BuserNasional — Ada ujian yang tidak memakai soal pilihan ganda, tetapi mengguncang batin manusia sampai ke akar. Ujian itu bernama: menerima atau menolak kenabian Muhammad ﷺ. Ia bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan pertarungan logika, kejujuran, dan kerendahan hati. Sebab risalah Islam bukan muncul tiba-tiba, tetapi menyambung rantai tauhid sejak Nabi Ibrahim hingga Nabi Isa عليه السلام.
Islam sering disalahpahami sebagai agama yang “baru muncul” pada abad ke-7. Padahal jika kita jujur membaca sejarah wahyu, kita akan mendapati bahwa Islam bukan agama baru, melainkan agama yang sama sejak awal manusia diciptakan: agama tauhid. Agama tunduk dan patuh kepada Allah. Islam bukan sekadar nama, tetapi hakikat kepasrahan total kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena itulah risalah para nabi tidak pernah berbeda dalam inti, meskipun syariatnya bisa berubah sesuai zaman. Allah menegaskan bahwa agama di sisi-Nya adalah Islam. Allah berfirman:
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam.”
(QS. Ali ‘Imran: 19)
Sejak Nabi Ibrahim عليه السلام, manusia diajak kembali kepada satu titik: hanya Allah yang layak disembah. Ibrahim menghancurkan berhala bukan sekadar menghancurkan patung, tetapi menghancurkan kesombongan manusia yang ingin membuat tuhan sesuai seleranya. Lalu datang Musa عليه السلام membawa Taurat, Isa عليه السلام membawa Injil, dan puncaknya Muhammad ﷺ membawa Al-Qur’an. Rantai itu bukan rantai yang terputus. Ia bersambung seperti mata air yang mengalir, dari satu nabi ke nabi berikutnya. Allah menyebut Islam sebagai kelanjutan dari agama Ibrahim. Firman Allah:
مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ ۚ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِن قَبْلُ
“(Ikutilah) agama ayah kalian Ibrahim. Dialah yang telah menamai kalian orang-orang Muslim sejak dahulu.”
(QS. Al-Hajj: 78)
Karena itu, menerima Nabi Musa dan Nabi Isa tetapi menolak Nabi Muhammad ﷺ sebenarnya bukan sikap netral. Itu berarti memutus mata rantai yang Allah sendiri sambungkan. Bahkan Al-Qur’an menegaskan bahwa orang yang membeda-bedakan rasul, menerima sebagian dan menolak sebagian, sesungguhnya ia jatuh pada kekafiran yang nyata. Allah berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا أُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membeda-bedakan antara Allah dan rasul-rasul-Nya, serta berkata: ‘Kami beriman kepada sebagian dan kafir kepada sebagian yang lain,’ dan mereka bermaksud mengambil jalan di antara itu, mereka itulah orang-orang kafir yang sebenar-benarnya.”
(QS. An-Nisa: 150–151)
Namun ujian terbesar bukan hanya soal sejarah kenabian, melainkan soal Al-Qur’an. Kitab ini turun selama 23 tahun, bukan dalam ruang kelas, bukan dalam suasana damai, melainkan dalam kondisi penuh tekanan: perang, boikot, hijrah, fitnah, kehilangan, dan ancaman pembunuhan. Lebih mengejutkan lagi, Al-Qur’an diturunkan kepada seorang nabi yang ummi tidak membaca dan tidak menulis. Allah menegaskan:
وَمَا كُنتَ تَتْلُو مِن قَبْلِهِ مِن كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ إِذًا لَّارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ
“Dan engkau (Muhammad) tidak pernah membaca suatu kitab sebelumnya, dan tidak (pernah) menulisnya dengan tangan kananmu; seandainya demikian, niscaya ragu orang-orang yang mengingkari.”
(QS. Al-‘Ankabut: 48)
Jika Al-Qur’an hanyalah karya manusia, seharusnya ia penuh kontradiksi. Sebab manusia mudah lupa, mudah berubah pendapat, mudah dipengaruhi suasana. Tetapi Al-Qur’an tetap kokoh, konsisten, dan saling menguatkan. Allah bahkan menantang manusia dengan tantangan yang tidak pernah dicabut sampai hari kiamat. Firman Allah:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
“Maka tidakkah mereka merenungkan Al-Qur’an? Seandainya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, niscaya mereka akan menemukan banyak pertentangan di dalamnya.”
(QS. An-Nisa: 82)
Tidak berhenti di situ. Allah membuat tantangan terbuka: jika manusia ragu, buatlah satu surah saja yang setara. Satu surah, bukan satu mushaf. Satu surah, bukan satu juz. Dan tantangan itu disampaikan bukan kepada bangsa Arab saja, tetapi kepada seluruh manusia. Firman Allah:
وَإِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُم مِّن دُونِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
“Dan jika kalian ragu tentang apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisalnya dan panggillah penolong-penolong kalian selain Allah, jika kalian orang-orang yang benar.”
(QS. Al-Baqarah: 23)
Tantangan ini bukan tantangan kosong. Sudah lebih dari 14 abad berlalu. Banyak orang memusuhi Islam, banyak kekuatan besar ingin meruntuhkan Al-Qur’an, tetapi tidak satu pun mampu menandingi susunannya, kekuatan bahasanya, kedalaman maknanya, serta pengaruhnya terhadap jiwa manusia. Bahkan orang yang tidak mengerti bahasa Arab pun sering menangis ketika mendengarnya, karena Al-Qur’an tidak hanya menembus telinga, tetapi menembus fitrah.
Namun bukti paling nyata dari kenabian Muhammad ﷺ bukan hanya Al-Qur’an, melainkan perubahan manusia. Karena agama yang benar pasti melahirkan dampak nyata. Mari kita jujur melihat jazirah Arab sebelum Islam. Perempuan dianggap hina, bahkan dikubur hidup-hidup karena dianggap aib. Allah menggambarkan kebiadaban itu:
وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ بِأَيِّ ذَنبٍ قُتِلَتْ
“Dan apabila bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh.”
(QS. At-Takwir: 8–9)
Budak diperlakukan seperti barang dagangan. Suku-suku saling membunuh hanya karena fanatisme kabilah. Manusia hidup tanpa arah, tanpa tujuan akhirat. Lalu datang Islam. Dalam waktu 23 tahun, lahir generasi yang paling mengagumkan dalam sejarah. Orang yang dulu mabuk, berubah menjadi ahli ibadah. Orang yang dulu kejam, berubah menjadi penyayang. Orang yang dulu menindas, berubah menjadi pelindung kaum lemah. Islam mengangkat martabat perempuan, memuliakan budak, dan menegakkan persaudaraan melampaui warna kulit.
1 spasi
Nabi Muhammad ﷺ menegaskan kesetaraan manusia dalam khutbahnya yang terkenal. Dalam hadis riwayat Ahmad, beliau bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ، وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ، أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى عَجَمِيٍّ، وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ، وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ، وَلَا لِأَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ، إِلَّا بِالتَّقْوَى
“Wahai manusia, sesungguhnya Tuhan kalian satu, dan bapak kalian satu. Ketahuilah, tidak ada keutamaan orang Arab atas non-Arab, tidak pula non-Arab atas Arab, tidak pula yang berkulit merah atas yang berkulit hitam, dan tidak pula yang berkulit hitam atas yang berkulit merah, kecuali dengan takwa.”
(HR. Ahmad)
Ini revolusi moral yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia biasa, apalagi dalam waktu singkat. Revolusi politik bisa dipaksakan dengan senjata, tetapi revolusi akhlak tidak bisa dipaksa. Akhlak hanya bisa lahir dari keyakinan yang menancap di dada. Karena itu, perubahan yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ adalah bukti yang hidup. Ia bukan sekadar catatan sejarah, tetapi fakta sosial yang bisa diteliti.
Lebih dari itu, pribadi Nabi Muhammad ﷺ sendiri adalah bukti yang sulit dibantah. Beliau dikenal sebagai Al-Amin, orang yang paling jujur bahkan sebelum kenabian. Tidak ada riwayat bahwa beliau pernah berdusta dalam urusan dunia, lalu tiba-tiba berdusta atas nama langit. Mustahil. Karena kebohongan kecil saja meruntuhkan kepercayaan, apalagi kebohongan yang mengklaim wahyu.
1 spasi
Dalam hadis sahih, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
“Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.”
(HR. البخاري dan مسلم)
Hadis ini menunjukkan betapa Islam menutup rapat pintu kebohongan. Bahkan berdusta atas nama Nabi bukan dosa ringan, tetapi ancaman neraka. Ini menegaskan bahwa Islam berdiri di atas kejujuran, bukan manipulasi.
Akhirnya kita sampai pada kesimpulan yang jernih: kenabian Muhammad ﷺ tidak berdiri di atas satu bukti, melainkan tiga pilar yang saling menguatkan. Pertama, kesinambungan sejarah para nabi dari Ibrahim hingga Isa. Kedua, Al-Qur’an yang tidak tertandingi, konsisten, dan menantang manusia sepanjang masa. Ketiga, perubahan nyata manusia yang lahir dari risalah Islam dalam waktu yang singkat namun berdampak global.
Maka menolak Nabi Muhammad ﷺ pada zaman ini, sebenarnya bukan karena kurang bukti. Tetapi karena manusia enggan tunduk. Karena menerima kebenaran berarti menundukkan ego, mengakui kesalahan, dan siap mengubah hidup. Padahal Allah sudah mengingatkan bahwa kebenaran itu jelas, namun tidak semua orang mau menerimanya. Allah berfirman:
فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
“Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang ada di dalam dada.”
(QS. Al-Hajj: 46)
Ujian kenabian ini memang sederhana, tetapi mengguncang. Sebab ia memaksa manusia memilih: menjadi hamba Allah yang jujur, atau menjadi hamba ego yang keras kepala. Dan pada akhirnya, kebenaran tidak butuh kita untuk membelanya. Kitalah yang butuh kebenaran itu agar hidup kita tidak berakhir sia-sia. Sebab Islam bukan sekadar agama ritual, tetapi jalan pulang menuju Allah. Dan Nabi Muhammad ﷺ adalah penunjuk jalan terakhir yang tidak mungkin diabaikan jika manusia ingin selamat dunia dan akhirat.














