Banyak orang mengejar good looking hanya dengan skincare, fashion, dan filter kamera. Padahal Islam mengajarkan bahwa ketampanan dan kecantikan sejati bukan sekadar wajah, tetapi cahaya yang terpancar dari iman, kebersihan, akhlak, dan ibadah. Ketika tubuh dirawat dengan sunnah, hati dibersihkan dengan zikir, dan lisan dijaga dengan adab, maka wajah akan memancarkan pesona yang tidak bisa dibeli.
Dalam Islam, konsep good looking bukanlah semata-mata bentuk wajah yang simetris atau kulit yang putih bersih. Islam memandang keindahan sebagai kesatuan antara lahir dan batin. Ada orang yang wajahnya biasa saja, namun kehadirannya menyejukkan hati. Ada pula yang parasnya menawan, tetapi lisannya melukai dan akhlaknya merusak, sehingga keindahannya runtuh di mata manusia, apalagi di sisi Allah. Maka Islam mengajarkan bahwa glow up terbaik adalah glow up ruhani yang akan memantulkan cahaya pada wajah, tutur kata, dan sikap hidup.
Allah SWT menegaskan bahwa ukuran kemuliaan bukan pada rupa, melainkan pada takwa. Firman-Nya:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya: “Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (QS. Al-Hujurat: 13).
Rasulullah ﷺ juga menegaskan standar penilaian Allah bukan fisik semata. Dalam hadis sahih disebutkan:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَىٰ صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَٰكِنْ يَنْظُرُ إِلَىٰ قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kalian dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati kalian dan amal kalian.” (HR. Muslim).
Hadis ini seperti menampar kesadaran kita bahwa wajah yang cantik tanpa iman hanyalah tampilan luar yang rapuh, sedangkan hati yang bersih akan membuat wajah bersinar dengan cara yang Allah sendiri hadiahkan.
Salah satu amalan yang disebutkan dalam pesan di atas adalah mandi sebelum subuh. Mandi atau bersuci di waktu dini hari adalah bentuk kesungguhan menjaga kebersihan. Islam sangat mencintai kebersihan, karena kebersihan adalah bagian dari iman. Rasulullah ﷺ bersabda:
الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيمَانِ
Artinya: “Bersuci itu sebagian dari iman.” (HR. Muslim).
Mandi sebelum subuh memang bukan kewajiban, namun kebiasaan ini melatih disiplin, menyegarkan tubuh, dan memberi energi untuk memulai hari dengan ibadah. Wajah yang segar di pagi hari adalah pantulan dari tubuh yang bersih dan jiwa yang siap menyambut Allah.
Lalu ada kebiasaan mengaji setelah subuh dan maghrib. Ini bukan sekadar rutinitas, melainkan cara Allah menumbuhkan cahaya ilmu di dalam dada. Allah SWT berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11).
Orang yang dekat dengan Al-Qur’an akan terlihat berbeda, bukan karena make up, tetapi karena hatinya punya arah. Ketika seseorang rajin membaca Al-Qur’an, pikirannya lebih jernih, emosinya lebih stabil, dan tutur katanya lebih terjaga. Itulah kecantikan yang membuat orang lain hormat dan nyaman.
Kemudian shalat tahajud, ibadah yang sering disebut sebagai rahasia para kekasih Allah. Tahajud bukan hanya mendatangkan rezeki, tetapi juga menumbuhkan keteduhan pada wajah. Allah SWT memuji orang yang bangun malam dalam firman-Nya:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا
Artinya: “Dan pada sebagian malam, bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra’: 79).
Tahajud membentuk wajah yang bersinar bukan karena cahaya lampu, tetapi karena air mata yang jatuh dalam doa dan sujud. Orang yang tahajud biasanya lebih lembut hatinya, lebih tenang pikirannya, dan lebih kuat menahan hawa nafsu.
Berwudhu sebelum tidur juga menjadi salah satu kunci glow up menurut Islam. Wudhu adalah cara menyucikan diri sekaligus menjaga jiwa. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ
Artinya: “Jika engkau hendak tidur, maka berwudhulah sebagaimana wudhu untuk shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Orang yang tidur dalam keadaan suci seperti menyerahkan dirinya kepada Allah dengan bersih, dan efeknya terasa pada batin. Hati lebih ringan, tidur lebih tenang, dan bangun lebih segar. Dari sinilah wajah tampak lebih bercahaya, karena kedamaian batin selalu mempengaruhi raut muka.
Islam juga mengajarkan berpakaian nyaman, bukan sekadar mengikuti tren. Pakaian dalam Islam bukan hanya fashion, tetapi penjagaan kehormatan. Allah SWT berfirman:
يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ
Artinya: “Wahai anak Adam! Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan untuk perhiasan. Tetapi pakaian takwa itulah yang lebih baik.” (QS. Al-A’raf: 26).
Tren berubah setiap musim, tetapi rasa nyaman dan adab tidak pernah kadaluarsa. Ketika seseorang memakai pakaian yang pantas, bersih, dan menutup aurat, ia akan terlihat berwibawa. Good looking dalam Islam adalah tampil layak tanpa berlebihan dan tanpa pamer.
Selanjutnya, menjaga lisan. Banyak orang berwajah tampan, tetapi ketika berbicara, semuanya runtuh. Islam memandang lisan sebagai cermin hati. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Diam yang menjaga kehormatan lebih indah daripada kata-kata yang melukai. Orang yang menjaga lisan akan terlihat berkelas, berwibawa, dan lebih dihormati. Inilah bentuk kecantikan akhlak yang tidak bisa ditiru oleh kosmetik mana pun.
Puasa Ayyamul Bidh tiga hari setiap bulan juga merupakan cara Islam membentuk kecantikan yang lahir dari pengendalian diri. Puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga membersihkan jiwa. Rasulullah ﷺ bersabda:
صِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ صِيَامُ الدَّهْرِ كُلِّهِ
Artinya: “Puasa tiga hari setiap bulan adalah seperti puasa sepanjang tahun.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ayyamul Bidh dilakukan pada tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriah. Puasa ini melatih disiplin, menyehatkan badan, serta menenangkan hati. Banyak orang merasakan wajah lebih cerah karena tubuh lebih terjaga dan dosa lebih terampuni.
Kemudian shalawat, amalan ringan yang membuat seseorang terlihat “good looking” di mata Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT sendiri memerintahkan shalawat dalam Al-Qur’an:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56).
Shalawat itu seperti parfum ruhani. Lisan yang sering bershalawat akan terasa lebih lembut, hati lebih lapang, dan hidup lebih tenang. Ketika seseorang banyak shalawat, Allah limpahkan keberkahan yang terlihat dalam ekspresi wajahnya.
Rasulullah ﷺ juga bersabda tentang keutamaan shalawat:
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا
Artinya: “Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim).
Bayangkan, satu shalawat dibalas sepuluh rahmat. Rahmat Allah itu bukan hanya urusan akhirat, tetapi juga ketenangan jiwa yang memancar di wajah. Banyak orang terlihat menawan bukan karena garis rahang, tetapi karena rahmat Allah yang meneduhkan.
Jika semua amalan ini disatukan, maka kita akan paham bahwa Islam mengajarkan glow up yang lengkap: kebersihan tubuh, kedisiplinan ibadah, ketenangan jiwa, dan akhlak yang terjaga. Good looking bukan soal menjadi pusat perhatian manusia, tetapi menjadi pribadi yang diridhai Allah. Ketika Allah ridha, manusia pun akan merasakan daya tarik itu tanpa bisa menjelaskan alasannya. Itulah pesona iman.
Maka jangan merasa minder jika wajahmu tidak sesuai standar media sosial. Jangan pula sombong jika parasmu dipuji banyak orang. Karena standar Islam bukan “siapa paling cantik”, melainkan “siapa paling dekat kepada Allah”. Jadikan mandi, wudhu, tahajud, ngaji, puasa, pakaian yang pantas, menjaga lisan, dan shalawat sebagai rutinitas hidup. Jika istiqamah, insyaAllah wajahmu akan memancarkan cahaya yang tidak bisa dipalsukan, karena ia datang langsung dari langit.














