Lingkaran yang Menyempit di Usia Senja

banner 120x600

Semakin bertambah umur, aku mulai memahami bahwa kualitas orang orang di sekelilingku diam diam membentuk arah hidupku, menenangkan pikiranku, dan menjaga kewarasanku. Kesadaran itu datang tidak sekaligus, melainkan tumbuh perlahan seiring waktu yang berjalan tanpa henti dan sering tak kusadari sejak dulu hingga kini.

Aku masih ingat sore itu ketika hujan turun tipis seperti bisikan yang enggan terdengar jelas. Dari balik jendela ruang kerja yang mulai sepi, aku memandangi halaman kantor yang perlahan basah. Di usia yang tidak lagi muda, ada semacam kesadaran baru yang tumbuh pelan dalam diriku.

Dulu aku tidak terlalu peduli siapa yang datang dan pergi. Selama mereka tersenyum, selama mereka tertawa bersamaku, kupikir itu sudah cukup. Hidup terasa ramai, dan keramaian selalu kusalahartikan sebagai kebahagiaan.

Namun waktu adalah guru yang sabar.

Satu per satu orang yang dulu sering duduk di meja yang sama mulai menghilang. Ada yang pindah kota, ada yang sibuk dengan keluarganya, dan ada pula yang diam diam menjauh tanpa alasan yang pernah benar benar kupahami. Yang tersisa hanya lingkaran kecil, jauh lebih kecil dari yang pernah kubayangkan.

Aneh, justru di situlah aku mulai merasa lebih tenang.

Di antara mereka yang tersisa, ada Rendra, tetangga yang tak pernah banyak bicara tetapi selalu muncul saat aku membutuhkan bantuan. Ada Bu Sari, penjaga warung pojok yang hafal kebiasaanku membeli kopi tanpa gula. Dan ada satu orang lagi yang paling sering hadir dalam hari hariku, meski keberadaannya nyaris tak pernah kusadari oleh orang lain.

Namanya Arman.

Kami bertemu secara tidak sengaja di sebuah forum komunitas beberapa tahun lalu. Sejak itu, ia seperti selalu ada di sekitarku. Kadang mengirim pesan singkat menanyakan kabar. Kadang muncul membawa makanan ketika aku lembur. Kadang hanya duduk diam menemaniku tanpa banyak tanya.

“Lingkungan itu pelan membentuk kita,” katanya suatu malam ketika kami duduk di bangku taman yang mulai berkarat.

Aku mengangguk waktu itu, meski belum sepenuhnya mengerti.

Hari hari berjalan, dan aku mulai merasakan perubahan dalam diriku. Aku lebih jarang marah, lebih mudah tidur, dan anehnya pikiranku terasa lebih ringan. Seperti ada beban yang diam diam diangkat oleh tangan tak terlihat.

Aku mulai percaya bahwa dikelilingi orang orang baik memang bisa menyelamatkan banyak hal dalam hidup.

Hingga suatu pagi, semuanya berubah.

Aku datang ke kantor lebih awal dari biasanya. Meja kerjaku rapi, terlalu rapi. Tidak ada gelas kopi yang biasanya sudah disiapkan setiap Senin pagi. Tidak ada pesan singkat di ponselku. Tidak ada kabar.

Aku menunggu.

Siang datang, lalu sore. Arman tidak muncul.

Perasaan gelisah yang lama tak kurasakan tiba tiba merayap pelan di dada. Aku mencoba menghubunginya. Nomornya tidak aktif. Aku mencoba bertanya pada Rendra.

“Arman?” Rendra mengernyit. “Siapa?”

Aku tertawa kecil, mengira ia bercanda. “Temanku. Yang sering ke rumahku.”

Rendra menggeleng pelan. Wajahnya tampak sungguh sungguh bingung.

Ada sesuatu yang dingin merambat di punggungku.

Aku pergi ke warung Bu Sari, berharap setidaknya ia mengenal nama itu. Perempuan tua itu menatapku cukup lama sebelum menjawab pelan.

“Sejak dulu Bapak selalu sendiri kalau ke sini.”

Kalimat itu jatuh seperti batu.

Aku pulang dengan langkah lebih cepat dari biasanya. Jantungku berdetak tidak wajar. Setibanya di rumah, aku langsung membuka laci meja kerja, tempat aku biasa menyimpan catatan kecil dari Arman.

Kosong.

Aku membuka galeri ponsel, mencari foto kami. Tidak ada. Satu pun tidak ada.

Tanganku mulai gemetar.

Dengan napas tertahan, aku berjalan menuju cermin besar di ruang tamu. Untuk beberapa detik aku hanya menatap bayanganku sendiri yang terlihat jauh lebih lelah dari yang kuingat.

Lalu aku melihat sesuatu yang membuat lututku hampir lemas.

Di meja belakangku, yang selama ini selalu ditempati Arman setiap kali berkunjung, hanya ada satu kursi.

Selalu satu kursi.

Kenangan percakapan kami berkelebat cepat di kepalaku. Cara ia selalu memahami pikiranku. Cara ia selalu tahu kapan aku butuh ditemani. Cara ia selalu mengatakan kalimat yang tepat di waktu yang tepat.

Perlahan, potongan kesadaran yang selama ini tercerai berai mulai menyatu.

Arman tidak pernah benar benar datang.

Ia lahir dari kesepianku yang terlalu lama kupendam.

Ia tumbuh dari kebutuhan diam diam untuk dikelilingi kebaikan.

Dan kini, ketika aku akhirnya benar benar memiliki lingkaran orang orang baik di sekitarku, ia tidak lagi dibutuhkan.

Aku berdiri lama di depan cermin, menatap diriku sendiri dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Di luar, hujan kembali turun tipis.

Untuk pertama kalinya, kesunyian tidak terasa menakutkan.

Tetapi jauh di dalam dada, ada satu ruang kecil yang tiba tiba terasa sangat kehilangan.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *