, tetapi hatinya tetap punya pegangan. Ia mungkin terhimpit, tetapi Allah bukakan jalan yang tidak disangka-sangka.

 

Istighfar juga merupakan warisan para nabi. Nabi Nuh عليه السلام berkata kepada kaumnya:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ۝ وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

“Maka aku berkata kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat kepadamu. Dan Dia akan memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.’”

(QS. Nuh: 10-12)

Ini bukan janji kosong. Istighfar membuka pintu langit. Istighfar mengundang keberkahan. Istighfar menjadi sebab Allah memperbaiki hidup seseorang, baik urusan agama maupun dunia. Tetapi syaratnya bukan hanya lisan, melainkan hati yang menyesal dan tekad untuk meninggalkan dosa.

 

Karena itu, istighfar yang paling berharga adalah istighfar yang lahir dari kesadaran. Bukan sekadar ucapan cepat tanpa rasa takut. Orang yang dicintai Allah akan merasakan luka ketika berdosa. Ia merasa hatinya kotor. Ia merasa ada jarak antara dirinya dengan Allah. Lalu ia pun menangis, merendah, dan berkata dalam sunyi: “Ya Allah, aku lemah, aku jatuh, aku hina, tapi aku tidak punya pintu selain pintu-Mu.”

 

Dan kabar gembiranya, Allah tidak pernah menutup pintu taubat selama nyawa belum sampai tenggorokan. Allah berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’”

(QS. Az-Zumar: 53)

Maka jangan pernah putus asa. Jika Allah masih memberi ilham untuk istighfar, berarti Allah masih membuka jalan pulang. Jika hati masih gelisah setelah berbuat salah, berarti Allah sedang menegur dengan kasih sayang. Karena orang yang benar-benar ditinggalkan, justru tidak lagi merasa bersalah. Ia tertawa dalam dosa. Ia tenang dalam maksiat. Itulah musibah terbesar.

 

Jadi, ketika kita tergelincir lalu Allah menggerakkan lisan kita untuk berkata, “أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ” maka itu bukan kalimat biasa. Itu sinyal cinta. Itu tanda penjagaan. Itu bentuk rahmat yang tidak terlihat. Maka perbanyaklah istighfar, dalam sepi maupun ramai, dalam lapang maupun sempit, karena boleh jadi keselamatan kita bukan karena amal besar, tetapi karena satu istighfar yang keluar dari hati yang jujur.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *