Ikan Sapu Sapu Antara Bertahan dan Risiko

banner 120x600

Di bantaran Kali Ciliwung kawasan Kramat Jati aktivitas warga menangkap ikan sapu sapu berlangsung nyaris tanpa jeda. Di tengah air yang keruh dan berbau lumpur, jaring diangkat perlahan, memperlihatkan puluhan ikan berwarna gelap yang selama ini dikenal sebagai hama perairan. Namun bagi sebagian warga, ikan itu bukan lagi gangguan, melainkan sumber penghidupan yang nyata dan segera.

 

Laporan Kompas.com berjudul “Daging Ikan Sapu Sapu di Kali Ciliwung Jaktim Dijual untuk Siomay dan Pakan” yang terbit pada 17 April 2026 mencatat bahwa warga dapat menangkap hingga 100 kilogram ikan sapu sapu per hari. Ikan tersebut kemudian dijual dengan kisaran harga Rp15.000 hingga Rp20.000 per kilogram. Fakta ini menunjukkan adanya aktivitas ekonomi yang terbentuk dari kondisi lingkungan yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.

 

Di lapangan, realitas tidak sesederhana angka. Dari jumlah tangkapan yang besar itu, tidak seluruh bagian ikan dapat dimanfaatkan sebagai bahan konsumsi. Warga umumnya hanya mengambil bagian tertentu yang dianggap layak, sementara sisanya menjadi limbah. Situasi ini memperlihatkan adanya inefisiensi sekaligus paradoks, di mana sumber daya dimanfaatkan namun sekaligus menyisakan persoalan baru bagi lingkungan sekitar.

 

Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari tekanan ekonomi yang dihadapi masyarakat urban pinggiran. Bagi sebagian warga, pilihan pekerjaan sangat terbatas. Sungai yang tercemar justru menjadi ruang ekonomi alternatif. Dalam konteks ini, aktivitas menangkap ikan sapu sapu bukan sekadar pilihan, melainkan bentuk adaptasi terhadap kondisi hidup yang serba sempit dan tidak pasti.

 

Namun persoalan menjadi lebih kompleks ketika ikan tersebut masuk ke rantai konsumsi manusia. Dalam laporan Kompas.com disebutkan bahwa ikan sapu sapu dimanfaatkan sebagai bahan campuran siomay selain untuk pakan ternak. Informasi ini memunculkan kekhawatiran publik, terutama terkait keamanan pangan dan transparansi bahan baku yang digunakan oleh pelaku usaha makanan.

 

Secara ilmiah, ikan sapu sapu dikenal sebagai ikan yang hidup di dasar perairan dan mengonsumsi material organik serta limbah. Kondisi habitat seperti Kali Ciliwung yang mengalami pencemaran menimbulkan kemungkinan adanya akumulasi zat tertentu dalam tubuh ikan. Namun hingga kini, tidak semua kekhawatiran yang beredar di masyarakat didukung oleh data ilmiah yang terverifikasi secara spesifik untuk kasus ini. Karena itu, penting membedakan antara potensi risiko dan fakta yang telah teruji.

 

Reaksi publik yang berkembang di media sosial menunjukkan adanya kecemasan yang cukup tinggi. Seruan untuk berhenti mengonsumsi siomay hingga tudingan bahwa ikan tersebut berbahaya mencerminkan krisis kepercayaan terhadap keamanan pangan. Dalam situasi minim informasi yang jelas, persepsi sering kali berkembang lebih cepat daripada fakta.

 

Di sisi lain, pelaku usaha kecil dan warga yang bergantung pada aktivitas ini berada dalam posisi yang tidak mudah. Mereka menghadapi kebutuhan ekonomi harian yang mendesak, sementara regulasi dan pengawasan belum sepenuhnya hadir secara efektif di tingkat akar rumput. Ketegangan antara kebutuhan bertahan hidup dan tuntutan standar kesehatan menjadi realitas yang tidak bisa dihindari.

 

Persoalan ini juga membuka ruang refleksi yang lebih luas tentang tata kelola lingkungan perkotaan. Sungai yang tercemar tidak hanya berdampak pada ekosistem, tetapi juga membentuk pola ekonomi yang berisiko. Ketika kualitas lingkungan menurun, pilihan ekonomi masyarakat ikut terdorong ke arah yang tidak selalu aman atau berkelanjutan.

 

Karena itu, solusi tidak cukup hanya berupa larangan atau imbauan. Diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif, mulai dari perbaikan kualitas air sungai, edukasi masyarakat tentang keamanan pangan, hingga penyediaan alternatif mata pencaharian yang lebih layak. Tanpa itu, praktik seperti ini akan terus berulang sebagai konsekuensi logis dari ketimpangan yang ada.

 

Pada akhirnya, kisah ikan sapu sapu di Kali Ciliwung adalah potret tentang bagaimana masyarakat bertahan di tengah keterbatasan. Ia bukan semata soal apa yang dikonsumsi, tetapi juga tentang bagaimana pilihan pilihan itu terbentuk. Di antara kebutuhan hidup dan risiko yang mengintai, pertanyaan yang tersisa menjadi semakin mendasar sejauh mana sistem yang ada mampu melindungi warganya tanpa mengabaikan realitas yang mereka hadapi setiap hari.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *