Adab Sosial Dalam Pandangan Islam

banner 120x600

Islam menegakkan peradaban manusia di atas fondasi akhlak dan penghormatan antar sesama. Dalam kehidupan sosial, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari rupa, status, atau harta, melainkan dari ketakwaannya. Karena itu, setiap bentuk merendahkan, mengejek, atau menghina sesama manusia adalah perbuatan yang dapat merusak nilai ibadah dan menghapus keberkahan hubungan sosial. Banyak orang tidak sadar bahwa lisannya dapat menjadi sebab turunnya murka Allah, padahal di sisi Allah, yang tampak hina di mata manusia bisa saja lebih mulia kedudukannya. Inilah pelajaran penting tentang adab sosial yang harus dijaga oleh setiap mukmin dalam kehidupan sehari-hari agar tidak terjerumus dalam kesombongan dan meremehkan orang lain.

Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, boleh jadi mereka (yang direndahkan) lebih baik daripada mereka (yang merendahkan). Dan jangan pula perempuan-perempuan merendahkan perempuan lain, boleh jadi perempuan yang direndahkan lebih baik daripada yang merendahkan. Janganlah kamu saling mencela dan jangan saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujurat: 11)

Ayat ini menegaskan bahwa ukuran kemuliaan tidak berada di tangan manusia, melainkan Allah yang Maha Mengetahui isi hati hamba-Nya. Sering kali seseorang merasa lebih tinggi karena jabatan, kecerdasan, atau kekayaan, padahal Allah bisa meninggikan derajat orang lain yang tampak sederhana namun memiliki hati yang bersih dan ketakwaan yang lebih dalam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

حَسْبُ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ

Artinya: “Cukuplah seseorang dianggap buruk apabila ia meremehkan saudaranya sesama Muslim.” (HR. Muslim)

Hadis ini memberikan peringatan keras bahwa merendahkan orang lain bukanlah perkara ringan. Ia bisa menjadi tanda kerusakan hati yang menghapus cahaya keimanan secara perlahan. Sebab, ketika seseorang sudah terbiasa melihat orang lain dengan pandangan hina, maka ia telah menutup pintu untuk melihat kebenaran dalam dirinya sendiri.

Dalam hadis lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

Artinya: “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji zarrah.” (HR. Muslim)

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, ada seseorang yang suka memakai pakaian bagus dan sandal yang bagus, apakah itu termasuk kesombongan?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.”

Dari sini kita memahami bahwa penyakit hati yang paling berbahaya dalam relasi sosial adalah kesombongan yang melahirkan penghinaan kepada sesama.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali manusia tanpa sadar melukai orang lain dengan kata-kata. Padahal satu kalimat yang merendahkan bisa meninggalkan luka yang panjang di hati seseorang. Islam tidak hanya mengatur ibadah ritual, tetapi juga mengajarkan etika dalam berbicara, bersikap, dan menilai orang lain. Bahkan diam yang menjaga perasaan orang lain lebih mulia daripada ucapan yang menyakitkan.

Ketika seseorang mampu menahan lisannya dari merendahkan orang lain, maka ia sedang menjaga kemurnian imannya. Sebab iman tidak hanya berada di dalam hati, tetapi tercermin dalam cara seseorang memperlakukan manusia lainnya.

Maka sudah seharusnya setiap mukmin melakukan muhasabah diri sebelum berbicara tentang orang lain. Karena boleh jadi orang yang kita remehkan justru memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah. Dan boleh jadi kita yang merasa lebih baik justru sedang berada dalam keadaan lalai dari rahmat-Nya.

Islam mengajarkan bahwa kemuliaan sejati lahir dari hati yang tawadhu’, bukan dari lisan yang merendahkan. Barang siapa menjaga lisannya, maka Allah akan menjaga kehormatan dirinya di dunia dan akhirat.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *