Agama  

Cahaya Waktu Bersama Alquran

banner 120x600

BuserNasional — Waktu yang kita habiskan bersama Alquran sering terasa singkat, bahkan kadang dianggap remeh dalam hiruk pikuk kehidupan. Namun di balik detik yang tampak sederhana itu, tersimpan nilai yang tak terukur. Ia adalah waktu yang diberkahi, menjadi bekal perjalanan panjang menuju kehidupan abadi, dan menghadirkan ketenangan yang tak bisa digantikan oleh apapun di dunia ini.

 

Ada saat-saat dalam hidup ketika manusia merasa lelah, resah, dan kehilangan arah. Dunia terasa sempit, langkah terasa berat, dan hati seakan dipenuhi kabut. Pada saat itulah Alquran hadir sebagai cahaya. Bukan sekadar bacaan, tetapi penuntun yang menghidupkan hati. Allah سبحانه وتعالى berfirman:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shad: 29).

Ayat ini menegaskan bahwa Alquran bukan sekadar untuk dibaca, tetapi untuk direnungi. Setiap hurufnya mengandung keberkahan, setiap ayatnya adalah petunjuk. Ketika seseorang meluangkan waktunya walau hanya beberapa menit untuk membaca Alquran, sejatinya ia sedang menanam benih-benih kebaikan yang kelak akan berbuah di hadapan Rabb-nya.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun mengingatkan tentang nilai besar dari setiap huruf yang dibaca:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلَامٌ حَرْفٌ، وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.” (HR. Tirmidzi).

 

Betapa agungnya balasan ini. Sesuatu yang tampak ringan di mata manusia, justru memiliki bobot besar di sisi Allah. Bacaan yang mungkin hanya berlangsung beberapa menit, ternyata menjadi investasi amal yang tak akan pernah merugi. Bahkan setiap hembusan napas saat membaca Alquran tercatat sebagai ibadah.

 

Lebih dari itu, Alquran juga menjadi sumber ketenangan hati. Allah berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).

 

Maka tidak heran, orang yang akrab dengan Alquran akan merasakan ketenangan yang berbeda. Bukan karena hidupnya tanpa masalah, tetapi karena hatinya memiliki tempat kembali. Setiap ayat yang dibaca seakan menjadi pelipur lara, penyejuk jiwa, dan penguat langkah.

 

Waktu bersama Alquran juga merupakan bentuk perdagangan dengan Allah yang tidak akan pernah merugi. Allah سبحانه وتعالى berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (QS. Fathir: 29).

Inilah hakikatnya. Tilawah bukan sekadar aktivitas, melainkan transaksi ruhani. Setiap ayat yang dilantunkan adalah bukti cinta seorang hamba kepada Rabb-nya. Dan setiap cinta yang tulus kepada Allah pasti akan dibalas dengan kebaikan yang berlipat.

Namun seringkali manusia lalai. Waktu berjam-jam dihabiskan untuk hal-hal yang tidak memberi manfaat, sementara Alquran hanya disentuh sesekali. Padahal, satu halaman yang dibaca dengan hati yang hadir jauh lebih berharga daripada banyak waktu yang terbuang tanpa arah.

Renungkanlah, ketika kelak seorang hamba berdiri di hadapan Allah, bukan harta yang ditanya pertama kali, bukan pula kedudukan. Tetapi amal-amal kecil yang dilakukan dengan ikhlas, termasuk waktu yang dihabiskan bersama Alquran. Di sanalah benih-benih yang ditanam di dunia akan mulai menampakkan buahnya.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ: اقْرَأْ وَارْقَ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا، فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

“Akan dikatakan kepada ahli Alquran: Bacalah dan naiklah, serta tartillah sebagaimana engkau membacanya di dunia, karena kedudukanmu berada pada akhir ayat yang engkau baca.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Hadis ini menggambarkan betapa mulianya orang yang dekat dengan Alquran. Setiap ayat yang dahulu ia baca di dunia akan menjadi tangga yang mengangkat derajatnya di akhirat. Maka, apakah masih pantas kita menganggap waktu bersama Alquran sebagai sesuatu yang sepele?

Sesungguhnya, menit-menit bersama Alquran bukanlah waktu yang hilang. Ia adalah umur yang diberkahi. Ia adalah cahaya yang menerangi jalan. Ia adalah bekal yang akan menyelamatkan. Dan di tengah dunia yang semakin bising, Alquran tetap menjadi suara kebenaran yang menenangkan.

Mulailah dari yang sedikit, tetapi istiqamah. Luangkan waktu walau hanya beberapa ayat setiap hari. Sebab bukan banyaknya yang dilihat Allah, tetapi keikhlasan dan kesungguhan. Dan siapa yang menjaga hubungannya dengan Alquran, niscaya Allah akan menjaga hidupnya, hatinya, dan akhir perjalanannya.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *