Malam itu Darto mengira peringatan dokter hanyalah cerita menakutkan yang dibesar besarkan. Sampai sebuah antrean panjang di ruang cuci darah membuatnya sadar bahwa ancaman yang sering dianggap jauh sebenarnya sedang berjalan pelan, diam diam, dan mungkin sudah lebih dekat daripada yang pernah ia bayangkan. Ia belum tahu, malam itu diam diam sedang menghitung sisa waktu tubuhnya sendiri.
Darto masih mengingat jelas suara sendok beradu dengan gelas kopi gula aren sore itu.
“Ah, lebay banget sih, Ka. Kita masih muda,” kata Dimas sambil tertawa, mengangkat gelas boba ukuran besar.
Darto ikut tertawa. Ia sendiri baru saja menghabiskan teh manis dingin kedua hari itu. Di meja mereka berjejer minuman warna warni seperti pajangan.
Saat itu semuanya terasa normal.
Sangat normal.
Beberapa bulan kemudian, Darto duduk di ruang tunggu rumah sakit. Bukan sebagai pasien. Ia hanya menemani pamannya yang harus cuci darah rutin.
Awalnya ia mengira ruangan itu akan dipenuhi orang tua.
Ia salah.
Ada pria berjaket kampus.
Ada perempuan muda masih memakai seragam kantor.
Bahkan ada anak yang wajahnya belum lepas dari jerawat remaja.
Perut Darto mengencang.
“Sekarang makin muda yang kena,” kata perawat ramah ketika melihat ekspresi kagetnya.
Kalimat itu menempel lebih lama dari yang ia kira.
Namun tetap saja ia mengusirnya pergi.
Hari hari Darto berjalan seperti biasa.
Pagi kopi susu.
Siang es teh manis.
Sore nongkrong.
Malam mi instan.
Air putih hanya ia minum kalau benar benar haus.
Ia juga punya kebiasaan yang selalu ia anggap sepele. Menahan pipis. Terutama saat sedang mengejar kerjaan atau malas ke toilet.
“Bentar lagi,” begitu selalu katanya pada tubuhnya sendiri.
Tubuhnya selalu menurut.
Sampai suatu malam.
Darto terbangun dengan rasa perih saat buang air kecil.
Ia meringis lama di kamar mandi.
“Paling kurang minum,” gumamnya, mencoba terdengar santai bahkan pada dirinya sendiri.
Ia minum lebih banyak keesokan hari. Lalu kembali ke kebiasaan lama. Begadang. Kopi. Minuman manis. Deadline.
Beberapa minggu kemudian, tubuhnya mulai mudah lelah.
Ia menyalahkan pekerjaan.
Beberapa minggu lagi, sepatunya terasa lebih sempit di malam hari. Ketika dilepas, pergelangan kakinya tampak sedikit bengkak.
Ia menatapnya lama di depan cermin.
Lalu tertawa kecil.
“Kurang olahraga,” katanya cepat, seolah vonis itu cukup untuk menutup kegelisahan yang mulai merayap.
Namun sejak malam itu, ada sesuatu yang berubah.
Ia mulai lebih cepat terengah saat naik tangga. Kepalanya kadang ringan seperti kapas. Fokusnya pecah pecah saat bekerja.
Dan untuk pertama kalinya, Darto mulai takut.
Ia menunda periksa.
Selalu ada alasan.
Selalu ada nanti.
Sampai pagi itu datang.
Darto sedang di kantor ketika pandangannya tiba tiba berkunang. Layar komputer di depannya seperti menjauh perlahan.
Ia sempat meraih meja.
Lalu gelap.
Ketika sadar, ia sudah di IGD.
Dan untuk pertama kalinya, ia mendengar kalimat yang membuat dadanya terasa kosong.
“Kreatinin kamu tinggi, Darto.”
Dokter menjelaskan panjang lebar. Tentang ginjal. Tentang kerusakan yang sering berjalan diam diam. Tentang gaya hidup.
Kali ini Darto tidak bisa lagi pura pura santai.
“Masih bisa sembuh, Dok?” suaranya serak.
Dokter terdiam sepersekian detik terlalu lama.
“Kita coba stabilkan dulu, ya.”
Jawaban yang terdengar lembut.
Tapi tidak benar benar menenangkan.
Beberapa hari kemudian, Darto kembali ke rumah sakit yang sama.
Kali ini bukan sebagai pendamping.
Ia duduk di kursi antrean.
Persis seperti yang dulu ia lihat.
Lampu ruang cuci darah terasa terlalu putih. Udara terlalu dingin.
Di tangannya ada botol air putih yang hampir penuh.
Ironis sekali.
Ia teringat semua peringatan yang dulu ia anggap berisik.
Tentang gula.
Tentang garam.
Tentang kurang minum.
Tentang jangan menahan pipis.
Tentang jangan datang ke dokter saat sudah terlambat.
Semuanya sekarang datang bersamaan.
Terlambat.
“Mas Darto?”
Suara perawat memanggil.
Ia berdiri. Lututnya terasa lebih lemah dari yang ia akui.
Saat melewati deretan kursi, matanya tanpa sengaja bertemu dengan seorang anak laki laki yang duduk ditemani ibunya.
Masih muda.
Anak itu tersenyum tipis pada Darto.
Senyum yang anehnya terasa… familiar.
Seperti sedang melihat masa depan yang bocor terlalu cepat.
Darto berbaring di ranjang tindakan. Mesin di sampingnya mulai bersuara pelan seperti napas logam yang sabar.
Perawat memasang jarum dengan hati hati.
“Masih tahap awal, ya. Kita coba stabilkan dulu,” katanya lembut.
Darto mengangguk.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar benar menyesal telah terlalu sering berkata nanti.
Ia menatap langit langit putih.
Lalu menutup mata.
Beberapa jam kemudian, ponsel Darto bergetar di saku jaket yang tergantung di kursi.
Nama yang muncul di layar: Dimas.
Pesan masuk.
Ka, gue lagi di rumah sakit juga.
Mau jenguk paman gue.
Katanya sekarang banyak anak muda kena ginjal ya. Ngeri juga.
Ponsel itu terus bergetar pelan.
Tidak ada yang menjawab.
Tidak ada yang membaca.
Karena di dalam ruang cuci darah itu, monitor di samping ranjang Darto baru saja mengeluarkan bunyi panjang yang datar.














