Dulu saya percaya bahagia itu perkara sederhana. Ia tinggal di teras rumah kecil di pinggir kota Semarang, di antara secangkir teh panas dan suara ayah yang berdehem kecil sebelum memanggil saya masuk. Bahagia tidak memerlukan sorotan, tidak butuh tepuk tangan. Ia cukup hadir dan diam diam menghangatkan.
Saya bekerja sebagai manajer pemasaran di sebuah perusahaan properti nasional di Jakarta. Jabatan itu saya raih dengan cara yang tidak sederhana. Lembur bertahun tahun, menelan ambisi, dan menukar akhir pekan dengan ruang rapat berpendingin udara. Saya hafal bau karpet kantor yang sedikit apek setiap pagi dan suara mesin pendingin yang berdengung seperti napas panjang yang tak pernah selesai.
Di meja kerja saya, ada layar besar yang hampir tidak pernah mati. Dari sanalah dunia lain memanggil. Wajah wajah terkenal dengan rumah kaca, mobil mewah, dan liburan lintas benua. Saya mengikuti mereka, membaca kisah sukses mereka, mencatat strategi mereka. Tanpa sadar, saya mulai mengukur hidup saya dengan garis ukur milik orang lain.
Setiap kali unggahan mereka ramai disukai, saya merasa tertinggal. Setiap kali target penjualan tercapai, saya merasa itu belum cukup. Bahagia berubah menjadi angka. Angka penjualan. Angka pengikut. Angka bonus tahunan. Kata cukup terasa seperti kata terlarang.
Ibu pernah menelepon dan bertanya kapan saya pulang. Saya menjawab singkat, nanti kalau proyek selesai. Proyek itu tidak pernah benar benar selesai. Ayah hanya mengirim pesan pendek, jaga kesehatan. Saya membalas dengan emoji singkat. Saya terlalu sibuk mengejar versi bahagia yang terus bergeser.
Suatu malam, setelah rapat yang berlangsung hingga hampir tengah malam, saya menerima telepon dari nomor tetangga rumah. Suaranya tergesa. Ayah pingsan di bengkel kecilnya. Saya terdiam beberapa detik sebelum akhirnya memesan tiket penerbangan paling pagi.
Di ruang perawatan rumah sakit daerah, saya melihat ayah terbaring dengan selang infus di tangan. Wajahnya lebih tirus dari terakhir kali saya pulang. Ibu duduk di sampingnya, memegang tas kain yang sudah usang. Tidak ada kamera. Tidak ada sorotan. Hanya bau obat dan suara alat monitor yang berdetak pelan
Ayah membuka mata ketika saya memanggilnya. Ia tersenyum tipis. Kamu sibuk ya, katanya lirih. Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung jarak yang panjang.
Dokter mengatakan ayah mengalami kelelahan berat dan tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol. Ia sudah beberapa kali pusing, tetapi menolak diperiksa karena tidak ingin mengganggu saya yang sedang mengejar karier.
Malam itu, saya duduk sendirian di teras rumah. Rumah yang catnya semakin pudar, tetapi aromanya masih sama. Saya menemukan sepeda tua yang dulu sering ayah perbaiki. Di sudut bengkel kecilnya, ada buku catatan berisi pesanan servis. Tulisan tangan ayah rapi dan telaten. Setiap nama pelanggan diberi tanda cek kecil setelah selesai.
Tiba tiba saya teringat sesuatu. Setiap kali ayah menutup buku itu, ia selalu berkata, selesai satu, cukup untuk hari ini. Saya dulu menganggapnya kalimat biasa. Kini kalimat itu terasa seperti kemewahan yang hilang dari hidup saya.
Beberapa hari saya tinggal untuk membantu ibu. Saya mengantar ayah kontrol, membersihkan bengkel, dan menyapa tetangga. Tidak ada rapat. Tidak ada target. Hanya pekerjaan kecil yang selesai sebelum senja. Aneh, saya justru merasa lebih utuh.
Ketika ayah sudah cukup kuat untuk duduk di teras, ia menatap saya lama. Kamu tidak harus menjadi orang besar untuk bahagia, katanya pelan. Kalimat itu tidak terdengar seperti nasihat, lebih seperti pengakuan.
Saya kembali ke Jakarta dengan keputusan yang sudah matang. Di tas kerja saya, ada surat pengunduran diri yang saya tulis di meja makan rumah, ditemani suara ayam berkokok. Saya tidak lagi ingin menukar waktu dengan orang tua demi angka angka yang tidak pernah selesai.
Pagi itu kantor tampak lebih ramai dari biasanya. Ada rapat umum seluruh pimpinan divisi. Saya duduk di baris tengah dengan jantung berdegup tidak teratur. Surat itu terasa berat di dalam map cokelat.
Direktur utama berdiri di depan ruangan. Ia berbicara tentang ekspansi besar besaran, tentang investor baru, tentang rencana membuka cabang di beberapa kota. Lalu ia menyebut nama saya.
Saya diminta berdiri. Dengan suara mantap ia mengumumkan bahwa saya ditunjuk sebagai direktur cabang Jakarta, menggantikan pejabat lama yang akan pindah ke luar negeri. Tepuk tangan memenuhi ruangan. Beberapa rekan menyalami saya dengan wajah iri sekaligus kagum.
Ironisnya, jabatan yang dulu saya kejar mati matian kini terasa seperti ujian terakhir.
Saya melangkah ke depan. Mikrofon terasa dingin di tangan. Dari pantulan layar besar di belakang ruangan, saya melihat bayangan diri sendiri. Jas rapi. Wajah tegang. Mata yang pernah begitu haus pengakuan.
Terima kasih atas kepercayaan ini, saya memulai. Namun sebelum saya menerima atau menolak, izinkan saya menyampaikan sesuatu.
Ruangan mendadak sunyi.
Saya mengeluarkan map cokelat dari tas. Saya datang ke sini hari ini dengan niat mengundurkan diri. Bukan karena saya tidak mampu, tetapi karena saya hampir kehilangan alasan mengapa saya bekerja.
Beberapa orang saling pandang. Direktur utama mengernyit.
Ayah saya hampir meninggal minggu lalu karena kelelahan. Ia bekerja di bengkel kecil seumur hidupnya dan selalu berhenti ketika merasa cukup. Saya tidak pernah belajar kata cukup. Saya hanya belajar mengejar.
Suara saya bergetar, tetapi saya tidak berhenti.
Saya sadar jabatan ini adalah impian banyak orang. Dulu juga impian saya. Tetapi jika untuk meraihnya saya harus terus menunda pulang, terus menukar waktu dengan keluarga, maka mungkin itu bukan bahagia yang saya cari.
Saya meletakkan surat itu di meja pimpinan. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada sorak. Hanya keheningan yang terasa panjang.
Saya berjalan keluar ruangan dengan langkah yang justru terasa ringan. Di lobi gedung, kaca tinggi memantulkan wajah saya. Tidak ada senyum lebar, hanya napas panjang yang lega.
Namun ketika pintu gedung terbuka dan udara pagi menyentuh wajah saya, ponsel saya bergetar.
Pesan dari ibu masuk. Ayah meninggal dunia subuh tadi.
Saya berhenti melangkah. Dunia seolah ditarik mundur beberapa detik. Huruf huruf di layar tampak kabur. Tadi malam saya masih sempat berbicara dengannya. Ia terdengar lebih segar.
Saya terduduk di bangku depan gedung kantor yang baru saja saya tinggalkan. Surat pengunduran diri sudah saya serahkan. Jabatan sudah saya lepaskan. Waktu yang ingin saya rebut kembali ternyata telah lebih dulu selesai.
Di tengah lalu lintas Jakarta yang bising, saya akhirnya mengerti sepenuhnya kalimat ayah.
Selesai satu, cukup untuk hari ini.
Bahagia memang sederhana. Tetapi menundanya terlalu lama adalah kemewahan yang tidak semua orang miliki.














