BANGKALAN,busernasional.my.id – Polemik dugaan tekanan kerja di internal Amartha Cabang Kwanyar semakin memanas setelah beredar tangkapan layar percakapan grup internal yang diduga memuat sindiran terhadap kondisi mental Farhan, petugas lapangan yang kini dirujuk ke poli jiwa akibat tekanan pekerjaan.

Dalam tangkapan layar yang beredar, terlihat akun bernama “Pak Denis” mengirim pesan bernada sindiran:
“Jaga kesehatan jgn sampai sakit. apalagi sakit jiwa.”
Tak lama setelah pesan itu muncul, salah satu anggota grup lain justru merespons dengan emoji tertawa. Percakapan tersebut kini menuai kecaman publik karena dinilai tidak pantas disampaikan kepada pekerja yang sedang mengalami tekanan mental berat.
Kasus ini menyeret nama Kepala Cabang Amartha Kwanyar, Denis, yang dianggap gagal menunjukkan empati terhadap bawahannya sendiri. Sejumlah aktivis menilai candaan terkait gangguan jiwa tidak bisa dianggap sepele, terlebih kondisi Farhan disebut sudah sampai mendapat rujukan pemeriksaan ke poli jiwa.
“Kalau benar itu disampaikan pimpinan lalu ditertawakan internal grup, ini sudah keterlaluan. Kondisi mental orang kok dijadikan candaan,” ujar salah satu aktivis ketenagakerjaan di Bangkalan, Sabtu (10/5/2026).
Farhan sebelumnya mengaku mengalami tekanan berat setelah dituduh menanggung minus tagihan bernilai puluhan juta rupiah. Ia menyebut sebagian setoran telah dilakukan melalui Brilink Kwanyar sesuai arahan aplikasi perusahaan, namun data transaksi tersebut diduga hilang dari sistem.
Akibat persoalan itu, Farhan mengaku terus mendapat tekanan hingga kondisi psikologisnya menurun drastis.
“Saya sudah setor sesuai prosedur aplikasi. Tapi saat data hilang, semuanya dibebankan ke saya,” ungkap Farhan.
Tidak hanya tekanan administrasi, Farhan juga mengaku mengalami perlakuan yang mempermalukan dirinya. Pada Selasa malam (6/5/2026), sepeda motor yang digunakannya disebut diambil oleh beberapa orang di kawasan Kayangan tanpa berita acara resmi maupun audit terbuka.
Peristiwa tersebut diduga memperparah kondisi mentalnya hingga akhirnya mendapat rujukan pemeriksaan ke poli jiwa.
Kuasa hukum Farhan menilai percakapan grup yang beredar dapat menjadi bukti adanya dugaan bullying dan lingkungan kerja yang tidak sehat di internal perusahaan.

“Pekerja yang sedang tertekan seharusnya dilindungi. Kalau justru dijadikan bahan tertawaan, ini mencerminkan buruknya kultur kerja,” tegas kuasa hukum Farhan.
Ia juga meminta Amartha pusat segera turun tangan memeriksa kepemimpinan di Cabang Kwanyar, termasuk mengaudit dugaan hilangnya data setoran dan pola tekanan terhadap petugas lapangan.
Sementara itu, Denis hingga kini belum memberikan klarifikasi lanjutan terkait beredarnya tangkapan layar tersebut. Sebelumnya, ia hanya menyatakan Farhan dianggap melanggar SOP perusahaan.
Kasus ini kini menjadi sorotan luas masyarakat Bangkalan dan memicu desakan agar perlindungan kesehatan mental pekerja tidak lagi dianggap remeh di lingkungan kerja sektor pembiayaan lapangan.(Team/Red)










